PENGARUH AGAMA HINDU BUDDHA DALAM MANTRA-MANTRA JAWA

PENGARUH AGAMA HINDU BUDDHA DALAM MANTRA-MANTRA JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 Juli 2016

.

Belakangan ini saya gemar mengoleksi banyak buku Primbon. Ternyata ini merupakan kepustakaan berharga dalam meneliti jejak-jejak pengaruh Hindu Buddha dalam mantra-mantra berbahasa Jawa.

.

Berikut ini adalah kutipan Mantra Sri Sadono:

.

“ Ingsun amatek ajiku si Sri Sadono, Hyang Kuwera dewaning kasugihan, Sri Sadono kang andum sandhang pangan, nyuwun gampang pados kulo sandhang tedho. Sarinane sawengine salawase gesang, gampang tekane slamet anggone lan gawe ayune sakabeh.”

.

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

.

“Aku menjalankan ilmu Sri Sadono, Hyang Kuvera merupakan dewa kekayaan. Sri Sadono yang membagikan sandang pangan (harafiah: pakaian dan makanan; maksudnya rejeki atau penghidupan). Aku memohon agar mudah mencari sandang pangan. Setiap hari dan setiap malam selama hidup ini. Mudah memperoleh keselamatan dalam menaburkan kesejahteraan bagi semuanya.”

.

Nampak pada mantra di atas disebutkannya nama Kuvera, yakni dewa kekayaan dalam tradisi Hindu Buddha. Sri Sadono mengacu pada Dewi Sri atau Srimahadevi yang disebutkan dalam Sutra Suvarnabhasotama (Sutra Cahaya Keemasan).

.

Beberapa mantra Jawa, menggunakan pembukaan “Hong” yang berasal dari “Om.” Contohnya adalah Aji Wimo Nosoro: “Hong, ingsun amatak ajiku sirep Wimonosoro,…..”

.

Mantra “Hong Wilaheng” juga umum dalam beberapa mantra Jawa, sebagai contoh adalah Aji Sirep Begonondo yang bertujuan menidurkan orang (ilmu sirep):

“Hong wilaheng. Niat Ingsun matak ajiku. Aji Sirep Begonondo. Aji Petinggengan soko Ajisoko….”

.

Ternyata Hong Wilaheng ini berada dari mantra Bodhisattva Manjushri, yakni “Om Avira Hum.” Bodhisattva Manjushri adalah makhluk suci dalam Agama Buddha Mahayana yang mewakili aspek kebijaksanaan Kebuddhaan. Kendati demikian, pada Aji Sirep Begonondo, mantra Manjushri itu digunakan untuk suatu keperluan yang tidak ada hubungannya dengan kebijaksanaan.

.

Berikut ini adalah mantra penghapus kemarahan lawan:

“….Sang Kama dadi aku, Sang Kama wurung si…….”

.

Pada mantra ini terdapat penyebutan nama Kama, yakni dewa cinta kasih dalam tradisi Hindu.

.

Sebagai tambahan, semasa kecil saya pernah mendengar mengenai ilmu rajah Kalacakra yang menurut tradisi Jawa berbunyi sebagai berikut: “Yamaraja Jaramaya. Yamarani Niramaya. Yasilapa Palasiya. Yamidara Radamiya. Yamidasa Sadamiya. Yadayuda Dayudaya. Yasiyaca Cayasiya. Yasihama Mahasiya.”

.

Ternyata, mantra ini sangat dekat dengan mantra Yamantaka dalam tradisi Agama Buddha Tantrayana: “Yamaraja Sadomeya Yamedoru Nayodaya Yadayoni Rayaksheya Yaksheyaccha Niramaya Hum Hum Phat Phat Svaha.” (sumber: http://www.yamantaka.org/index.php/2-uncategorised/215-mantra-recitation).

.

 

.

Jika kita perhatikan dengan seksama terdapat kata-kata yang mirip, seperti Yamaraja, Sadomeya dan Sadamiya, Niramaya, serta Yamedoru dan Yamidara. Oleh karenanya, pengaruh Mantra Yamantaka pada ilmu rajah Kalacakra tidak dapat dipungkiri lagi.

.

Berdasarkan contoh-contoh di atas, nampak bahwa jejak-jejak pengaruh Hindu Buddha masih dapat dijumpai dalam berbagai mantra Jawa.

.

DAFTAR BACAAN:

 

Anawati WS, Oni. Primbon Jopo Montro/ Jawa-Arab Lengkap, Bintang Usaha Jaya, Surabaya, 2003.

.

Haroemdjati. Poestaka Radja Mantra-Yoga: Ilmoe Kesaktian Gaib Berikoet Berbagi bagi Mantra, Boekhandel Kartti Dharma, Toeloengagoeng, 1936.

.

Ki Sastrahandaja. Pustaka Pandita Guru (Primbon Gaib Djapa Mantra), Usaha Penerbitan Muria, Kudus, 1955.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . 

.

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

.

Ivan Taniputera.

17 Februari 2016

.

Kidung ini merupakan buah karya Kanjeng Sunan Kalijaga.

.

 

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemehan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

.

 

TERJEMAHAN BEBAS:

.

 

Terdengar lantunan kidung di malam hari

Selamat sentosa terbebaslah dari penyakit

Terbebaslah dari seluruh bahaya

Jin dan setan urun datang

Ilmu hitam (teluh/ santet) tidak ada yang mempan

Segenap perbuatan buruk

Ilmu hitam akan sirna

Laksana Api bertemu Air

Pencuri menjauh dan tidak ada yang menyasar padaku

Ilmu hitam tunduk dan lenyap

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 November 2015

.

.

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil pembicaraan dengan seorang kawan. Ia menuturkan kisah menarik bahwa beberapa minggu sebelum terjadi gempa dashyat di Yogyakarta tahun 2006, warga di desanya diperintahkan menempelkan uang logam 100 Rupiah beserta rumput alang-alang di atas pintu rumah mereka. Selain itu, warga juga diperintahkan membuat kolak kolang kaling.

.

Pada mulanya, tiada yang mengetahui maknanya. Tetapi beberapa minggu kemudian terjadilah bencana gempa dashyat tersebut. Untungnya warga desa seluruhnya selamat, kendati mereka merasakan guncangan gempa dashyat.

.

Tradisi Jawa memang sarat dengan simbolisme atau perlambang. Setelah bencana tersebut, orang lantas menafsirkan bahwa uang logam 100 Rupiah itu melambangkan gempa bumi. Gambar gunungan di salah satu sisi uang logam mengingatkan pada pagelaran wayang kulit. Sebelum dalang menancapkan gunungan, maka ia akan mengucapkan, “Bumi gonjang ganjing….” atau artinya “Bumi bergoncang dashyat….”

.

Rumput alang-alang ditafsirkan sebagai “alang-alang” atau penghalang bagi bencana. Begitu pun juga kolak kolang-kaling dimaksudkan untuk “ngolang-ngalingi” atau menghalangi bencana.

.

Demikianlah bahasa perlambang dalam tradisi tolak bala (penolak bencana) dalam tradisi Jawa. Ternyata pada leluhur di zaman dahulu telah mempunyai kebijaksanaan yang tinggi pula.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

 
 

POHON PENANGGALAN DAN KOSMOLOGI JAWA

POHON PENANGGALAN DAN KOSMOLOGI JAWA

Ivan Taniputera

4 November 2013

.

Penanggalan Jawa

Gagasan membuat gambar ini muncul sewaktu saya membaca mengenai Serat Gatoloco. Waktu itu Gatoloco sedang beradu teka teki dengan lima orang dewi dari Padepokan Cemarajamus, yakni Dewi Mlenukgembuk, Dewi Dudulmendut, Dewi Rarabawuk, Dewi Bleweh, dan Dewi Lupitwati. Jika dapat menjawab teka-teki tersebut, Gatoloco boleh menikahi mereka. Adapun teka-teki dari Dewi Mlenukgembuk berbunyi sebagai berikut:

 

“Terdapat pohon besar, memiliki empat cabang, berdaun dua belas, hanya memiliki dua buah saja. Pohon itu kemudian bercabang delapan. Bunganya tak terhitung jumlahnya”

 

Jawabannya, pohon besar tersebut melambangkan jagad raya. Empat cabang melambangkan empat arah mata angin utama: utara, selatan, barat, timur. Dua belas daun melambangkan nama-nama bulan Jawa. Dua buah itu melambangkan rembulan beserta matahari. Selanjutnya delapan cabang melambangkan delapan nama tahun Jawa. Bunga yang tak terhitung jumlahnya melambangkan bintang-bintang.

 

Dengan demikian, sebenarnya gambar pohon besar tadi hendak mengajarkan mengenai konsep penanggalan dan kosmologi Jawa.

Nama bulan-bulan Jawa adalah:

1.Sura

2.Sapar

3.Mulud

4.Bakda Mulud

5.Jumadilawal

6.Jumadilakir

7.Rejeb

8.Ruwah

9.Pasa

10.Sawal

11.Dulkangidah

12.Dulkahijjah

Nama tahun-tahun Jawa adalah:

1.Alip

2.Ehe

3.Jimawal

4.Je

5.Dal

6.Be

7.Wawu

8.Jimakhir

Untuk artikel-artikel menarik lainnya silakan bergabung dengan https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

 

grupastrologi

BUKU KEBATINAN TENTANG WEJANGAN DAN AJARAN BERBAGAI GURU SPIRITUAL ILMU KESEMPURNAAN

BUKU KEBATINAN TENTANG WEJANGAN DAN AJARAN BERBAGAI GURU SPIRITUAL ILMU KESEMPURNAAN

Ivan Taniputera

13 Oktober 2014

.

Judul: Ilmoe Wedjangan Goeroe-goeroe

Penerbit: Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri, 1935

Jumlah halaman: 83

Pada bagian sampulnya tertulis:

“Mentjeritakan doea poeloeh matjam Wedjangan dari Goeroe-goeroe jang mengadjarkan Ilmoe Kesempoerna’an. Terhimpoen dari satoe persatoe Wedjangan.”

Buku ini meriwayatkan seseorang bernama Prastowo, di Surakarta, yang gemar beguru ilmu tua (ilmu kesempurnaan spiritual) dan senang berguru ilmu kebatinan:

“Pada waktoe itoe oemoernja sedang 17 taoen. Adapoen jang mendjadi sebabnja soeka bergoeroe itoe, jalah karena kerapkali mendenger pertjakapan handai-taulannja, jang seolah-olah dirahasiakan, sehingga ia tida boleh toeroet tjampoer dalam pertjakapan itoe. Hal jang demikikan menjebabkan akan boleh toeroet dalam pertjakapan itoe. Akan tetapi keinginannja itoe selaloe tinggal mendjadi keinginan sadja…”

Keinginan itulah yang mendorong Prastowo berguru pada berbagai guru spiritual.  Prastowo pertama-tama berguru pada Kijai Iman Mandrowo (halaman 5):

“Apabila orang bergoeroe pada kijai Imam Mandrowo, onkostnja ditentoekan, jaitoe: seorang f 10,- sedikitnja. Adapoen wang f10,- itoe, jang f 5,- boeat maskawin dan jang f 5,- lagi boeat onkost lain2, misalnja: ongkost memboeat slametan….”

Selanjutnya diriwayatkan mengenai pengajaran guru tersebut. Berikut ini adalah kutipan percakapan mereka:

“K (singkatan dari Kijai-penulis) “Anakda beloem bergoeroe lain, melainkan pada saja inikah?”

P (singkatan dari Prastowo-penulis) Begitoe, Kijai, baroe sekali ini bergoeroe.”

K “O, ja, itoelah sebabnja. Nah tjoba saja bertanja begini: Kalau anakda mempoenjai soedara, sampai lama tida bertemoe, apa namanja itoe?”

Prastowo sampai lama ta’ pandai mendjawab. kemoedian katanja:

P, “Ingat-ingat hanja lama tidak bertemoe itoelah namanja.”

K, “Bagaimana rasa hati anakda? Rasa hati itoelah jang saja tanjakan.”….”

Selanjutnya Prastowo juga berguru pada guru-guru lainnya. Buku ini meriwayatkan pengalaman Prastowo dalam menimba ilmu spiritual.

Berikut ini adalah daftar isinya:

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

KITAB DJATIMOERTI-PELAJARAN YANG LUAR BIASA TENTANG KEBATINAN

KITAB DJATIMOERTI-PELAJARAN YANG LUAR BIASA TENTANG KEBATINAN

Ivan Taniputera

14 Agustus 2014

Judul: Kitab Djatimoerti: Pada Menjatakan Keada’an Sedjati Dan Oekoeran Jang Keampat (Vierde Dimensie)

Tersalin dari bahasa Djawa kedalam bahasa Melajoe.

Penerbit: Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri, 1934

Jumlah halaman: 54

 

Buku ini memuat berbagai hal mengenai kebatinan.

 

Berikut ini adalah kutipan dari halaman 3:

 

“Bahwasenja, sesoewatoe jang ada, boleh kita pertjajai akan adanja dengan sebenarnja, lamoen ia selamanja ada: beloem pernah tiada ada dan…. kelak ta’akan tiada ada.

Sebaliknja: sesoewatoe jang ada, djika soedah pernah tida ada dan kelak akan tida ada, maka keadaan jang demikian itoe boekan keadaan jang sesoenggoehnja ada;  pada hakekatnja tiadalah dia itoe.

 

Misalnja jaitoe: seorang anak, seekor kambing, seboewah djamboe, sebatang pohon, njala api dan sebagainja… semoe itoe tida selamanja ada, hanja sekedar pada soeatoe masa sadja dan kemoedian tida ada lagi. Oleh hal jang demikian, bagaimanatah kita boleh katakan akan dia ada dengan sebenarnja, halnja seperti gelombang di laoet sadja….”

 

Pada halaman 23 dapat kita baca:

 

“Oempama: seorang manoesia amat besar nafsoenja amarah, maka moedahlah ia termasoek kedalam ‘alam nafsoe amarah (berbadan amarah) dan tahoemengatahoei dengan machloek2 dalam alam nafsoe amarah……”

 

Pada halaman 24 dapat kita baca:

 

“Keadaan sedjati ialah keadaan kita jang sebenar-benarnja.”

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

 
 

 

 

 

Berminat foto kopi segera hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

ARAH YANG BAIK DALAM MENCARI PENGHIDUPAN MENURUT PRIMBON JAWA: SUATU KONSEP RUANG DAN WAKTU TRADISIONAL

ARAH YANG BAIK DALAM MENCARI PENGHIDUPAN MENURUT PRIMBON JAWA: SUATU KONSEP RUANG DAN WAKTU TRADISIONAL
Ivan Taniputera
(ivan_taniputera@yahoo.com)
28 November 2013
Berikut ini adalah pedoman mencari arah yang baik dalam mencari penghidupan yang diambil dari buku Primbon Jawa. Pedoman ini mencerminkan konsep Jawa mengenai ruang dan waktu, dimana ruang beserta waktu akan senantiasa berubah baik dan buruknya. Karena konsep perhitungan waktu yang berputar (siklis) berdasarkan sistim Lima Hari (Pancawara) dan sistim Tujuh Hari (Saptawara), maka arah baik serta buruk itu juga akan mengalami siklus pula, yang akhirnya juga kembali ke asal lagi.

 

Menurut tradisi Primbon Jawa tersebut, arah mata angin dalam suatu hari pasaran tertentu dapat digolongkan menjadi empat, yakni sandhang, pangan, lara, dan pati. Sandhang dan pangan secara harafiah berarti “pakaian” serta “makanan,” sehingga tentunya ini merupakan arah yang bagus. Sedangkan lara dan pati, secara harafiah berarti “penyakit” serta “kematian,” sehingga tentunya merupakan arah yang kurang bagus. Arah-arah yang kurang bagus itu tentunya harus dihindari.

Sebagai contoh adalah hari Jum’at Pahing, menurut Primbon, pada hari tersebut, sandhang jatuh di barat, pangan jatuh di selatan, lara jatuh di timur, dan pati di utara.

Berikut ini adalah tabel selengkapnya.