CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA

CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA.

.

Ivan Taniputera.

28 September 2016

.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai bagaimana menentukan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa. Kemungkinan banyak yang masih bingung dalam menggunakan Primbon Jawa. Meskipun demikian, jika kita mengetahui urutan atau algoritma dalam mencarinya, maka hal itu tidaklah sulit. Kit akan membandingkan pula dengan primbon-primbon lainnya, dimana terdapat perbedaan-perbedaan. Artikel ini juga bertujuan melestarikan budaya warisan leluhur, mengingat primbon-primbon adalah warisan budaya bangsa.

.

Dalam menentukan hari baik pernikahan menurut Primbon Jawa, maka prinsipnya adalah dari “yang lebih besar ke kecil.” Artinya adalah dari cakupan waktu yang lebih besar terlebih dahulu, kemudian semakin kecil. Dalam hal ini kita mulai dari tahun menurut windu. Berdasarkan perhitungan Jawa, terdapat delapan nama tahun; yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Kita akan mencoret hari yang buruk satu persatu berdasarkan urutan kriteria-kriteria di bawah ini.

.

A. PEMILIHAN BULAN

.

Menurut Primbon Jawa terdapat bulan-bulan yang buruk berdasarkan masing-masing tahun di atas. Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip, bulan 1 (Sura)
  • Ehe, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Jimawal, bulan 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Je, bulan 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 9 (Pasa), dan 12 (Besar)
  • Dal, bulan 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 9 (Pasa), dan 10 (Sawal)
  • Be, bulan 6 (Jumadilakir) dan 12 (Besar)
  • Wawu, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), dan 9 (Pasa)
  • Jimakir, bulan 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 10 (Sawal), dan 12 (Besar)

.

Jadi jika pernikahan hendak dilangsungkan pada tahun Ehe, maka bulan 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 kita coret.

.

Selain itu, masih ada kriteria lain, bulan yang tidak terdapat hari Selasa Kliwon (Anggarakasih), dimana bulan-bulan itu tidak boleh diselenggarakan bagi pernikahan.

.

  • Alip, bulan Jumadilakir, Besar.
  • Ehe, bulan Rejeb
  • Jimawal, bulan Sura dan Ruwah
  • Je, bulan Sapar dan Ruwah
  • Dal, bulan Mulud dan Pasa
  • Be, bulan Jumadilawal
  • Wawu, bulan Rabingulakir dan Dulkangidah
  • Jimakir, bulan Jumadilawal.

.

Jadi pada tahun Ehe, setiap bulan Rejeb akan kita coret.

Terdapat bulan yang terbaik dalam masing-masing tahun. Jika memungkinkan pernikahan diselenggarakan pada bulan-bulan berikut.

.

  • Alip, bulan 9 (Pasa) dan 11 (Dulkaidah)
  • Ehe, bulan 4 (Bakdamulud), 9 (Pasa), 1 1 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimawal, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), dan 12 (Besar)
  • Je, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 10 (Sawal), dan 11 (Dulkaidah)
  • Dal, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 8 (Ruwah), dan 11 (Dulkaidah)
  • Be, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), dan 7 (Rejeb)
  • Wawu, bulan 1 (Sura), 10 (Sawal), 11 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimakir, bulan 1 (Sura) dan 11 (Dulkaidah).

.

Jika memungkinkan, bulan-bulan di atas boleh dipilih. Namun bulan-bulan yang tidak tergolong buruk walaupun bukan terbaik, boleh dipilih.

.

Masih terdapat lagi apa yang disebut Larangan Sasi, yakni bulan yang kurang baik pada masing-masing tahun.

.

  • Alip: bulan Jumadilakir dan Dulkaidah.
  • Ehe: bulan Rabingulawal dan Pasa
  • Jimawal: Mulud dan Besar
  • Je: Sura dan Sawal
  • Dal: Ruwah
  • Be: Sapar dan Rejeb
  • Wawu: Jumadilawal
  • Jimakir: Sura dan Dulkaidah.

.

Anehnya terdapat kontradiksi sini, pada tahun Alip menurut daftar sebelumnya bulan Dulkaidah dianggap baik; tetapi berdasarkan Larangan Sasi, bulan tersebut dianggap buruk. Oleh karenanya, jika hendak menggunakan juga kriteria Larangan Sasi, maka bulan Dulkaidah juga perlu dicoret.

.

B. PEMILIHAN HARI.

.

 

Selanjutnya Primbon Jawa, terdapat hari Saptawara (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, serta Minggu) dan Pancawara (Pon, Wage, Kliwon, Legi, serta Pahing).

.

Berikut ini terdapat hari yang sudah sifatnya jelek, dibagi menjadi hari jelek dan sangat jelek.

  • Hari jelek: Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, Senin Legi, dan Kamis Wage.
  • Hari sangat jelek: Rabu Lebi, Minggu Pahing, Kamis Pon, Selasa Wage, dan Sabtu Kliwon.

.

Hari-hari di atas perlu kita coret terlebih dahulu.

 

Selanjutnya terdapat hari yang kurang baik dalam masing-masing tahun tersebut. Hari-hari yang kurang baik itu disebut kunarpaning warsa (kita singkat “k”) dan sangaring warsa (kita singkat “s”). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip: Sabtu Pahing (k) dan Jum’at Legi (s)
  • Ehe: Kamis Pahing (k) dan Selasa Kliwon (s)
  • Jimawal: Senin Pagi (k) dan Minggu Kliwon (s)
  • Je: Jumat Legi (k) dan Kamis Wage (s)
  • Dal: Rabu Kliwon (k) dan Senin Pon (s)
  • Be: Minggu Wage (k) dan Sabtu Legi (s)
  • Wawu: Kamis Pon (k) dan Rabu Pahing (s)
  • Jimakir: Selasa Pon (k) dan Minggu Legi (s).

.

Jadi, jika ingin menyelenggarakan pernikahan pada tahun Ehe, maka kita mengutamakan bulan yang baik, yakni 4, 9, 11, dan 12. Namun bulan-bulan selain 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 boleh digunakan; hanya saja yang terbaik adalah 4, 9, 11, dan 12.

.

Kita mencoret setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon pada bulan 4, 9, 11, dan 12.

.

Lebih jauh lagi, pada masing-masing bulan terdapat hari-hari yang baik bagi berbagai kegiatan. Hari-hari tersebut digolongkan menjadi Sasi Rahaju (disingkt r) dan Sasi Sardju (dsingkat sa). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Besar (12), Sura (1), dan Sapar (2): Rabu dan Kamis (r), Jumat (sa).
  • Mulud (Rabingulawal, 3), Rabingulakir (4), Jumadilawal (5): Jumat (r), Sabtu dan Minggu (sa).
  • Jumadilakir (6), Rejeb (7), Ruwah (8): Sabtu dan Minggu (r); Senin dan Selasa (sa).
  • Pasa (9), Sawal (10), Dulkaidah (11): Senin dan Selasa (r); Rabu dan Kamis (sa).

.

Oleh karenanya, pada tahun Ehe, setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon, bulan 4, 9, 11, dan 12 sudah kita coret. Apabila dipilih bulan ke 4, maka dapat dipilih Jumat, Sabtu, dan Minggu.

.

Primbon Jawa juga masih mempunyai apa yang dinamakan hari Taliwangke, yang buruk pada masing-masing bulan.

  • Sura: Rabu Pahing
  • Sapar: Kamis Pon
  • Rabingulawal: Jumat Wage
  • Rabingulakir: Sabtu Kliwon
  • Jumadilawal: Senin Kliwon
  • Jumadilakir: Selasa Legi
  • Rejeb: Rabu Pahing
  • Ruwah: Kamis Pon
  • Pasa: Jumat Wage
  • Sawal: Sabtu Kliwon
  • Dulkaidah: Senin Kliwon
  • Besar: Selasa Legi

.

Kini kita tiba pada pemilihan hari berdasarkan Wuku.

.

  • Terdapat hari Taliwangke atau hari buruk berdasarkan Wuku: Wuye, hari Senin Kliwon; wuku Wayang hari Selasa Legi; wuku Landep hari Rabu Pahing; wuku Warigalit hari Kamis Pon; wuku Kuningan hari Jumat Wage; wuku Kuruwelut hari Sabtu Kliwon.
  • Selain Taliwangke terdapat lagi hari Samparwangke yang juga kurang baik. Penentuannya juga didasari Wuku: Warigalit hari Senin Kliwon; Bala hari Senin Legi; Langkir hari Senin Pahing; Sinta hari Senin Pon; Tambir hari Senin Wage.

.

C. PEMILIHAN TANGGAL

 

Kita beralih pada tanggal-tanggal yang buruk pada masing-masing bulan.

  • Sura: 17, 27, 11, dan 14
  • Sapar: 19, 22, 1, dan 20
  • Rabingulawal: 13, 23, 10, dan 15
  • Rabingulakir: 15, 25, 10, dan 20
  • Jumadilawal: 16. 26, 10, dan 11
  • Jumadilakir: 11, 21, 3, dan 14
  • Rejeb: 12, 22, 11, dan 12
  • Ruwah: 14, 24, 19, dan 28
  • Pasa: 15, 25, 10, dan 20
  • Sawal: 17, 27, 2, dan 20
  • Dulkaidah: 11, 21, 6, dan 12
  • Besar: 13, 23, 1, dan 20.

.

Tanggal di atas pada masing-masing bulan harus dicoret.

.

Namun masih ada kriteria-kriteria lainnya.

.

Terdapat apa yang disebut tanggal naas pada masing-masing bulan:

.

  • Sura, tanggal 11 dan 6.
  • Sapar, tanggal 1 dan 20.
  • Rabingulawal, tanggal 10 dan 20.
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20.
  • Jumadilawal, tanggal 1 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 2 dan 14
  • Ruwah, tanggal 12 dan 13
  • Pasa, tanggal 9 dan 20
  • Sawal, tanggal 10 dan 20
  • Dulkaidah, tanggal 12 dan 13
  • Besar, tanggal 6 dan 10.

.

Terdapat pula kriteria tanggal sangar pada masing-masing bulan”

.

  • Sura, tanggal 13
  • Sapar, tanggal 10
  • Rabingulawal, tanggal 8
  • Rabingulakir, tanggal 28
  • Jumadilawal, tanggal 28
  • Jumadilakir, tanggal 18
  • Rejeb, tanggal 18
  • Ruwah, tanggal 26
  • Pasa, tanggal 24
  • Sawal, tanggal 2
  • Dulkangidah, tanggal 28
  • Besar, tidak ada.

.

Masih ada lagi kriteria yang disebut Bangas Padewan. Tanggal-tanggal ini juga tidak boleh dipergunakan bagi pernikahan:

.

  • Sura, tanggal 11
  • Sapar, tanggal 20
  • Rabingulawal, tanggal 1 dan 15
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20
  • Jumadilawal, tanggal 10 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 13 dan 27
  • Ruwah, tanggal 4 dan 28
  • Pasa, tanggal 7 dan 20
  • Sawal, tanggal 10
  • Dulkangidah, tanggal 2 dan 22
  • Besar, tanggal 6 dan 20

.

Berikut ini adalah hari-hari naas yang hanya terdapat di bulan-bulan khusus saja dan disebut naas para nabi: Sura, tanggal 13; Rabingulawal, tanggal 3; Rabingulakir, tanggal 16; Jumadilawal, tanggal 5; Pasa, tanggal 21; Dulkangidah, tanggal 24; Besar, tanggal 25.

.

D. PEMILIHAN JAM

.

Berikut ini adalah jam-jam yang baik, berdasarkan tanggal:

1, 6, 11, 16, 21, 26: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11 (biasa), jam 1.12-3.35

2, 7, 12, 17, 22, 27: jam 8.24-10.17 (biasa), 10.18-1.11, 3.36-5.59

3, 8, 13, 18, 23, 28: jam 6-8.23 (biasa), 8.24-10.17, 1.12-3.35

4, 9, 14, 19, 24, 29: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11, 3.36-5.59 (biasa)

5. 10, 15, 20, 25, 30: jam 8.24-10.17, jam 1.12-3.35 (biasa), jam 3.36-5.59.

.

Jam yang baik berdsarkan pasaran:

  • Legi: jam 6-10.17
  • Pahing: jam 6-1.11
  • Pon: jam 6-8.23, 1.12-5-59
  • Wage: jam 10.18-5.59
  • Kliwon: jam 8.24-3.35

.

Demikianlah alur pemilihan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa, yang dalam hal ini diambil dari Primbon Betaljemur.

.

E. PERBANDINGAN DENGAN PRIMBON LAIN

.

Kita akan membandingkannya dengan Primbon lain.

.

Primbon Sabda Guru (halaman 37), juga memuat daftar yang hampir sama terkait kunarpaning warsa dan sangaring warsa. Hanya saja terdapat satu perbedaan dengan Primbon Betaljemur, yakni sangaring warsa pada tahun Be. Primbon Betaljemur mencantumkan Sabtu Legi (halaman 6), sedangkan Primbon Sabda Guru mencantumkan Sabtu Pon. Apakah kemungkinan ini adalah salah cetak? Perbedaan lain, adalah pada bulan yang tidak ada hari Anggara Kasihnya. Primbon Betaljemur mencantumkan Jumadilawal, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 33) mencantumkan Rabingulakir. Tanggal naas para nabi juga terdapat satu perbedaan saja, yakni bulan Besar, Primbon Betaljemur mecantumkan 5, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 35) mencantumkan 5.

.

Anehnya, Primbon Pusaka Guru, halaman 55-56 justru memuat hari baik dan buruk yang berkebalikan dengan Primbon Betaljemur. Jadi, jika Primbon Betaljemur menyatakan bahwa pada tahun Alip bulan Sura adalah buruk, maka Primbon Pusaka Guru justru menyatakan baik.

Primbon Puspa Wahju memiliki perhitungan berbeda, terkait hari-hari buruk. Sebagai contoh:

.

Sawal: Jumat Wage, Sabtu, dan Minggu, Jumat disebut Sangar bulan. Tanggal yang buruk adalah 2 dan 10.

.

Dengan demikian, terjadi perbedaan di sini. Oleh karenanya, hal ini perlu mendapatkan penelitian lebih lanjut. Barangkali para pakar primbon perlu berkumpul dan meneciptakan suatu primbon standar. Kesalahan-kesalahan lama perlu diperbaiki.

.

DAFTAR PUSTAKA.

.

Handanamangkara, SPH. Primbon Djawa Sabda Guru, Penerbit/ Toko buku KS, Solo, 1970.

Harja Tjakraningrat, Kangdjeng Pangeran Harja Tjakraningrat. Kitab Primbon Betal Djemur, Soemodidjojo Mahadewa, —–.

———–. Primbon Puspa Wahju, Gajabaru, Surabaja, 1953.

Sastrahandaja, Ki. Primbon Pusaka Guru, Muria, Kudus, 1954.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339… . . . . . . .

 

.

 

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

JIMAT PENANGKAL HAMA DI SAWAH

JIMAT PENANGKAL HAMA DI SAWAH.

.

Ivan Taniputera.

31 Agustus 2016.

.

Berikut ini adalah jimat penangkal hama di sawah yang didapat dari Primbon Mujarobat.

.

 
 

Jimat ini boleh digambar pada sehelai kain atau kertas dan ditanam di tengah sawah.

Nampak jimat ini bertuliskan angka-angka Arab. Pada baris pertama tertulis 4, 2, dan 4. baris kedua tercantum 2, 8, dan 1. Baris ketiga tertulis 4, 2, dan 5.

Jika kita jumlahkan secara mendatar, maka angka-angka pada baris pertama akan menghasilkan 10. Baris kedua menghasilkan 11. Baris ketiga menghasilkan 11.

Angka-angka paling kiri jika dijumlahkan secara menurun akan menghasilkan 10. Bagian tengah akan menghasilkan 12 dan baris paling kanan menghasilkan 10.

Jikalau kita jumlahkan menyilang ke kanan, akan didapatkan 17. Bila kita jumlahkan menyilang ke kiri, akan didapatkan 16.

.

Oleh karenanya, angka-angka di atas tidak bersifat seperti bujur sangkar ajaib, dimana angka-angkanya pada setiap baris, baik mendatar, menurun, atau menyilang bila dijumlahkan akan memperoleh hasil yang sama.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . 

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

PENGARUH AGAMA HINDU BUDDHA DALAM MANTRA-MANTRA JAWA

PENGARUH AGAMA HINDU BUDDHA DALAM MANTRA-MANTRA JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 Juli 2016

.

Belakangan ini saya gemar mengoleksi banyak buku Primbon. Ternyata ini merupakan kepustakaan berharga dalam meneliti jejak-jejak pengaruh Hindu Buddha dalam mantra-mantra berbahasa Jawa.

.

Berikut ini adalah kutipan Mantra Sri Sadono:

.

“ Ingsun amatek ajiku si Sri Sadono, Hyang Kuwera dewaning kasugihan, Sri Sadono kang andum sandhang pangan, nyuwun gampang pados kulo sandhang tedho. Sarinane sawengine salawase gesang, gampang tekane slamet anggone lan gawe ayune sakabeh.”

.

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

.

“Aku menjalankan ilmu Sri Sadono, Hyang Kuvera merupakan dewa kekayaan. Sri Sadono yang membagikan sandang pangan (harafiah: pakaian dan makanan; maksudnya rejeki atau penghidupan). Aku memohon agar mudah mencari sandang pangan. Setiap hari dan setiap malam selama hidup ini. Mudah memperoleh keselamatan dalam menaburkan kesejahteraan bagi semuanya.”

.

Nampak pada mantra di atas disebutkannya nama Kuvera, yakni dewa kekayaan dalam tradisi Hindu Buddha. Sri Sadono mengacu pada Dewi Sri atau Srimahadevi yang disebutkan dalam Sutra Suvarnabhasotama (Sutra Cahaya Keemasan).

.

Beberapa mantra Jawa, menggunakan pembukaan “Hong” yang berasal dari “Om.” Contohnya adalah Aji Wimo Nosoro: “Hong, ingsun amatak ajiku sirep Wimonosoro,…..”

.

Mantra “Hong Wilaheng” juga umum dalam beberapa mantra Jawa, sebagai contoh adalah Aji Sirep Begonondo yang bertujuan menidurkan orang (ilmu sirep):

“Hong wilaheng. Niat Ingsun matak ajiku. Aji Sirep Begonondo. Aji Petinggengan soko Ajisoko….”

.

Ternyata Hong Wilaheng ini berada dari mantra Bodhisattva Manjushri, yakni “Om Avira Hum.” Bodhisattva Manjushri adalah makhluk suci dalam Agama Buddha Mahayana yang mewakili aspek kebijaksanaan Kebuddhaan. Kendati demikian, pada Aji Sirep Begonondo, mantra Manjushri itu digunakan untuk suatu keperluan yang tidak ada hubungannya dengan kebijaksanaan.

.

Berikut ini adalah mantra penghapus kemarahan lawan:

“….Sang Kama dadi aku, Sang Kama wurung si…….”

.

Pada mantra ini terdapat penyebutan nama Kama, yakni dewa cinta kasih dalam tradisi Hindu.

.

Sebagai tambahan, semasa kecil saya pernah mendengar mengenai ilmu rajah Kalacakra yang menurut tradisi Jawa berbunyi sebagai berikut: “Yamaraja Jaramaya. Yamarani Niramaya. Yasilapa Palasiya. Yamidara Radamiya. Yamidasa Sadamiya. Yadayuda Dayudaya. Yasiyaca Cayasiya. Yasihama Mahasiya.”

.

Ternyata, mantra ini sangat dekat dengan mantra Yamantaka dalam tradisi Agama Buddha Tantrayana: “Yamaraja Sadomeya Yamedoru Nayodaya Yadayoni Rayaksheya Yaksheyaccha Niramaya Hum Hum Phat Phat Svaha.” (sumber: http://www.yamantaka.org/index.php/2-uncategorised/215-mantra-recitation).

.

 

.

Jika kita perhatikan dengan seksama terdapat kata-kata yang mirip, seperti Yamaraja, Sadomeya dan Sadamiya, Niramaya, serta Yamedoru dan Yamidara. Oleh karenanya, pengaruh Mantra Yamantaka pada ilmu rajah Kalacakra tidak dapat dipungkiri lagi.

.

Berdasarkan contoh-contoh di atas, nampak bahwa jejak-jejak pengaruh Hindu Buddha masih dapat dijumpai dalam berbagai mantra Jawa.

.

DAFTAR BACAAN:

 

Anawati WS, Oni. Primbon Jopo Montro/ Jawa-Arab Lengkap, Bintang Usaha Jaya, Surabaya, 2003.

.

Haroemdjati. Poestaka Radja Mantra-Yoga: Ilmoe Kesaktian Gaib Berikoet Berbagi bagi Mantra, Boekhandel Kartti Dharma, Toeloengagoeng, 1936.

.

Ki Sastrahandaja. Pustaka Pandita Guru (Primbon Gaib Djapa Mantra), Usaha Penerbitan Muria, Kudus, 1955.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . 

.

BUKU PUSAKA KRATON TANAH JAWA YANG LUAR BIASA MENGENAI PENGOBATAN TRADISIONAL DAN ILMU RAMALAN

BUKU PUSAKA KRATON TANAH JAWA YANG LUAR BIASA MENGENAI PENGOBATAN TRADISIONAL DAN ILMU RAMALAN

.

Ivan Taniputera.

15 Juni 2016.

.

 
 

.

Judul: Poesaka Kraton Tanah Djawa: Djilid Pertama Boekoe Pantja Warna

Terdapat keterangan: Terisi dengan segala pengetahoean oemoem jang banjak terpake menoeroet adat istiadat dari bangsa Boemipoetra sedari dzaman doeloe kala.

Penulis: Tidak diketahui.

Penerbit: Astrologisch Bureau “Aquarius,” Semarang, sekitar tahun 1920-1930-an.

Jumlah halaman: 109.

.

Buku ini berisikan beragam hal yang ada kaitannya dengan kepercayaan tradisional Jawa, seperti mencari hari baik dan buruk, meramalkan nasib seseorang berdasarkan aksara Jawa (hanacaraka) paling depan serta paling belakang nama seseorang, makna pranata mangsa, tabiat wanita berdasarkan namanya, ilmu pengobatan tradisiona, dan metoda ramal dengan dadu.

.

Lalu terdapat pula selamatan menurut hari kelahiran (weton) seseorang, misalnya orang yang lahir pada Djoemat Legi, maka selamatannya adalah:

.

“Toempeng megono pake goedangan (djanganan),,,,,,” (halaman 47).

.

Selanjutnya terdapat pula metoda ramalan dengan menggunakan dadu.

.

Berikut ini adalah daftar isinya:

.

 

 

.

 
 

.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

 

 

.

 
 

.

 

.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

.

Ivan Taniputera.

15 Juni 2016

.

 
 

.

Ini merupakan metoda ramalan cukup sederhana yang diambil dari pustaka Primbon Jawa. Gunanya untuk meramalkan apakah pekerjaan dan rencana Anda akan berhasil atau tidak.

.

Caranya adalah dengan mengambil segenggam kerikil atau biji-bijian (boleh kacang hijau, kecik atau biji sawo, beras, jagung, dan lain sebagainya). Sebelum mengambilnya silakan memusatkan pikiran pada pertanyaan Anda dan berdoa sesuai agama beserta keyakinan masing-masing. Selanjutnya pisahkan kerikil atau biji-bijian tersebut menjadi tujuh-tujuh bagian hingga sisanya kurang dari tujuh dan dihitung berapa sisanya. Berikut ini adalah makna masing-masing jumlah yang tersisa.

.

Jika tidak ada yang tersisa (sisa 0), maka disebut Bintang Buda (Merkurius). Ini berarti bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu dapat menuai keberhasilan, dimana kesuksesan tersebut berasal dari tekad kuat beserta tanggung jawab Anda. Oleh karenanya, Anda disarankan lebih bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh agar pekerjaan serta cita-cita Anda tercapai.

.

Jika bersisa satu, maka disebut Bintang Sukra (Venus). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu akan menuai keberhasilan dengan mudah. Meski ramalan menyatakan demikian, Anda disarankan tetap waspada dan jangan lengah.

.

Jika bersisa dua, maka disebut Bintang Anggara (Mars). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu tidak akan membuahkan hasil atau gagal karena terdapat hambatan yang menghadang.

.

Jika bersisa tiga, maka disebut Bintang Raditya (Matahari). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan berhasil dengan sempurna.

.

Jika bersisa empat, maka disebut Bintang Tumpak (Saturnus). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan tidak dapat berhasil. Meskipun bekerja keras, namun akhirnya tetap akan menuai kegagalan.

.

Jika bersisa lima, maka disebut Bintang Respati (Yupiter). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai hambatan. Kendati demikian, jika bekerja keras mengupayakannya tetap akan menuai keberhasilan.

.

Jika bersisa enam, maka disebut Bintang Soma (Bulan). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai keberhasilan sebagaimana diharapkan.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA

ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA.

.
Ivan Taniputera.
29 Mei 2016
.
Pada kesempatan kali ini saya ingin menggali mengenai astronomi dan penanggalan Nusantara kuno. Tujuannya adalah mengenali kembali pengetahuan astronomi dan astrologi di negeri kita semasa Hindu Buddha. Salah satu sumber utama dalam mempelajari hal itu tentu saja adalah prasasti. Oleh karenanya, kita akan mencoba menelaah anasir-anasir penanggalan pada berbagai prasasti.
.
Pertama-tama kita akan menelaah prasasti Tugu yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Isinya mengenai penggalian terusan atas perintah Raja Purnawarman. Anasir penanggalan yang tercantum pada prarasti tersebut adalah sebagai berikut:
.
“…parabhya phalgune mase khata krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam …”
Terjemahannya adalah:
.
“…Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra….” (Sejarah Nasional Indonesia, jilid II, halaman 42).
.
Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa itu telah digunakan perhitungan kalender India. Pada prasasti di atas disebut nama dua bulan (disebut Masa dalam perhitungan India) dalam penanggalan India, yakni Phalguna dan Caitra. Krsnamitithau dan sukla pada “caitrasukla” itu mengacu pada paksha (paruhan bulan lunar atau berdasarkan peredaran rembulan), yakni Krishnapaksha dan Shuklapaksha. Kita akan membahasnya belakangan. 
.
Nama-nama bulan (Masa) selengkapnya menurut penanggalan India adalah:
.
1.Chaitra (Caitra).
2.Vaisakha
3.Jyestha
4.Asadha
5.Sravana
6.Bhadrapada, Bhadra atau Prosthapada
7.Asvina
8.Kartika.
9.Mrgasira (Margasirsa)
10. Pausa
11.Magha
12.Phalguna
.
Kita dapat mengetahui pula bahwa pada zaman itu awal pengerjaan suatu proyek sudah didasari oleh perhitungan hari baik dan buruk.
.
Prasasti lain, yakni Pasir Muara menyebutkan mengenai angka tahun, yakni
“kawihaji panyca pasagi.” Ini mengacu pada tahun 854 Saka. Oleh karenanya, ini kembali memperlihatkan bukti penggunaan sistim perhitungan tahun India.
.
Pada prasasti Tulangair yang berasal dari tahun 772 terdapat anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Sri-swasti-sakawarsatita 772 asadamasa tihti dwitya suklapaksa-tu-pa-a-…..”(Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 52)
.
Prasasti yang baru saja disebutkan itu memuat anasir penanggalan India yang lebih rumit. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini akan dibahas sedikit mengenai perhitungan penanggalan India yang cukup rumit.
Asadamasa mengacu pada bulan Asadha, yakni bulan keempat menurut penanggalan India.
.
Tihti atau tithi adalah hari bulan yang mengacu pada pergerakan bulan setiap 12 derajat dari matahari. Secara keseluruhan terdapat 30 tithi, yang masing-masing mempunyai makna baik dan buruk. Waktu berlangsungnya masing-masing tithi adalah sekitar 26 jam.
Ketigapuluh Tithi ini masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni paruh bulan gelap (Krishnapaksha) dan paruh bulan terang (Shuklapaksha). Masing-masing bagian terdiri dari 15 hari.
.
Adapun daftar masing-masing Tithi adalah sebagai berikut.
.
A. PARUH BULAN GELAP (KRISHNAPAKSHA)
.
1.Prathama atau Pratipada (Pertama atau boleh diterjemahkan tanggal satu), dewa penguasanya adalah Agni. Hari ini baik untuk upacara-upacara keagamaan.
2.Dwitiya (Kedua), dewa penguasanya adalah Vidhatr atau Brahma. Hari baik untuk meletakkan landasan (fondasi) suatu bangunan atau menentukan sesuatu yang sifatnya tetap.
3.Tritiya (Ketiga), dewa penguasanya adalah Gauri. Hari baik untuk memotong rambut, janggut, dan kuku.
4.Chaturthi (Keempat), dewa penguasanya adalah Yama atau Ganapati. Hari baik untuk memerangi musuh atau memecahkan masalah beserta hambatan.
5.Panchami (Kelima), dewa penguasanya adalah Naga. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pengobatan.
6.Shashthi (Keenam), dewa penguasanya adalah Karttikeya. Hari baik untuk menobatkan raja, pesta, dan perayaan.
7.Saptami (Ketujuh), dewa penguasanya adalah Surya. Hari baik untuk perjalanan.
8.Ashtami (Kedelapan), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan persenjataan dan membangun perkubuan.
9.Navami (Kesembilan), dewa penguasanya adalah Ambika. Hari baik untuk menghancurkan musuh, meruntuhkan bangunan, atau segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pembongkaran. Tidak baik untuk perjalanan dan perayaan.
10. Dasami (Kesepuluh), dewa penguasanya adalah Dharmaraja. Hari baik untuk beramal dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan spiritual atau keagamaan.
11.Ekadasi (Kesebelas), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk upacara keagamaan.
12.Dwadasi (Keduabelas), dewa penguasanya adalah Vishnu atau Aditya. Hari baik untuk upacara puja api (agnihotra atau homa) dan upacara keagamaan.
13.Trayodasi (Ketigabelas), dewa penguasanya adalah Kama. Hari baik untuk menjalin hubungan asmara dan persahabatan beserta perayaan.
14.Chaturdasi (Keempatbelas), dewa penguasanya adalah Kali. Hari baik untuk menangani sesuatu yang beracun dan kegiatan ilmu gaib.
15.Amavasya (Bulan Baru), dewa penguasanya adalah para Pitru. Hari baik untuk menjalankan upacara-upacara keagamaan.
.
B.PARUH BULAN TERANG (SHUKLAPAKSHA)
.
Tanggal 1 dan 14 nama, dewa penguasa, dan kegunaannya sama dengan Paruh Bulan Gelap. Hanya saja hari kelima belas disebut Purnima atau Paurnami, yang berarti Bulan Purnama atau Terang Bulan.
.
 
.
Kita akan kembali pada prasasti Tulangair di atas. Tujuan dikeluarkannya prasasti Tulangair di atas adalah menetapkan batas-batas desa Tulangair. Prasasti tersebut dikeluarkan pada tangal Dwitiya, yang menurut kepercayaan baik sekali untuk menentukan sesuatu bersifat tetap. Ini memperlihatkan bahwa penggunaan tithi memang selaras dengan perhitungan hari baik sebagaimana baru saja kita ulas.
.
Selanjutnya pada prasasti Tugu: “krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam .”
.
Krsna mengacu pada Krsna pada Krishnapaksha atau Paruh Bulan Gelap. Tasmi mengacu pada Ashtami atau tanggal delapan. Hari baik untuk membangun perkubuan. Oleh karenanya, kita boleh menduga bahwa pembangunan saluran air yang diperintahkan oleh Raja Purnawarman itu ada kaitannya dengan pertahanan negaranya. Sukla merupakan singkatan Shuklapaksha dan Trayodasyam mengacu pada tanggal ketigabelas menurut perhitungan Tithi. Tanggal ketiga belas itu baik untuk menjalin persahabatan dan perayaan. Sehingga sangat mungkin selesainya penggalian terusan itu dirayakan dengan sebuah pesta.
.
Perhitungan Tithi ini cukup rumit, karena masa berlangsungnya tidak sama, yakni bervariasi antara 19 hingga 26 jam. Untuk menghitungnya diperlukan pengetahuan astronomis mengenai pergerakan rembulan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa para leluhur Nusantara dahulu telah mempunyai pengetahuan ilmu perbintangan (astronomi) yang luar biasa.
.
“Tu-pa-a” pada prasasti Tulangair merupakan singkatan bagi “Tungle-Pahing-Aditya.”
.
Tungle adalah bagian perhitungan yang disebut paringkelan dan terdiri dari enam (sadwara); yakni:
1.Tungle
2.Aryang
3.Urukung
4.Paniron (Paniruan atau Panirwan)
5.Was
6.Mahulu
(Lihat: Prembon Bali Agung, halaman 17-18).
Perhitungan Sadwara kini tidak begitu dikenal lagi di Jawa, tetapi masih tercantum dalam Primbon-primbon Bali. Berdasarkan namanya, nampak bahwa paringkelan ini merupakan perhitungan asli Nusantara.
.
Pahing merupakan bagian perhitungan yang disebut pancawara dan terdiri dari lima’ yakni:
.
1.Pon
2.Wage
3.Kaliwuan (Kliwon)
4.Umanis (Legi)
5.Paling
.
Perhitungan Pancawara ini juga masih populer hingga sekarang di Jawa.
.
Aditya merupakan nama tujuh hari (saptawara) menurut perhitungan India, yakni:
.
1.Aditya.
2.Soma.
3.Anggara.
4.Budha
5.Wrhaspati
6.Sukra
7.Saniscara.
.
Ketujuh hari ini, dapat disamakan dengan tujuh hari yang kita kenal, yakni Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
.
Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa susunan (format) pencantuman nama-nama hari pada prasasti adalah: Sadwara-Pancawara-Saptawara.
Kini kita beralih pada prasasti Kedukan Bukit yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu meriwayatkan perjalanan Dapunta Hyang yang berangkat dari Minanga pada tanggal 7 (Saptami) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Jyestha (bulan ketiga penanggalan India), tahun 604 Saka (682 Masehi). Nampak bahwa keberangkatan itu dilakukan pada tanggal Saptami yang baik bagi perjalanan. Jadi ini sekali membuktikan kesesuaian dengan perhitungan hari baik bagi suatu kegiatan sesuai dengan daftar di atas. Kurang lebih sebulan sebelumnya, pada tanggal 11 (ekadasi) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Vaisakha Beliau mengadakan upacara manalap siddhayatra. Ini nampaknya merupakan suatu upacara keagamaan, karena hari tersebut memang baik bagi upacara keagamaan.
.
Pada prasasti Kudadu dapat kita baca anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Swasti sakawarsatita 1216 bhadrapadamasa-tithi pancami krsnapaksa-ha u sa-wara madangkungan bayabyastha grahacara rohininaksatra prajapatidewata mahendra mandalasiddhiyoga wairajyamuhurta yamaparwwega taitilakarana…..” (Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 53).
.
Nampak bahwa prasasti itu dikeluarkan pada tahun 1216 Saka. Bhadrapadamasa mengacu pada bulan Bhadrapada (bulan keenam penanggalan India). Tithi Pancami Krsnapaksa mengacu pada tanggal kelima Paruh Bulan Gelap.
.
Ha u sa mengacu pada perhitungan Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Saptawara; yakni Aryang (Ha)-Umanis (U) dan Saniscara (Sa).
.
Madangkungan itu merupakan wuku saat itu dalam perhitungan 30 wuku (Pawukon). Adapun nama-nama Wuku adalah: (1)Sinta, (2)Landep, (3)Wukir, (4)Kurantil, (5)Tolu, (6) Gumbreg, (7) Warigalit, (8) Warigagung, (9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) Galungan, (12) Kuningan, (13) Langkir, (14) Mandasia, (15) Julungpujut, (16) Pahang, (17) Kuruwelut, (18) Marakeh, (19) Tambir, (20) Madangkungan, (21) Maktal, (22) Wuye, (23) Manail, (24), Prangbakat, (25) Bala, (26) Wugu, (27) Wayang, (28) Kulawu, (29) Dukut, dan (30) Watugunung. Ini merupakan perhitungan waktu khas Nusantara dan tidak terdapat di India. Satu wuku berlangsung selama 7 hari.
.
Grahacara menyatakan kedudukan matahari di langit dan mengacu gerak semu matahari dalam sehari (24 jam) yang seolah-olah dianggap mengelilingi bumi (geosentris). Karena terdapat delapan Grahacara, maka satu Grahacara lamanya 3 jam atau 24 jam dibagi 8:
.
 
.
1.Uttara atau Uttarastha mengacu pada penjuru utara; pukul 10.30-13.30.
2.Daksina atau Daksinastha mengacu pada penjuru selatan; pukul 22.30-01.30.
3.Pascima atau Pascimastha mengacu pada penjuru barat; pukul 16.30-19.30.
4.Purva atau Purvastha mengacu pada penjuru timur; pukul 04.30-07.30.
5. Isanya atau Isanyastha mengacu pada penjuru timur laut; pukul 07.30-10.30.
6. Agneya atau Agneyastha mengacu pada penjuru tenggara; pukul 01.30-04.30.
7.Bayabya/ Vayavya atau Bayabyastha mengacu pada penjuru barat laut; pukul 13.30-16.30.
8.Nairrtya atau Nairryastha mengacu pada penjuru barat daya; pukul 19.30-22.30.
.
Jadi bayabyastha pada prasati Kudadu di atas mengacu pada pukul 13.30-16.30.
.
Rohini merupakan nama salah satu di antara 27 Naksatra. Ini berarti bahwa prasasti itu dikeluarkan saat bulan berada di Rohini. Adapun nama-nama bagi 27 Naksatra itu adalah:
(1) Ashwini setara dengan 26° Aries – 9°20′ Taurus. Dewa penguasa: Ashwin.
(2) Bharani setara dengan 9° 20′ – 22° 40′ Taurus. Dewa penguasa: Yama.
(3) Krittika setara dengan 22° 40′ Taurus – 6° Gemini. Dewa penguasa: Agni.
(4) Rohini setara dengan 6° – 19°20′ Gemini. Dewa penguasa: Prajapati.
(5) Mrigashira setara dengan 19°20′ Gemini – 2°40′ Cancer. Dewa penguasa: Soma.
(6) Ardra setara dengan 2° 40′ – 16° Cancer. Dewa penguasa: Rudra.
(7) Punarvasu setara dengan 16° – 29°20′ Cancer. Dewa penguasa: Adithi.
(8) Pushya setara dengan 29°20′ Cancer – 12°40′ Leo. Dewa penguasa: Brihaspathi atau Guru.
(9) Ashlesha setara dengan 12°40′ – 26° Leo. Dewa penguasa: para Naga
(10) Magha setara dengan 26° Leo – 9°20′ Virgo. Dewa penguasa: Pitri.
(11) Purva Phalguni setara dengan 9°20′ – 22°40′ Virgo. Dewa penguasa: Shiva Mahadewa.
(12) Uttara Phalguni setara dengan 22°40′ Virgo – 6° Libra. Dewa penguasa: Aryaman.
(13) Hasta setara dengan 6° – 19°20′ Libra. Dewa penguasa: Aditya.
(14) Chitra setara dengan 19°20′ Libra – 2°40′ Scorpio. Dewa penguasa: Twasthri
(15) Swati setara dengan 2°40′ – 16° Scorpio. Dewa penguasa: Vayu
(16) Visakha setara dengan 16° – 29°20′ Scorpio. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(17) Anuradha setara dengan 29°20′ Scorpio – 12°40′ Sagittarius. Dewa penguasa: Mitra
(18) Jyeshtha setara dengan 12°40′ – 26° Sagittarius. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(19) Mula setara dengan 26° Sagittarius – 9°20′ Capricorn. Dewa penguasa: Nirrti.
(20) Purva Asadha setara dengan 9°20′ – 22°40′ Capricorn. Dewa penguasa: Varuna atau Visvadeva
(21) Uttara Asadha setara dengan 22°40′ Capricorn – 6° Aquarius. Dewa penguasa: Ganadevata
(22) Shravana setara dengan 6° – 19°20′ Aquarius. Dewa penguasa: Vishnu
(23) Dhanishta setara dengan 9°20′ Aquarius – 2°40′ Pisces. Dewa penguasa: Delapan Vasu atau Ajapada
(24) Shatabhisha setara dengan 2°40′ – 16° Pisces. Dewa penguasa: Varuna
(25) Purva Bhadrapada setara dengan 16° – 29°20′ Pisces. Dewa penguasa: Rudra
(26) Uttara Bhadrapada setara dengan 29°20′ Pisces – 12°40′ Aries. Dewa penguasa: Rudra
(27) Revati setara dengan 12°40′ – 26° Aries. Dewa penguasa: Pushan.
.
Saat bulan berada di Rohini merupakan saat yang tetap dalam membangun rumah atau sesuatu yang sifatnya tetap dan tidak bergerak; termasuk mengumumkan ketetapan atau penghargaan. Selanjutnya disebutkan pula nama dewa penguasa naksatra terkait.
.
Yoga merupakan salah satu anasir penanggalan India yang terdiri dari 27. Cara menghitungnya adalah dengan menjumlahkan masing-masing sudut longitudinal Matahari dan Rembulan dengan titik 0 derajat Aries (Mesha). Hasilnya lalu dijumlahnya. Jikalau lebih besar dari 360 derajat, maka hasilnya dikurangi dengan 360 derajat. Selanjutnya hasil tersebut dibagi dengan 27. Daftar keduapuluh tujuh yoga adalah:
.

1.Viṣkambha
2.Prīti
3.Āyuśmān
4.Saubhāgya
5.Śobhana
6.Atigaṇḍa
7.Sukarma

8. Dhrti
9. Śūla
10. Gaṇḍa
11. Vṛddhi
12. Dhruva
13.Vyāghatā
14.Harṣaṇa
15.Varja
16. Siddhi
17.Vyatipāta
18.Variyas
19.Parigha
20. Śiva
21.Siddha
22.Sādhya
23.Śubha
24.Śukla
25.Brahma.
26.Māhendra.
27.Vaidhṛti
.
Yoga yang kurang baik adalah Vyaghat, Parigha, Vajra,Vyathipatha, Dhriti, Ganda, Athiganda, Shula, Vishakabha.
.
Kebetulan pada prasasti Kudadu, yoganya adalah Siddhi (yoga keenam belas).
.
Muhurta adalah satuan waktu yang masing-masing berlangsung selama 48 menit. Secara keseluruhan terdapat 30 muhurta.
.
Karana adalah satuan waktu yang diperlukan Matahari dan Rembulan agar maju sejauh 6 derajat satu sama lain, dimulai dari pertemuan atau Conjunction antara keduanya. Conjunction ini terjadi saat bulan baru. Karana ini juga dapat disamakan dengan setengah Tithi. Jadi, satu Tithi terbagi menjadi 2 Karana. Terdapat 11 Karana. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut.
.
Bulan baru selalu bertepatan dengan Karana Kiṃstughna.
Selanjutnya diikuti oleh tujuh Karana sebagai berikut yang akan diulangi tujuh kali.
.
1.Vava.
2.Valava.
3. Kaulava.
4.Taitila.
5.Gara
6.Vanija
7.Visti.
.
Dengan demikian, akan terdapat rangkaian 56 Karana.
Sisanya terdapat 3 Karana lagi yang tidak berulang, yakni:
.
1.Sakuni
2.Catuspada
3.Naga.
.
Agar jelasnya perhatikan perhitungan sebagai berikut.
Amavasya (Bulan Baru), terbagi menjadi dua Karana: Kiṃstughna. Lalu diikuti oleh Prathama atau Pratipada Shuklapaksha (Hari Pertama Paruh Bulan Terang), yang terbagi menjadi dua Karana, yakni: Vava dan Valava. Hari berikutnya Dwitiya Shuklapaksha (Hari Kedua Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Kaulava dan Taitila. Selanjutnya, Tritiya Shuklapaksha (Hari Ketiga Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Gara dan Vanija. Hari berikutnya, Charturthi Shuklapaksha, terbagi menjadi Visti dan Vava. Perhatikan bahwa Vava telah berulang kembali di sini. Hari selanjutnya akan terbagi menjadi Valava dan Kaulava. Demikian hingga Trayodasi Krishnapaksha (Hari Ketigabelas Paruh Bulan Gelap), yang terdiri dari Visti (pengulangan terakhir kelompok tujuh di atas) serta Sakuni, dan terakhir, Chaturdashi Krishnapaksha (Hari Keempatbelas Paruh Bulan Gelap) yang akan terbagi menjadi Catuspada dan Naga. Jadi, rangkaian keseluruhan Karana adalah 60, yang terdiri dari empat Karana tidak berulang dan tujuh Karana diulang tujuh kali.
.
Acuan kepada dua belas tanda zodiak, dapat kita jumpai pada prasasti Singhasari yang berangka tahun 1351:
.
/ 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swasti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipāda çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niritistha grahacara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna kâran.a wrs.abharaçi (sumber: wikipedia).
.
Kita telah mengenal anasir-anasir penanggalan di atas. Sebagai latihan, Anda boleh mencoba mengidentifikasinya.
Masa (bulan): Wesaka atau Vaisakha (bulan kedua menurut penanggalan India.
Tithi (tanggal): Pratipada Shuklapaksha.
Karana: Kistughna atau Kiṃstughna. Ingat bahwa Pratipada Shuklapaksha, Karananya, pasti adalah Kimstughna.
Ha, Po, dan Bu merupakan singkatan Aryang atau Haryang (Sadwara atau paringkelan), Pon (Pancawara), dan Budha (Saptawara).
Wuku: Tolu.
Grahacara: Niritistha atau Nairryastha.
Naksatra: Mrigashira
Yoga: Sobhana.
.
Dengan demikian, Anda sudah berhasil mengidentifikasi anasir-anasir penanggalan pada sebuah prasasti. Kini yang belum kita bahas adalah mengenai Rasi atau dua belas tanda Zodiak, dimana prasasti Singhasari di atas ditulis pada Rasi “Wrsabha.” Penggemar Astrologi tentulah sudah sangat akrab dengan hal ini. Kedua belas Rasi adalah sebagai berikut:
.
1. Mesa atau sama dengan Aries.
2.Vrsabha atau sama dengan Taurus.
3.Mithuna atau sama dengan Gemini.
4.Karka atau sama dengan Cancer.
5.Simha atau sama dengan Leo.
6.Kanya atau sama dengan Virgo.
7.Tula atau sama dengan Libra.
8.Vrscika atau sama dengan Scorpio.
9.Dhanusa atau sama dengan Sagittarius.
10.Makara sama dengan Capricornus.
11.Kumbha atau sama dengan Aquarius.
12.Mina atau sama denga Pisces.
.
Rasi ini menyatakan letak Bulan saat prasasti ditetapkan. Dengan demikian, Bulan berada di Rasi Vrsabha (Taurus) dalam hal prasasti ini.
.
Sampai di sini kita sudah mengenal aspek-aspek penting dalam penanggalan suatu prasasti selaku warisan sejarah berharga.
.
KESIMPULAN.
.
Para leluhur di zaman dahulu telah mengenal suatu sistim penanggalan yang rumit, dimana sistim tersebut banyak dipengaruhi oleh budaya India. Kendati demikian, terdapat pula anasir-anasir setempat, seperti Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Pawukon. Sistim penanggalan India mengharuskan pengenalan terhadap gerakan benda langit, khususnya Matahari dan Rembulan. Oleh karenanya, para leluhur dahulu pasti telah mempunyai kemampuan dalam bidang astronomi yang handal, sehingga dapat membuat penanggalan. Namun sayangnya kemampuan astronomis ini telah dilupakan dan hilang ditelan masa.
.
Bukan mustahil bahwa pada zaman lampau telah ada sekolah atau lembaga pengajaran untuk mendidik para ahli ilmu perbintangan (astronomi), dimana hal itu tentunya memerlukan pengetahuan pula dalam bidang matematika. Kita boleh menyimpulkan bahwa ilmu matematika tentunya telah berkembang di Nusantara zaman Hindu-Buddha. Hanya saja pengetahuan ini tidak lagi meninggalkan jejaknya di masa sekarang. Kemungkinan karena dahulu sarana penulisannya adalah daun lontar, yang mudah sekali rusak; misalnya karena bencana alam, kebakaran, atau peperangan. Ilmu pengetahuan tentunya telah berkembang pesat di masa itu.
.
Astrologi tentunya juga telah berkembang pada masa itu, yang dipergunakan untuk memilih hari baik guna melaksanakan suatu keperluan. Kemungkinan pada zaman itu telah ada semacam Primbon, yang erat kaitannya dengan Astrologi India dan juga Nusantara. Primbon yang ada sekarang mungkin merupakan kelanjutan bagi primbon zaman itu. Menarik sekali bila kita dapat merekonstruksi ulang Primbon dan penanggalan di zaman tersebut, yang mungkin masih ditulis di atas daun lontar.
.
Pengetahuan mengenai Astrologi zaman tersebut mungkin dapat dipergunakan menentukan penanggalan sebuah prasasti yang tidak terbaca lagi anasir penanggalannya, asalkan kita mengetahui tujuan prasasti itu dikeluarkan. Sebagai contoh, prasasti terkait pendirian suatu rumah ibadah. Kita dapat mencari saat-saat yang baik menurut pengetahuan Astrologi zaman itu, khususnya terkait hari baik mendirikan bangunan. Dalam hal ini, pengetahuan Astrologi India tentunya sangat membantu.
.
Sebagai penutup, marilah kita menggali kembali dan melestarikan ilmu pengetahuan adiluhung warisan leluhur.
.
DAFTAR PUSTAKA.
Kusuma,Sri Reshi Ananda. Prembon Bali Agung, CV. Kayumas Agung, Denpasar, 1998.
.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.
.
Satguru Sivaya Subramuniyaswami. Vedic Calendar, Himalayan Academy Kapaa, Hawaii, 1997.
.
Soedarsono; Astuti, Retno; & Sunjata, I.W. Pantja. Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, 1985.
.
Burgess, Rev. Ebenezer. Translation of Surya Siddhanta, University of Calcutta, 1935.
.
WEB
.
 
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ .
.
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum. 

RAMALAN MENGENAI PEMASANGAN SUSUK

RAMALAN MENGENAI PEMASANGAN SUSUK.

.

Ivan Taniputera.

5 Mei 2016.

.

Salah seorang teman ingin memasang susuk. Susuk merupakan benda-benda seperti berlian, logam, dan lain sebagainya yang dimasukkan secara gaib ke dalam tubuh menurut tradisi ilmu gaib Jawa. Ia menanyakan apakah pemasangan susuk itu baik baginya.

.

Saya akan meramalkan hal itu dengan metoda Yijing.

.

 
 

.

Didapatkan heksagram 34 yang berubah menjadi 14.

.

 

Heksagram 34 artinya kekuatan besar. Tetapi kekuatan ini harus dikendalikan. Heksagram 14 melambangkan kelimpahan, pencapaian, dan kekayaan. Jadi dapat ditafsirkan bahwa susuk itu dapat mendatangkan semacam kekuatan besar. Namun kekuatan itu perlu dikendalikan dengan baik. Yang dimaksud pengendalian yang baik adalah jangan menggunakannya demi sikap egois.

.

Oleh karenanya, berdasarkan ramalan di atas, penggunaan susuk itu bisa menghasilkan dampak yang baik. Hanya saja jangan menggunakannya secara berlebihan. Pada suatu titik, maka akan timbul godaan-godaan, yakni menggunakannya untuk sesuatu hal yang mementingkan diri sendiri. Yang penting adalah Anda harus sanggup melawan godaan-godaan tersebut.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . 

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.