BEBERAPA HU ATAU TALISMAN CHINA (CHINESE TALISMAN) YANG DIMUAT DALAM TONGSHU (ALMANAK CHINA)

BEBERAPA HU ATAU TALISMAN CHINA (CHINESE TALISMAN) YANG DIMUAT DALAM TONGSHU (ALMANAK CHINA).

.

Ivan Taniputera.

21 Juli 2018.

.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan berbagai hu atau talisman yang dimuat di Tongshu (通書). Tujuan saya hanyalah sekedar berbagi saja. Berikut ini adalah hu atau talisman China yang dimaksud.

. 

1. HU UNTUK MENANGKAL KEMALANGAN DAN BENCANA.

.

 

.

Hu ini mempunyai kegunaan menangkal kemalangan dan bencana. Dapat ditempelkan di bagian rumah yang mengandung energi buruk atau angker. Kendati demikian, jika dirasa tidak ada lokasi yang berenergi buruk atau angker, hu ini boleh ditempelkan di mana saja.

.

2. HU PINTU UTAMA RUMAH.

.

 

.

Hu ini ditempelkan pada dinding bagian dalam, yakni di atas pintu utama rumah Anda. Kegunaannya adalah menghalau pengaruh buruk yang berasal dari luar.

.

3. HU PINTU RUANGAN DALAM RUMAH.

.

 

.

Hu ini dapat ditempelkan pada bagian atas atau dekat pintu-pintu ruangan dalam rumah; khususnya pintu kamar tidur.

.

4. HU PELINDUNG DAPUR.

.

 

.

Hu ini dapat ditempelkan pada dapur. Kegunaannya adalah untuk melindungi dapur serta menyelaraskan energi-energi di dalamnya. Hui ini biasanya ditempelkan di dekat altar Dewa Dapur.

.

5. HU PENGHALAU MAKHLUK-MAKHLUK HALUS JAHAT.

.

 

.

Hu ini mempunyai kegunaan menyingkirkan makhluk-makhluk halus jahat. Dapat ditempelkan di pintu kamar tidur atau dekat ranjang anak-anak serta balita; khususnya yang masih sering menangis di malam hari. Ruangan-ruangan yang dirasa angker boleh juga ditempeli hu ini. Orang yang merasa takut terhadap makhluk halus atau sering diganggu oleh mereka, boleh menempelkan hu ini pada bagian atas pintu kamar tidur.

.

6. HU PERLINDUNGAN DAN KEBERUNTUNGAN SELAMA DALAM PERJALANAN.

.

 

.

Hu cocok sekali dibawa oleh mereka yang sedang mengadakan perjalanan atau bepergian. Kegunaannya adalah menghalau kemalangan dan mendatangkan keberuntungan. Setiap anggota keluarga yang turut serta dalam perjalanan boleh membawanya dalam dompet atau tas masing-masing.

.

Jika Anda ingin menggunakan berbagai hu di atas, maka sebaiknya Anda gambar sendiri dengan penuh keyakinan, kesungguhan, dan ketulusan. Meskipun demikian, yang patut diingat Anda harus mempunyai guru spiritual sebagai pembimbing dalam hal ini. Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya, artikel ini hanya bertujuan untuk berbagi pengetahuan saja, bukan anjuran untuk menggunakan berbagai hu di atas. Tanpa bimbingan guru maka merupakan penyalah-gunaan ilmu. Penyalah-gunaan ilmu risiko ditanggung sendiri.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . , . . .

.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

Ivan Taniputera

27 Februari 2013

.

Dalam perjalanan ke delapan kelenteng beberapa waktu yang lalu, saya menemukan buku kisah Tho Hwa Li buah karya Gan KH ini. Sebenarnya saya sudah pernah mendengar mengenai kisah Tho Hwa Li semenjak masih kecil dan edisi lama buku ini saya sudah punya, namun kini tidak tahu lagi di mana keberadaannya. Oleh karenanya, penemuan kembali buku ini di salah sebuah kelenteng yang saya kunjungi merupakan peristiwa berharga. Kisah-kisah dalam tradisi Tiongkok memang sarat makna dan filsafat pemikiran.

 
 
 

Secara umum, dalam buku tersebut ada hal-hal menarik, seperti asal muasal tradisi ritual pengantin yang masih dilaksanakan hingga hari ini dan takdir versus ciswa. Kita akan mengulasnya satu persatu.

 

1.TAKDIR VERSUS CISWA

 

Sebelum mengulas mengenai topik bahasan ini. Saya akan memaparkan latar belakang kisahnya secara singkat. Ciu Kong adalah seorang mantan pembesar di masa pemerintahan Kaisar Ciu Yu Ong (781 SM) dari dinasti Ciu (Mandarin: Chou). Karena kaisar ke-12 ini hanya gemar bersenang-senang saja bersama selirnya bernama Po Su, Ciu Kong lantas mengundurkan dirinya. Sebenarnya Ciu Kong ini bukanlah nama pembesar tersebut. Namanya tidak disebutkan dalam buku ini. Ciu Kong adalah gelar yang dianugerahkan oleh Kaisar Yu Ong, sewaktu pembesar tersebut mengundurkan dirinya guna pulang ke desa. Arti telar itu adalah “Sesepuh Marga Ciu.” (lihat halaman 3). Selain pemberian gelar kehormatan, Ciu Kong mendapatkan pula anugerah berupa pedang bernama Sian-cam-ho-cau (Bunuh Dulu Urusan Belakang). Ini menandakan bahwa pemegang pedang tersebut memiliki kekuasaan luar biasa.

Ciu Kong yang telah mengundurkan dirinya lantas membuka profesi sebagai juru ramal. Uniknya Ciu Kong akan memberikan ganti rugi yang besar jika ramalannya meleset (tiga ratus lima puluh tahil perak-halaman 6). Meskipun demikian, biaya meramalnya cukup rendah, yakni “tiga tahil setengah uang perak.” (halaman 5). Dalam sehari, ia hanya menerima tiga orang saja yang hendak diramal. Sebagai juru penerima tamu, Ciu Kong mengangkat mantan juru tulisnya bernama Peng Cian.

Ramalan Ciu Kong memang terbukti keakuratannya. Kendati demikian dua kali ramalan Ciu Kong meleset, yakni:

 

a.Putera seorang nenek bernama Li Kho-cwan (halaman 16) yang diramal akan meninggal. Berkat kias yang diberikan Tho Hwa Li, nyawanya berhasil diselamatkan. Tho Hwa Li adalah gadis sakti yang pandai menciptakan beraneka macam kias. Caranya adalah bersembahyang dengan tiga batang dupa saat sore hari, lalu mengambil bantal anaknya, menepuk tiga kali pada bantal disertai seruan keras memanggil anaknya. Singkat cerita, memang kias atau penangkal ini terbukti kemanjurannya.

 

b.Peng Cian sendiri diramalkan akan meninggal oleh Ciu Kong. Namun Tho Hwa Li berhasil menyelamatkannya, yakni menyuruh Peng Cian menanti kehadiran Delapan Dewa di sebuah kuil. Ternyata usia Peng Cian dapat ditambah 80 tahun.

 

Kegagalan ramalannya ini menggusarkan hati Ciu Kong yang merasa otorita-nya tertantang. Ia lalu mencari cara membunuh Tho Hwa Li yang akan kita uraikan belakangan.

 

Kini kita akan mendiskusikan terlebih dahulu makna kisah ini. Tentu saja sebuah kisah dapat dimakna berbeda-beda bagi masing-masing orang. Kendati demikian saya lebih cenderung memaknainya berdasarkan pertanyaan klasik “Apakah nasib dapat diubah?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang telah hadir semenjak zaman yang amat lampau. Sepanjang sejarahnya agama dan filsafat telah berupaya memberikan jawaban bagi hal ini, sehingga kita dapat menjumpai banyak teori tentangnya. Namun, semuanya itu akan tetap menjadi sebuah “hipotesa” yang tidak dapat kita buktikan kebenarannya. Mengapa? Karena kita tidak memiliki mesin waktu. Sebuah hipotesa baru akan terbukti jika sudah diuji dengan sebuah eksperimen. Jadi secara sederhana adalah sebagai berikut. Seorang melakukan tindakan A hingga akhirnya mendapatkan B. Namun kita tidak tahu, jika tidak melakukan A, apakah ia akan tetap mendapatkan B. Dalam kehidupan nyata, memang terdapat kasus-kasus di mana seseorang telah berupaya, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Sebaliknya, ada juga orang tidak berusaha, tetapi malah mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Karena kita tidak mampu mengujinya, pertanyaan apakah “nasib dapat diubah” akan tetap menjadi misteri umat manusia sampai ditemukannya mesin waktu; yakni satu-satunya alat yang dapat dipergunakan menguji berbagai kemungkinan pararel dalam kehidupan manusia. Untuk lebih jelasnya, pembaca dapat menonton film “Butterfly Effect.” Apakah ciswa itu benar dapat mengubah nasib? Pertanyaan ini juga mustahil dijawab. Namun kisah di atas mencerminkan pertanyaan klasik tersebut, yakni takdir versus ciswa.

 

2.RITUAL-RITUAL UPACARA PERNIKAHAN TIONGHOA

 

Demi membalaskan dendamnya pada Tho Hwa Li, Ciu Kong lantas melakukan suatu tindakan yang agak eksentrik. Dia hanya memiliki seorang puteri bernama Ciu He Lian, namun agar dapat “membunuh” Tho Hwa Li, ia lantas “menikahkan” puterinya itu dengan Tho Hwa Li. Tentu saja sebelumnya sang puteri akan dirias sebagai pengantin pria. Ciu Kong memilihkan hari paling buruk, yang disebut Thian pia jit. Itu merupakan hari paling buruk bagi pengantin wanita. Banyak bahaya yang menanti, sehingga akan mengancam nyawa sang mempelai wanita. Berikut ini adalah bahaya beserta penangkalnya.

 

a.Pada hari itu saat mempelai wanita keluar dari rumahnya sendiri, dua bintang jahat, yakni Thian-sat dan Thian sin, telah siap menghantamnya, sehingga pengantin wanita mendadak jatuh tersungkur dan meninggal seketika.

 

PENANGKAL: Tho Hwa Li bersembahyang pagi-pagi sebelum matahari terbit, guna mengundang kehadiran dewa Liok ting Thai-sin dan Liok tha Thai sin, yang bertugas menjaga keamanan langit, sehingga sanggup mengusir Thian-sat dan Thian-sin.

 

b.Saat mempelai wanita telah duduk dalam tandu, bintang Ceng-liong ce (Naga Hijau) dan Pek-hou ce (Macan Putih) telah siap mencabut nyawanya.

 

PENANGKAL: Ceng-liong ce paling takut dengan kilin, sedangkan Pek-hou ce takut dengan burung hong (funiks). Oleh karenanya, Tho Hwa Li menempelkan kertas merah bertuliskan warna emas, yang masing-masing berbunyi “KI LIN TO CU” dan “HONG HONG TO CU.” Artinya adalah “Kilin berada di sini” dan “Burung hong merah ada di sini.” Dengan demikian Naga Hijau dan Macan Putih kebur ketakutan.

 

c.Begitu tandu tiba di rumah mempelai pria, bintang Ceng-liong ce yang gagal membunuh pengantin wanita akan kembali beraksi, sehingga mempelai wanita bisa menemui ajalnya.

 

PENANGKAL: Melepaskan tiga batang anak panah, sehingga Ceng-liong ce lari ketakutan.

 

d.Begitu mempelai wanita memasuki rumah pengantin pria, bintang Thian Kau-ce (Kera Langit) telah siap mencekiknya.

 

PENANGKAL: Dengan menaburkan beras kuning, sehingga Kera Langit lari ketakutan. Beras kuning itu dipercaya mampu membutakan mata Kera Langit.

 

e.Bintang Ngo-kui-ce (Lima Setan) telah siap menanti di balik pintu rumah Ciu Kong dan siap menerjang serta menghabisi nyawa Tho Hwa Li.

 

PENANGKAL: Menggunakan niru sebagai payung yang telah digambari pat kwa. Dengan demikian, Lima Setan tidak berani mendekat dan menyingkir jauh-jauh.

 

f.Saat kedua mempelai duduk bersama di dalam kamar pengantin guna bersantap bersama, bintang Pek-hou ce akan datang lagi dan menghantam mempelai wanita sampai tewas.

 

PENANGKAL: Tidak ada penangkalnya, tetapi Tho Hwa Li tidak kehilangan akal. Ia pura-pura pusing dan berbaring di ranjang pengantin. Akibatnya hanya Ciu He Lian yang duduk sendirian di depan meja pengantin. Meskipun berdandan sebagai pengantin wanita, bintang Peh-hou ce tidak dapat ditipu. Ia lantas menghantam puteri Ciu Kong tersebut hingga tewas.

 

Dengan demikian, justru Ciu Kong yang kehilangan puterinya. Dendamnya pada Tho Hwa Li semakin bertambah.

 

Kisah di atas mencerminkan sebuah ajaran bahwa manusia hendaknya senantiasa berupaya memperbaiki keadaan. Meski benar bahwa kita tidak mengetahui apakah takdir dapat diubah atau tidak. Namun berusaha menciptakan sesuatu yang lebih baik adalah lebih baik ketimbang tidak berusaha sama sekali.

 

3.EPILOG

 

Ciu Kong mencari cara lain dalam membunuh Tho Hwa Li. Ia lantas mengetahui rahasia kelemahan Tho Hwa Li, yakni ranting pohon Tho tumbuh di halaman rumah Tho Hwa Li yang menjulur ke penjuru barat. Ciu Kong meminta potongan dahan tersebut pada Tho Wan Gwe, yakni ayah Tho Hwa Li, dengan alasan bahwa benda tersebut akan dipakai sebagai wahana penujuman. Benar saja setelah ranting pohon itu dipotong, kesehatan Tho Hwa Li semakin menurun dan akhirnya sakit parah. Sebelum meninggal, Tho Hwa Li berpesan pada Peng Cian, yang pernah ditolongnya, agar membenturkan peti jenazahnya saat hendak diangkut keluar dari rumah Ciu Kong. Permintaan ini dilaksanakan, dan ajaibnya Tho Hwa Li hidup kembali. Terjadi perang tanding dengan Ciu Kong. Ternyata Ciu Kong adalah jelmaan pedang dewa, sedangkan Tho Hwa Li adalah jelmaan sarungnya. Kedua pedang itu sebelumnya adalah milik Dewa Hian Thian Siang Tee (Siang Tee Kong) sewaktu Beliau masih bertapa di Bu-tong-san. Karena memperoleh Jit Gwat jing (sari murni matahari dan rembulan), akhirnya pedang beserta sarungnya berubah menjadi manusia. Saat tengah bertarung, keduanya lantas ditangkap oleh Dewa Hian Thian Siang Tee dan diubah kembali menjadi pedang dan sarungnya.Demikianlan akhir kisah menarik tersebut.

 

Epilog di atas nampaknya menandakan bahwa meskipun bertentangan, keduanya merupakan kedua hal saling melengkapi dalam tradisi Tionghoa, ibarat pedang beserta sarungnya. Pedang tanpa sarung juga tidak berguna dan bisa melukai sang pemilik pedang. Sarung saja tanpa pedang juga tidak berguna, karena tak dapat melindungi seseorang.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . .

.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG KAISAR LIE SIE BIN MENGUNJUNGI NERAKA: ASAL MUASAL TRADISI MEMBAKAR UANG KERTAS

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG KAISAR LIE SIE BIN MENGUNJUNGI NERAKA: ASAL MUASAL TRADISI MEMBAKAR UANG KERTAS

.

Ivan Taniputera

17 Juni 2015

.

 
 

Judul: Tjerita Keizer Lie Sie Bin Yoe Tee Hoe

Penulis: –

Penerbit: Electro-Drukk. Kho Tjeng Bie. & Co., Pintoe besar, Batavia, 1920

Jumlah halaman: 80

 

Buku ini mengisahkan hal-hal yang aneh dan gaib, yakni perjalanan Kaisar Lie Sie Bin ke neraka. Salah satu kisahnya meriwayatkan mengenai Kaisar Lie Sie Bin yang sewaktu di neraka meminjam uang emas dari gudang perbendaraan seseorang bernama Siang Liang. Padahal Siang Liang yang ketika itu masih hidup merupakan orang yang sangat miskin. Lalu bagaimana ia dapat mempunyai begitu banyak uang di alam baka? 

 

“Maka sekarang di tjeritaken Siang Liang memang ija ada satoe orang jang terlaloe miskin, soenggoe ija miskin tapi hatinja ada lempeng sekali, tiap-tiap hari ija ada pergi djoewal tauwhoe, kapan ada oentoengnja 100 tangtjie, separo ija boeat makan dan separonja ija beliin kertas mas dan kertas perak, saban hari tiada berentinja ija bakar itoe kertas sadja dan ija tiada poenja pikiran jang laen, kaloe ia poelang berdagang dapet kaoentoengan banjak atau sedikit ija makan minoem dengen segala soeka hati, kaloe soeda abis ija makan lantas ija pasang hio bersoedjoet jang betoel, bakar itoe kertas mas dan kertas perak, tandanja jang ija sanget aken hormatin pada Toapekong, sehari-hari pagi dan sore ija tiada bikin loepa, hatinja ingat sadja sama Toapekong….” (halaman 73).

 

Nampaknya kisah ini menjelaskan mengenai asal muasal persembahan uang-uangan kertas pada tradisi China. Selain itu, masih terdapat kisah-kisah lainnya. Adapun Kaisar Lie Shi Bin yang dimaksud di sini adalah Kaisar Tang Taizong dari dinasti Tang. 

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

.

 

 
 

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

LEGENDA WU DAOZI-PELUKIS YANG MASUK KE LUKISANNYA SENDIRI

LEGENDA WU DAOZI-PELUKIS YANG MASUK KE LUKISANNYA SENDIRI

 

Ivan Taniputera

ivan_taniputera@yahoo.com

6 Juli 2014

Wu Daozi (吳道子, Hokkian: Gouw Too Tjoe) adalah salah seorang pelukis terkenal yang hidup semasa Dinasti Tang, yakni kurang lebih abad ketujuh Masehi. Menurut legenda sebelum melukis, Wu Daozi akan membersihkan dirinya terlebih dahulu dan membakar dupa cendana, sehingga ruangan tempatnya melukis akan terasa nuansa kesucian.

Suatu kali, Wu Daozi sedang menyelesaikannya lukisannya yang menggambarkan Gunung Hengshan, salah satu gunung suci dalam tradisi China. Suatu kali, salah seorang pejabat tinggi setempat datang mengunjunginya. Sebenarnya, Wu Daozi sudah berpesan pada muridnya agar menghalangi siapa pun tamu yang hendak mengunjunginya. Rupanya jika sedang bekerja, Wu tidak ingin diganggu, namun karena takut menghadapi pejabat tinggi tersebut, muridnya tidak berani menghalanginya masuk.

Pejabat tinggi itu menyatakan maksudnya hendak memesan lukisan dan menyerahkan gulungan kertas. Meskipun demikian Wu menyatakan bahwa ia tidak mempunyai waktu menyelesaikan pesanan sang pejabat tinggi tersebut, karena sedang menyelesaikan lukisan Gunung Hengshan. Tetapi sang pejabat tinggi tetap memaksa dan menyatakan bahwa waktu itu harus diadakan oleh Wu. Kembali Wu menegaskan bahwa ia tidak dapat menjanjikannya, karena ia hanya berkarya seturut kehendak hatinya. Sang pejabat tetap memaksanya dan mengatakan bahwa Wu pasti sanggup mengerjakan lukisan indah sebagaimana didambakannya. Setelah itu, sang pejabat pun berlalu.

Wu merasa kesal terhadap gangguan tersebut. Ia membuka segenap pintu dan jendela lebar-lebar serta membakar banyak dupa cendana, guna mengusir “hawa buruk” yang dibawa sang pejabat. Seharian ia tidak mau melukis, karena merasa bahwa batinnya sangat terganggu sehingga tidak dapat melanjutkan karyanya.

Beberapa hari kemudian, pejabat itu datang lagi dan menyaksikan bahwa gulungan kertas yang dibawanya masih kosong. Pejabat itu marah dan Wu menjawab bahwa dirinya belum sempat mengerjakan lukisan pesanan sang pejabat, karena lukisan Gunung Hengshannya belum selesai. Sang pejabat naik pitam dan berkata, “Aku adalah penguasa di daerah ini. Jika engkau tidak menuruti kehendakku, maka aku dapat berbuat apa saja.”
Wu Daozi menjawab sambil mengucapkan sindiran halus, “Ya, tentu saja Tuan adalah pejabat berkuasa yang sanggup melakukan apa saja.”
Wu tetap tidak bersedia mengerjakan pesanan sang pejabat. 

Pejabat itu akhirnya meminta lukisan Gunung Hengshan karya Wu Daozi yang saat itu hampir selesai. Namun Wu tidak bersedia memberikannya dan mengatakan bahwa lukisah itu akan dihadiahkannya pada kaisar.  Karena segenap upayanya membujuk Wu gagal, sang pejabat mengancamnya, “Jika engkau terus menerus menentang perintahku, maka aku akan membakar tempat kediamanmu.”

Tanpa banyak berkata, Wu menepukkan tangannya dan pintu gua pada lukisan karyanya itu tiba-tiba terbuka. Wu segera masuk ke sana dan pintu tersebut menutup. Menyaksikan bahwa gurunya telah masuk ke lukisan karyanya sendiri, sang murid berteriak, “Guru! Tunggu aku.” Pintu itu tebuka kembali dan muridnya segera berlari masuk. Sang pejabat yang sombong itu hanya dapat terpana menyaksikannya.

Pada versi lain, disebutkan bahwa ketika itu Wu sedang bersama dengan kaisar. Ia lantas menepukkan tangannya dan pintu gua pada lukisannya terbuka. Ia segera masuk, sedangkan kaisar terlambat masuk. Seketika itu juga lukisannya lenyap.

Moral dari kisah ini adalah kita hendaknya tidak menyalah-gunakan kekuasaan kita demi memenuhi segenap keinginan kita. Meskipun kita memiliki kekuasaan yang tinggi, namun kita hendaknya tetap menjadi sosok yang rendah hati dan sanggup menghargai orang lain.

Artikel menarik lainnya silakan kunjungi:

TATA CARA SEMBAHYANG BAGI YANG SEDANG TERKENA CIONG (ZHONG) DAN SAT (SHA)

TATA CARA SEMBAHYANG BAGI YANG SEDANG TERKENA CIONG (ZHONG) DAN SAT (SHA)
 
Ivan Taniputera
(ivan_taniputera@yahoo.com)
29 September 2013
.
Ini adalah tata cara sembahyang bagi mereka yang masih percaya terhadap ciong dan sat. Adapun penentuannya dapat memeriksa almanak.
 
TAISUI (太歲)
.
Bersembahyang pada tanggal 1 dan 15 bulan pertama menurut penanggalam Imlek dengan menempelkan hu Taisui. Adapun hu Taisui biasanya tersedia pada buku Tongshu tahun itu atau meminta di kelenteng. Sesajian dalam sembahyang adalah:
 
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
 Kemudian pada tanggal 24 bulan keduabelas Imlek diadakan persembahyangan kembali dan hu dibakar sambil mengucapkan terima kasih pada dewa Taisui yang telah melindungi selama tahun berlaku.
 
TAIYANG (太陽)
.
 
Mengadakan sembahyang setiap tanggal 27 menurut penanggalan Imlek. Sembahyang dilakukan pagi-pagi saat matahari terbit dengan menghadap ke penjuru timur. Setiap kali selesai sembahyang hu dibakar bersama kertas sembahyang.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:
.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
SHANGMEN (喪門)
.
Cukup dengan membawa hu saja.
.

TAIYIN (太陰)

.

Mengadakan sembahyang setiap tanggal 26 menurut penanggalan Imlek. Sembahyang dilakukan malam hari dengan menghadap ke penjuru barat. Setiap kali selesai sembahyang hu dibakar bersama kertas sembahyang.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:

.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
WUGUI (五鬼)
.
Mengadakan sembahyang dengan jam dan tanggal yang bisa dipilih sendiri.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:
.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang kecil.
  • Telur bebek dua butir yang dimasak menjadi telur mata sapi.
Setelah sembahyang hu dibakar di pekarangan rumah atau perempatan jalan bersama dengan kertas sembahyang kecil.
.
SHIFU (死符)

.

Mengadakan sembahyang pada hari Yuede sebelum bulan keempat.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:

.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
Setelah sembahyang hu dibakar di pekarangan rumah bersama dengan kertas sembahyang.
.
SUIPO (歲破)

.

Mengadakan sembahyang pada hari Yue En. Waktunya bebas. Setelah selesai sembahyang hu dibakar bersama dengan kertas sembahyang.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:

.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
LONGDE (龍德)
.
Mengadakan sembahyang pada tanggal 15 bulan pertama Imlek dan tanggal 15 bulan kedelapan Imlek (guna mengucapkan terima kasih dan berbuat kebajikan). Waktu sembahyang boleh siang ataupun malam.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:
.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
BAIHU (白虎)
.
Mengadakan sembahyang di kuil tempat altar Bai Hu. Waktunya bebas.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:
.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang.
  • Dua buah telur bebek mentah.
Setelah selesai sembahyang hu dibakar di perempatan jalan bersama dengan kertas sembahyang.
.
TIANGOU (天狗)

.

Mengadakan sembahyang saat malam hari, tanggalnya bisa ditentukan sendiri.
Adapun sesajian dalam sembahyang adalah:

.
  • Buah-buahan (5 macam).
  • Teh (3 cangkir).
  • Arak (3 cangkir).
  • Lilin (sepasang).
  • Dupa.
  • Kertas sembahyang kecil.
  • Telur bebek dua butir yang dimasak menjadi telur mata sapi.

Setelah selesai sembahyang hu dibakar bersama dengan kertas sembahyang.

TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK

TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK
Tradition of Visiting Eight Temples After Chinese New Year
 
Ivan Taniputera
(ivan_taniputera@yahoo.com)
17 Februari 2013
 
 
Di tengah-tengah keluarga saya terdapat tradisi mengunjungi delapan kelenteng setelah Tahun Baru Imlek. Adapun kunjungan itu sedapat mungkin dilakukan dalam sehari dan ritual ini boleh dilakukan hingga tanggal 15 bulan pertama Imlek (Capgomeh). Pada hari ini saya dalam sehari melakukan kunjungan ke delapan kelenteng/ vihara sebagai berikut:
 
 
1.VIHARA MAHA WELAS ASIH Vihara ini berada di kompleks Perumahan Tanah Mas atau tepatnya berada di Jalan Taman Hasanudin. Berikut ini adalah ruang kebaktian Vihara Maha Welas Asih:

Di vihara juga terdapat pratima yang mewakili keenam puluh dewa penguasa tahun berlaku (太歲 Taisui).

2.KELENTENG HAO SHENG GONG (昊聖宮)

Tidak jauh dari Vihara Maha Welas Asih terletak Kelenteng Hao Sheng Gong, yang bercorak Daoisme.

Tampak luarnya adalah sebagai berikut:

Dewata utama di kelenteng ini adalah 無極洪鈞聖祖 (Wújí hóngjūn shèngzǔ).

Penulis juga baru pertama kali mendengar nama dewa ini. Menurut keterangan penjaga kelenteng, Beliau adalah guru Laozi atau Taishang Laojun.

Berikut ini adalah pratima dewata-dewata Daois yang dipuja dalam kelenteng.

Selain itu, terdapat pula makhluk-makhluk suci yang berasal dari Buddhisme.

Kini penulis akan menampilkan interior bagian dalam kelenteng:

3.KELENTENG TAI SHANG GONG (太上宮)

Kunjungan dilanjutkan ke Kelenteng Tai Shang Guan yang juga bercorak Daoisme. Makhluk suci utamanya adalah Taishang Laojun yang merupakan gelar bagi Laozi.

Berikut ini adalah pratima Taishang Laojun:

Penulis juga mendapati pratima Tju Soe Nyo Nyo, yang juga baru pertama kali ini melihatnya.

Berikut ini adalah gambar pratima yang terdapat di bagian bawah altar Taishang Laojun.

Terdapat pula gambar Lima Jenderal pada salah satu altar di kelenteng ini.

Inilah adalah gambar-gambar dewa pintu di Kelenteng Tai Shang Gong.

4.KELENTENG JING DE MIAO (敬德廟)

Kelenteng ini terletak di Jalan Lingkar Tanjung Mas, yang juga masih masuk kompleks Perumahan Tanah Mas.

Dewata utama yang dipuja di kelenteng ini adalah Oet Ti Kiong, yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam Hikayat Sie Djin Koei.

Di bagian belakang kelenteng terdapat pula pratima keenam puluh dewa Taisui.

Kita dapat menyaksikan pula pratima Ayah dan Bunda Bumi.

Berikut ini adalah sekelumit kegiatan mempersiapkan persembahyangan yang sedianya akan diselenggarakan pada hari ini juga di Kelenteng Jing De Miao

5.KELENTENG GUAN SHENG MIAO (關聖廟)

Terletak di Jalan Kali Mas, yang masih juga masuk kompleks Perumahan Tanah Mas. Dewata utamanya adalah Kwan Kong (Guan Sheng Dijun)

Kita tidak dapat menyaksikan relief sumpah pengangkatan saudara antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei yang terkenal dari Kisah Sam Kok.

Berikut ini adalah ruang utama Kelenteng Guang Sheng Miao.

6.KELENTENG GRAJEN

Terletak di kawasan Grajen, Jl. MT. Haryono, Semarang. Dewata utamanya adalah Xuan Tian Shangdi.

Pada hari ini kelenteng sangat ramai dikunjungi umat.

Berikut ini adalah pratima-pratima dewa pintu di Kelenteng Grajen.


7.KELENTENG BUGANGAN

Terletak di Jl. Bugagan, Dr. Cipto, Semarang. Berikut ini adalah tampak depan kelenteng.

Meja sembahyangan yang telah dipersiapkan di Kelenteng Bugangan.

Perhatikan adanya tebu yang merupakan khas tradisi Hokkian.

8.VIHARA BUDDHAGAYA-WATUGONG-SEMARANG

Kunjungan ke Vihara Buddhagaya, Watugong, menutup rangkaian kunjungan hari ini. Tampak pagoda yang terkenal selaku ciri khas Vihara Buddhagaya.

Kita dapat menyaksikan pula persiapan sembahyangan di vihara ini.

Salah satu pratima Bodhisattva Avalokitesvara (Guanyin) di Vihara Buddhagaya, Watugong, Semarang.

Demikian semoga bermanfaat dan terima kasih telah mengikuti artikel ini sampai selesai.