ASTRONOMI: MEMBUKTIKAN BENTUK BUMI BERDASARKAN LAMA WAKTU PENERBANGAN

ASTRONOMI: MEMBUKTIKAN BENTUK BUMI BERDASARKAN LAMA WAKTU PENERBANGAN.

.

Ivan Taniputera.

13 April 2018.

.

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengetahui bagaimana bentuk bumi berdasarkan lama waktu penerbangan. Saya akan memilih rute penerbangan antara Lisabon ke New York dan Pretoria ke Rio de Janeiro. Untuk jelasnya silakan perhatikan gambar di bawah ini.

.

 

 

.

Saya akan menjelaskan alur pemikirannya adalah sebagai berikut. Saya akan memilih dua rute penerbangan yang jaraknya sama atau hampir sama menurut model bumi bulat. Hanya saja yang satu harus terletak di belahan bumi utara, sedangkan satunya lagi di belahan bumi selatan. Oleh karenanya, derajat garis lintangnya kurang lebih harus sama atau tidak berbeda terlalu jauh; demikian pula dengan jarak garis bujur masing-masing. Pilihan saya jatuh pada kedua rute atau jalur penerbangan di atas.

Berikut ini adalah derajat garis lintang dan bujur masing-masing kota (data diperoleh dari wikipedia).

.

  • Lisabon terletak di 38 derajat 42 menit Lintang Utara. 9 derajat 8 menit Bujur Barat.
  • New York terletak di 40 derajat 42 menit Lintang Utara. 74 derajat 0 menit Bujur Barat.
  • Pretoria terletak di 25 derajat 44 menit Lintang Selatan. 28 derajat 11 menit Bujur Timur.
  • Rio de Janeiro terletak di 22 derajat 54 menit Lintang Selatan. 43 derajat 11 menit Bujur Barat.

.

  • Jarak garis bujur antara Lisabon dan New York adalah 64 derajat 20 menit. Jarak garis lintang antara Lisabon dan New York adalah 2 derajat.
  • Jarak garis bujur antara Pretoria dan Rio de Janeiro adalah 71 derajat 22 menit. Jarak garis lintang antara Pretoria dan Rio de Janeiro adalah 2 derajat 50 menit.

.

Sebagai tambahan: Jarak Lisabon dan New York adalah 3.370 mil. Jarak Pretoria Rio de Janeiro adalah 4.443 mil. (Data diambil dari https://www.entfernungsrechner.net/de/).

.

Dengan demikian, perbedaan jarak antara kedua pasangan kota tersebut menurut model bumi bulat tidak terlalu jauh atau tidak terlalu signifikan (tidak sampai dua kali lipat). Hal ini berbeda dengan model bumi datar. Seperti gambar di atas, maka menurut model bumi datar perbedaan jarak keduanya adalah sekitar dua kali lipat atau lebih.

.

Untuk mengetahui model mana yang benar, maka kita akan memanfaatkan data lama waktu penerbangan antara kedua jalur tersebut. Jika model bumi bulat benar, maka seharusnya perbedaan lama waktu penerbangan antara kedua jalur di atas tidaklah terlalu signifikan. Sebaliknya menurut model bumi datar, akan terdapat perbedaan cukup signifikan, yakni paling tidak dua kali lipat lebih lama. Penggunaan data lama waktu penerbangan ini dikarenakan hal tersebut dapat diverifikasi secara internasional atau oleh siapa saja. Jika data yang dipergunakan keliru tentunya akan dapat diketahui dengan mudah. Data tersebut akan saya ambil dari https://www.travelmath.com/flying-time/from/Lisbon,+Portugal/to/New+York,+NY dan https://www.travelmath.com/flying-time/from/Pretoria,+South+Africa/to/Rio+de+Janeiro,+Brazil

Hasilnya adalah sebagai berikut.

.

  • Lama waktu penerbangan dari Lisabon ke New York adalah 7 jam 15 menit.
  • Lama waktu penerbangan dari Pretoria ke Rio de Janeiro adalah 9 jam 25 menit.

.

Dengan demikian, perbedaannya tidak sampai dua kali lipat lebih lama. Hal ini membuktikan bahwa model bumi bulat lebih sesuai dengan kenyataan, kecuali dapat diberikan bukti kuat bahwa data waktu penerbangan sebagaimana tercantum di atas adalah keliru. Sampai sejauh ini kita telah memperlihatkan bahwa bentuk bumi adalah bulat. Terjadi kekonsistenan antara jarak masing-masing jalur penerbangan menurut model bumi bulat dengan lama waktu penerbangan.

Advertisements

ASTRONOMI: PEMBUKTIAN BUMI BULAT MENURUT KOPERNIKUS

ASTRONOMI: PEMBUKTIAN BUMI BULAT MENURUT KOPERNIKUS.

.

Ivan Taniputera.

13 Oktober 2017.

.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menerjemahkan argumen Kopernikus mengenai bumi yang berbentuk bulat. Terjemahan ini diambil dari karya Kopernikus yang dalam bahasa Indonesia judulnya dapat diterjemahkan menjadi “Mengenai Peredaran Benda-benda Langit.”. Alangkah baiknya kita membaca karya-karya asli para ilmuwan di zaman dahulu bila hal itu memungkinkan, daripada hanya membaca ulasan mengenainya saja. Sebagai praktisi dan penekun ilmu Astrologi, kita juga perlu mempunyai pengetahuan memadai mengenai ilmu Astronomi. Berikut ini adalah terjemahannya.

.

“Bumi berbentuk bulat pula, karena pada setiap sisi ia bertumpu pada pusatnya. Namun ia tidak dipandang begitu saja sebagai bentuk bulat sempurna, karena ketinggian gunung-gunungnya beserta kedalaman lembah-lembahnya; meski semuanya itu tidak berpengaruh pada kebulatannya secara umum.

.

Jelaslah dengan demikian. Jikalau seseorang mengadakan perjalanan ke penjuru utara dari titik mana saja, verteks (puncak) utara sumbu perputaran harian akan secara bertahap bergeser ke atas (naik), dan yang satunya akan bergerak ke bawah (turun) dengan jarak sama. Selanjutnya, bintang-bintang terletak di utara nampak tidak terbenam lagi. Banyak bintang yang terletak di selatan nampak tidak terbit lagi. Maka, di Italia Canopus (nama bintang-penerjemah) tidaklah tampak, [sebaliknya] bintang tersebut terlihat di Mesir. Flavius (nama bintang-penerjemah) adalah bintang terakhir [dapat disaksikan di penjuru lebih selatan] yang terlihat di Italia, namun tidak tampak lagi di daerah lebih dingin (maksudnya lebih dekat ke kutub utara). Sebaliknya, orang yang mengadakan perjalanan ke arah selatan, kelompok bintang kedua menjadi tampak lebih tinggi di langit; sementara itu, yang bagi mereka tampak lebih rendah, bagi kita akan tampak lebih tinggi.

.

 

 

.

Lebih jauh lagi, kemiringan kutub-kutub di mana pun juga memiliki perbandingan sama pada tempat-tempat berjarak sama pula dari kutub-kutub bumi. Hal itu hanya mungkin terjadi bila bumi berbentuk bulat. Jadi, bumi sendiri terdapat di antara-antara titik-titik puncaknya (zenit), sehingga dengan demikian berbentuk bulat.

Sebagai tambahan, penghuni bumi kawasan sebelah timur tidak menyaksikan gerhana matahari dan bulan yang terjadi saat sore hari; begitu bulan penghuni bumi kawasan sebelah barat. Sedangkan penghuni kawasan sebelah tengah-beberapa di antara menyaksikan lebih awal dan yang lainnya lebih belakangan.

.

Selanjutnya, para penjelajah mengamati bahwa air di samudera terletak tetap dalam suatu daerah. Sebagai contoh, sewaktu daratan tidak tampak pada geladak kapal, ia mungkin tampak dari puncak tiang kapal. Sebaliknya, jika sesuatu yang berkilauan dipasang pada puncak tiang kapal, orang yang berada di daratan akan menyaksikannya turun secara bertahap, sewaktu kapal bergerak menjauh dari daratan; hingga akhirnya menjadi tidak kelihatan lagi, seolah-olah terbenam.

.

Telah diketahui bahwa air, secara alami senantiasa mengalir menuju tempat rendah-sebagaimana halnya bumi-dan ia tidak naik ke pantai lebih jauh dibandingkan dengan yang diperkenankan oleh kecembungan pantai. Itulah sebabnya, mengapa daratan lebih tinggi membumbung dari lautan.”

.

Demikianlah, ulasan Kopernikus itu telah memberikan penjelasan gamblang mengenai bentuk bumi.