ILMU RAMALAN BARANG HILANG MENURUT PRIMBON JAWA

ILMU RAMALAN BARANG HILANG MENURUT PRIMBON JAWA.

.

Ivan Taniputera.

15 Oktober 2018.

.

Primbon merupakan salah satu warisan budaya bangsa. Itulah sebabnya, pada kesempatan kali ini saya akan menulis artikel mengenai ilmu ramalan barang hilang sebagaimana terdapat pada Primbon Jawa.

.

Pertama-tama kita harus mengenal terlebih dahulu angka naptu gabungan sistim lima harian (Pancawara: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing) serta sistim tujuh harian (Saptawara: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu). Berikut ini adalah angka masing-masing.

.

SAPTAWARA

.

Senin = 4

Selasa = 3

Rabu = 7

Kamis = 8

Jumat = 6

Sabtu = 9

Minggu = 5

.

PANCAWARA

.

Pon = 7

Wage = 4

Kliwon = 8

Legi = 5

Pahing = 9

.

Cara mencari angka naptu sangat mudah. Tinggal dijumlahkan saja angka masing-masing. Sebagai contoh adalah hari Rabu Pahing. Rabu angkanya adalah 7. Pahing angkanya adalah 9. Jadi, naptu Rabu Pahing adalah 7 + 9 atau 16.

Untuk memudahkan dapat menggunakan tabel di bawah ini.

.

.

Kini kita akan membahas ilmu ramalan barang hilang tersebut. Dalam Primbon saya mendapati dua jenis ramalan.

.

RAMALAN BARANG HILANG 1.

.

Angka naptu hari barang tersebut hilang dibagi 7. Jikalau tidak diketahui kapan hilangnya, dapat pula mempergunakan hari barang tersebut disadari kehilangannya.

.

Jika bersisa 0 (disebut Gajah), maka artinya orang yang mengambil benda tersebut sudah jauh keberadaannya.

.

Jika bersisa 1 (disebut Naga), maka artinya barang itu hilang karena kecerobohan. Akibat kurang teliti, barang yang ditanyakan itu hilang atau terselip.

.

Jika bersisa 2 (disebut Panagan), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang dikenal; kemungkinan adalah salah seorang teman, saudara, rekan, dan lain sebagainya.

.

Jika bersisa 3 (disebut Basu), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang tinggal serumah dengan Anda. Namun saya menafsirkannya pula bahwa mungkin juga maknanya adalah barang itu masih berada di rumah Anda sendiri. Jadi belum tentu diambil oleh seseorang. Mungkin juga Anda yang lupa meletakkannya. Dengan demikian, Anda dapat mencarinya di dalam rumah Anda sendiri.

.

Jika bersisa 4 (disebut Tanu), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang tinggalnya bertetangga dengan Anda. Saya menafsirkan juga bahwa bahwa belum tentu barang itu diambil orang dengan sengaja. Bisa juga terjatuh tanpa sengaja di pekarangan tetangga Anda. Apabila mendapatkan hasil ramalan ini, Anda dapat mencoba mengingat-ingat apakah Anda baru saja bertandang ke rumah tetangga Anda. Jikalau benar demikian, Anda dapat meminta izin tetangga Anda secara baik-baik untuk memeriksa pekaranganya atau tempat yang Anda baru saja kunjungi.

.

Jika bersisa 5, maka artinya barang itu diambil oleh peminta-minta. Tetapi saya akan mengartikannya sebagai seseorang yang sedang mengharapkan bantuan atau pertolongan Anda. Mungkin dapat diartikan sebagai orang yang sedang kekurangan dan memerlukan sesuatu dengan segera.

.

Jika bersisa 6 (disebut Watu), maka artinya orang yang mengambil barang tersebut sudah pergi meninggalkan tempat tersebut dan sulit lagi dilacak keberadaannya.

.

Kita ambil contoh barang yang hilang hari Rabu Pahing. Angka naptunya adalah 16. Kita bagi 16 dengan 7. Hasilnya adalah 2 sisa 2. Karena bersisa 2, maka hasil ramalannya adalah Panagan.

.

RAMALAN BARANG HILANG 2

.

Angka naptu hari barang tersebut hilang dibagi 4. Jikalau tidak diketahui kapan hilangnya, dapat pula mempergunakan hari barang tersebut disadari kehilangannya.

.

Jika bersisa 0 (disebut Epleng), maka artinya barang yang hilang tersebut tidak dapat ditemukan kembali.

.

Jika bersisa 1 (disebut Pitik), maka artinya yang mengambil adalah orang yang sedang menggembala ternak (Jawa: angon). Di kota-kota besar, orang yang menggembala ternak sudah jarang, jadi tentu saja maknanya harus kita sesuaikan. Saya menafsirkan bahwa maknanya dapat pula berarti orang yang sedang menjalankan suatu tugas tertentu. Tugas itu sulit ditinggalkan olehnya. Kemungkinan penafsiran lain adalah orang yang sedang mengasuh sesuatu.

.

Jika bersisa 2 (disebut Benik), maka artinya yang mengambil adalah orang yang menjadi anggota suatu gerombolan. Di zaman sekarang, gerombolan pengacau keamanan dapat dikatakan sudah tidak ada. Negara kita dalam keadaan aman dan damai. Itulah sebabnya, maknanya harus sedikit kita sesuaikan dengan kondisi masa kini. Saya menawarkan penafsiran sebagai berikut: (1) Orang yang mengambilnya merupakan anggota suatu perkumpulan, kelompok atau organisasi yang beranggotakan banyak orang. Yang patut diingat, perkumpulan atau kelompok ini belum tentu merupakan sesuatu yang buruk. Bisa jadi, ia hanyala oknum yang mencoreng nama organisasinya; (2) Dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang.

.

Jika bersisa 3 (disebut Cumbu), maka artinya barang itu akan dengan mudah ditemukan kembali.

.

Kita ambil contoh barang yang hilang hari Rabu Pahing. Angka naptunya adalah 16. Kita bagi 16 dengan 4. Sisanya adalah 0. Karena bersisa 0, maka hasil ramalannya adalah Epleng.

.

Jika kita gabungkan hasil pembacaan ramalan barang hilang pertama dan kedua, maka hasilnya adalah: “Barang itu kemungkinan diambil oleh orang yang dikenal; namun sulit sekali ditemukan kembali.”

.

Dengan demikian, kita telah mengulas dengan jelas dua ilmu ramalan barang hilang; sebagaimana dimuat dalam Primbon Jawa.

.

Yang patut diingat, kita hendaknya menggunakan ramalan ini dengan bijaksana. Belum tentu seseorang itu mengambil dengan kesengajaan. Mungkin saja, ia tanpa sengaja membawanya. Dengan kata lain, barang yang hilang itu terbawa olehnya. Itulah sebabnya, kita jangan menuduh sembarangan. Jika hendak menanyakannya, pergunakanlah kata-kata yang sopan dan halus serta jauh dari kesan menuduh. Ingat, bahwa menuduh seseorang tanpa bukti termasuk tindak pidana dan dapat dibawa ke pengadilan. Anda dapat dituduh mencemarkan nama baik. Ilmu ini juga adalah sekedar ramalan yang belum tentu terbukti kebenarannya.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . 

.

 .

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA

CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA.

.

Ivan Taniputera.

28 September 2016

.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai bagaimana menentukan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa. Kemungkinan banyak yang masih bingung dalam menggunakan Primbon Jawa. Meskipun demikian, jika kita mengetahui urutan atau algoritma dalam mencarinya, maka hal itu tidaklah sulit. Kit akan membandingkan pula dengan primbon-primbon lainnya, dimana terdapat perbedaan-perbedaan. Artikel ini juga bertujuan melestarikan budaya warisan leluhur, mengingat primbon-primbon adalah warisan budaya bangsa.

.

Dalam menentukan hari baik pernikahan menurut Primbon Jawa, maka prinsipnya adalah dari “yang lebih besar ke kecil.” Artinya adalah dari cakupan waktu yang lebih besar terlebih dahulu, kemudian semakin kecil. Dalam hal ini kita mulai dari tahun menurut windu. Berdasarkan perhitungan Jawa, terdapat delapan nama tahun; yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Kita akan mencoret hari yang buruk satu persatu berdasarkan urutan kriteria-kriteria di bawah ini.

.

A. PEMILIHAN BULAN

.

Menurut Primbon Jawa terdapat bulan-bulan yang buruk berdasarkan masing-masing tahun di atas. Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip, bulan 1 (Sura)
  • Ehe, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Jimawal, bulan 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Je, bulan 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 9 (Pasa), dan 12 (Besar)
  • Dal, bulan 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 9 (Pasa), dan 10 (Sawal)
  • Be, bulan 6 (Jumadilakir) dan 12 (Besar)
  • Wawu, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), dan 9 (Pasa)
  • Jimakir, bulan 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 10 (Sawal), dan 12 (Besar)

.

Jadi jika pernikahan hendak dilangsungkan pada tahun Ehe, maka bulan 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 kita coret.

.

Selain itu, masih ada kriteria lain, bulan yang tidak terdapat hari Selasa Kliwon (Anggarakasih), dimana bulan-bulan itu tidak boleh diselenggarakan bagi pernikahan.

.

  • Alip, bulan Jumadilakir, Besar.
  • Ehe, bulan Rejeb
  • Jimawal, bulan Sura dan Ruwah
  • Je, bulan Sapar dan Ruwah
  • Dal, bulan Mulud dan Pasa
  • Be, bulan Jumadilawal
  • Wawu, bulan Rabingulakir dan Dulkangidah
  • Jimakir, bulan Jumadilawal.

.

Jadi pada tahun Ehe, setiap bulan Rejeb akan kita coret.

Terdapat bulan yang terbaik dalam masing-masing tahun. Jika memungkinkan pernikahan diselenggarakan pada bulan-bulan berikut.

.

  • Alip, bulan 9 (Pasa) dan 11 (Dulkaidah)
  • Ehe, bulan 4 (Bakdamulud), 9 (Pasa), 1 1 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimawal, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), dan 12 (Besar)
  • Je, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 10 (Sawal), dan 11 (Dulkaidah)
  • Dal, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 8 (Ruwah), dan 11 (Dulkaidah)
  • Be, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), dan 7 (Rejeb)
  • Wawu, bulan 1 (Sura), 10 (Sawal), 11 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimakir, bulan 1 (Sura) dan 11 (Dulkaidah).

.

Jika memungkinkan, bulan-bulan di atas boleh dipilih. Namun bulan-bulan yang tidak tergolong buruk walaupun bukan terbaik, boleh dipilih.

.

Masih terdapat lagi apa yang disebut Larangan Sasi, yakni bulan yang kurang baik pada masing-masing tahun.

.

  • Alip: bulan Jumadilakir dan Dulkaidah.
  • Ehe: bulan Rabingulawal dan Pasa
  • Jimawal: Mulud dan Besar
  • Je: Sura dan Sawal
  • Dal: Ruwah
  • Be: Sapar dan Rejeb
  • Wawu: Jumadilawal
  • Jimakir: Sura dan Dulkaidah.

.

Anehnya terdapat kontradiksi sini, pada tahun Alip menurut daftar sebelumnya bulan Dulkaidah dianggap baik; tetapi berdasarkan Larangan Sasi, bulan tersebut dianggap buruk. Oleh karenanya, jika hendak menggunakan juga kriteria Larangan Sasi, maka bulan Dulkaidah juga perlu dicoret.

.

B. PEMILIHAN HARI.

.

 

Selanjutnya Primbon Jawa, terdapat hari Saptawara (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, serta Minggu) dan Pancawara (Pon, Wage, Kliwon, Legi, serta Pahing).

.

Berikut ini terdapat hari yang sudah sifatnya jelek, dibagi menjadi hari jelek dan sangat jelek.

  • Hari jelek: Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, Senin Legi, dan Kamis Wage.
  • Hari sangat jelek: Rabu Lebi, Minggu Pahing, Kamis Pon, Selasa Wage, dan Sabtu Kliwon.

.

Hari-hari di atas perlu kita coret terlebih dahulu.

 

Selanjutnya terdapat hari yang kurang baik dalam masing-masing tahun tersebut. Hari-hari yang kurang baik itu disebut kunarpaning warsa (kita singkat “k”) dan sangaring warsa (kita singkat “s”). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip: Sabtu Pahing (k) dan Jum’at Legi (s)
  • Ehe: Kamis Pahing (k) dan Selasa Kliwon (s)
  • Jimawal: Senin Pagi (k) dan Minggu Kliwon (s)
  • Je: Jumat Legi (k) dan Kamis Wage (s)
  • Dal: Rabu Kliwon (k) dan Senin Pon (s)
  • Be: Minggu Wage (k) dan Sabtu Legi (s)
  • Wawu: Kamis Pon (k) dan Rabu Pahing (s)
  • Jimakir: Selasa Pon (k) dan Minggu Legi (s).

.

Jadi, jika ingin menyelenggarakan pernikahan pada tahun Ehe, maka kita mengutamakan bulan yang baik, yakni 4, 9, 11, dan 12. Namun bulan-bulan selain 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 boleh digunakan; hanya saja yang terbaik adalah 4, 9, 11, dan 12.

.

Kita mencoret setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon pada bulan 4, 9, 11, dan 12.

.

Lebih jauh lagi, pada masing-masing bulan terdapat hari-hari yang baik bagi berbagai kegiatan. Hari-hari tersebut digolongkan menjadi Sasi Rahaju (disingkt r) dan Sasi Sardju (dsingkat sa). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Besar (12), Sura (1), dan Sapar (2): Rabu dan Kamis (r), Jumat (sa).
  • Mulud (Rabingulawal, 3), Rabingulakir (4), Jumadilawal (5): Jumat (r), Sabtu dan Minggu (sa).
  • Jumadilakir (6), Rejeb (7), Ruwah (8): Sabtu dan Minggu (r); Senin dan Selasa (sa).
  • Pasa (9), Sawal (10), Dulkaidah (11): Senin dan Selasa (r); Rabu dan Kamis (sa).

.

Oleh karenanya, pada tahun Ehe, setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon, bulan 4, 9, 11, dan 12 sudah kita coret. Apabila dipilih bulan ke 4, maka dapat dipilih Jumat, Sabtu, dan Minggu.

.

Primbon Jawa juga masih mempunyai apa yang dinamakan hari Taliwangke, yang buruk pada masing-masing bulan.

  • Sura: Rabu Pahing
  • Sapar: Kamis Pon
  • Rabingulawal: Jumat Wage
  • Rabingulakir: Sabtu Kliwon
  • Jumadilawal: Senin Kliwon
  • Jumadilakir: Selasa Legi
  • Rejeb: Rabu Pahing
  • Ruwah: Kamis Pon
  • Pasa: Jumat Wage
  • Sawal: Sabtu Kliwon
  • Dulkaidah: Senin Kliwon
  • Besar: Selasa Legi

.

Kini kita tiba pada pemilihan hari berdasarkan Wuku.

.

  • Terdapat hari Taliwangke atau hari buruk berdasarkan Wuku: Wuye, hari Senin Kliwon; wuku Wayang hari Selasa Legi; wuku Landep hari Rabu Pahing; wuku Warigalit hari Kamis Pon; wuku Kuningan hari Jumat Wage; wuku Kuruwelut hari Sabtu Kliwon.
  • Selain Taliwangke terdapat lagi hari Samparwangke yang juga kurang baik. Penentuannya juga didasari Wuku: Warigalit hari Senin Kliwon; Bala hari Senin Legi; Langkir hari Senin Pahing; Sinta hari Senin Pon; Tambir hari Senin Wage.

.

C. PEMILIHAN TANGGAL

 

Kita beralih pada tanggal-tanggal yang buruk pada masing-masing bulan.

  • Sura: 17, 27, 11, dan 14
  • Sapar: 19, 22, 1, dan 20
  • Rabingulawal: 13, 23, 10, dan 15
  • Rabingulakir: 15, 25, 10, dan 20
  • Jumadilawal: 16. 26, 10, dan 11
  • Jumadilakir: 11, 21, 3, dan 14
  • Rejeb: 12, 22, 11, dan 12
  • Ruwah: 14, 24, 19, dan 28
  • Pasa: 15, 25, 10, dan 20
  • Sawal: 17, 27, 2, dan 20
  • Dulkaidah: 11, 21, 6, dan 12
  • Besar: 13, 23, 1, dan 20.

.

Tanggal di atas pada masing-masing bulan harus dicoret.

.

Namun masih ada kriteria-kriteria lainnya.

.

Terdapat apa yang disebut tanggal naas pada masing-masing bulan:

.

  • Sura, tanggal 11 dan 6.
  • Sapar, tanggal 1 dan 20.
  • Rabingulawal, tanggal 10 dan 20.
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20.
  • Jumadilawal, tanggal 1 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 2 dan 14
  • Ruwah, tanggal 12 dan 13
  • Pasa, tanggal 9 dan 20
  • Sawal, tanggal 10 dan 20
  • Dulkaidah, tanggal 12 dan 13
  • Besar, tanggal 6 dan 10.

.

Terdapat pula kriteria tanggal sangar pada masing-masing bulan”

.

  • Sura, tanggal 13
  • Sapar, tanggal 10
  • Rabingulawal, tanggal 8
  • Rabingulakir, tanggal 28
  • Jumadilawal, tanggal 28
  • Jumadilakir, tanggal 18
  • Rejeb, tanggal 18
  • Ruwah, tanggal 26
  • Pasa, tanggal 24
  • Sawal, tanggal 2
  • Dulkangidah, tanggal 28
  • Besar, tidak ada.

.

Masih ada lagi kriteria yang disebut Bangas Padewan. Tanggal-tanggal ini juga tidak boleh dipergunakan bagi pernikahan:

.

  • Sura, tanggal 11
  • Sapar, tanggal 20
  • Rabingulawal, tanggal 1 dan 15
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20
  • Jumadilawal, tanggal 10 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 13 dan 27
  • Ruwah, tanggal 4 dan 28
  • Pasa, tanggal 7 dan 20
  • Sawal, tanggal 10
  • Dulkangidah, tanggal 2 dan 22
  • Besar, tanggal 6 dan 20

.

Berikut ini adalah hari-hari naas yang hanya terdapat di bulan-bulan khusus saja dan disebut naas para nabi: Sura, tanggal 13; Rabingulawal, tanggal 3; Rabingulakir, tanggal 16; Jumadilawal, tanggal 5; Pasa, tanggal 21; Dulkangidah, tanggal 24; Besar, tanggal 25.

.

D. PEMILIHAN JAM

.

Berikut ini adalah jam-jam yang baik, berdasarkan tanggal:

1, 6, 11, 16, 21, 26: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11 (biasa), jam 1.12-3.35

2, 7, 12, 17, 22, 27: jam 8.24-10.17 (biasa), 10.18-1.11, 3.36-5.59

3, 8, 13, 18, 23, 28: jam 6-8.23 (biasa), 8.24-10.17, 1.12-3.35

4, 9, 14, 19, 24, 29: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11, 3.36-5.59 (biasa)

5. 10, 15, 20, 25, 30: jam 8.24-10.17, jam 1.12-3.35 (biasa), jam 3.36-5.59.

.

Jam yang baik berdsarkan pasaran:

  • Legi: jam 6-10.17
  • Pahing: jam 6-1.11
  • Pon: jam 6-8.23, 1.12-5-59
  • Wage: jam 10.18-5.59
  • Kliwon: jam 8.24-3.35

.

Demikianlah alur pemilihan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa, yang dalam hal ini diambil dari Primbon Betaljemur.

.

E. PERBANDINGAN DENGAN PRIMBON LAIN

.

Kita akan membandingkannya dengan Primbon lain.

.

Primbon Sabda Guru (halaman 37), juga memuat daftar yang hampir sama terkait kunarpaning warsa dan sangaring warsa. Hanya saja terdapat satu perbedaan dengan Primbon Betaljemur, yakni sangaring warsa pada tahun Be. Primbon Betaljemur mencantumkan Sabtu Legi (halaman 6), sedangkan Primbon Sabda Guru mencantumkan Sabtu Pon. Apakah kemungkinan ini adalah salah cetak? Perbedaan lain, adalah pada bulan yang tidak ada hari Anggara Kasihnya. Primbon Betaljemur mencantumkan Jumadilawal, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 33) mencantumkan Rabingulakir. Tanggal naas para nabi juga terdapat satu perbedaan saja, yakni bulan Besar, Primbon Betaljemur mecantumkan 5, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 35) mencantumkan 5.

.

Anehnya, Primbon Pusaka Guru, halaman 55-56 justru memuat hari baik dan buruk yang berkebalikan dengan Primbon Betaljemur. Jadi, jika Primbon Betaljemur menyatakan bahwa pada tahun Alip bulan Sura adalah buruk, maka Primbon Pusaka Guru justru menyatakan baik.

Primbon Puspa Wahju memiliki perhitungan berbeda, terkait hari-hari buruk. Sebagai contoh:

.

Sawal: Jumat Wage, Sabtu, dan Minggu, Jumat disebut Sangar bulan. Tanggal yang buruk adalah 2 dan 10.

.

Dengan demikian, terjadi perbedaan di sini. Oleh karenanya, hal ini perlu mendapatkan penelitian lebih lanjut. Barangkali para pakar primbon perlu berkumpul dan meneciptakan suatu primbon standar. Kesalahan-kesalahan lama perlu diperbaiki.

.

DAFTAR PUSTAKA.

.

Handanamangkara, SPH. Primbon Djawa Sabda Guru, Penerbit/ Toko buku KS, Solo, 1970.

Harja Tjakraningrat, Kangdjeng Pangeran Harja Tjakraningrat. Kitab Primbon Betal Djemur, Soemodidjojo Mahadewa, —–.

———–. Primbon Puspa Wahju, Gajabaru, Surabaja, 1953.

Sastrahandaja, Ki. Primbon Pusaka Guru, Muria, Kudus, 1954.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339… . . . . . . .

 

.

 

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

BUKU PUSAKA KRATON TANAH JAWA YANG LUAR BIASA MENGENAI PENGOBATAN TRADISIONAL DAN ILMU RAMALAN

BUKU PUSAKA KRATON TANAH JAWA YANG LUAR BIASA MENGENAI PENGOBATAN TRADISIONAL DAN ILMU RAMALAN

.

Ivan Taniputera.

15 Juni 2016.

.

 
 

.

Judul: Poesaka Kraton Tanah Djawa: Djilid Pertama Boekoe Pantja Warna

Terdapat keterangan: Terisi dengan segala pengetahoean oemoem jang banjak terpake menoeroet adat istiadat dari bangsa Boemipoetra sedari dzaman doeloe kala.

Penulis: Tidak diketahui.

Penerbit: Astrologisch Bureau “Aquarius,” Semarang, sekitar tahun 1920-1930-an.

Jumlah halaman: 109.

.

Buku ini berisikan beragam hal yang ada kaitannya dengan kepercayaan tradisional Jawa, seperti mencari hari baik dan buruk, meramalkan nasib seseorang berdasarkan aksara Jawa (hanacaraka) paling depan serta paling belakang nama seseorang, makna pranata mangsa, tabiat wanita berdasarkan namanya, ilmu pengobatan tradisiona, dan metoda ramal dengan dadu.

.

Lalu terdapat pula selamatan menurut hari kelahiran (weton) seseorang, misalnya orang yang lahir pada Djoemat Legi, maka selamatannya adalah:

.

“Toempeng megono pake goedangan (djanganan),,,,,,” (halaman 47).

.

Selanjutnya terdapat pula metoda ramalan dengan menggunakan dadu.

.

Berikut ini adalah daftar isinya:

.

 

 

.

 
 

.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

 

 

.

 
 

.

 

.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

.

Ivan Taniputera.

15 Juni 2016

.

 
 

.

Ini merupakan metoda ramalan cukup sederhana yang diambil dari pustaka Primbon Jawa. Gunanya untuk meramalkan apakah pekerjaan dan rencana Anda akan berhasil atau tidak.

.

Caranya adalah dengan mengambil segenggam kerikil atau biji-bijian (boleh kacang hijau, kecik atau biji sawo, beras, jagung, dan lain sebagainya). Sebelum mengambilnya silakan memusatkan pikiran pada pertanyaan Anda dan berdoa sesuai agama beserta keyakinan masing-masing. Selanjutnya pisahkan kerikil atau biji-bijian tersebut menjadi tujuh-tujuh bagian hingga sisanya kurang dari tujuh dan dihitung berapa sisanya. Berikut ini adalah makna masing-masing jumlah yang tersisa.

.

Jika tidak ada yang tersisa (sisa 0), maka disebut Bintang Buda (Merkurius). Ini berarti bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu dapat menuai keberhasilan, dimana kesuksesan tersebut berasal dari tekad kuat beserta tanggung jawab Anda. Oleh karenanya, Anda disarankan lebih bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh agar pekerjaan serta cita-cita Anda tercapai.

.

Jika bersisa satu, maka disebut Bintang Sukra (Venus). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu akan menuai keberhasilan dengan mudah. Meski ramalan menyatakan demikian, Anda disarankan tetap waspada dan jangan lengah.

.

Jika bersisa dua, maka disebut Bintang Anggara (Mars). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu tidak akan membuahkan hasil atau gagal karena terdapat hambatan yang menghadang.

.

Jika bersisa tiga, maka disebut Bintang Raditya (Matahari). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan berhasil dengan sempurna.

.

Jika bersisa empat, maka disebut Bintang Tumpak (Saturnus). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan tidak dapat berhasil. Meskipun bekerja keras, namun akhirnya tetap akan menuai kegagalan.

.

Jika bersisa lima, maka disebut Bintang Respati (Yupiter). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai hambatan. Kendati demikian, jika bekerja keras mengupayakannya tetap akan menuai keberhasilan.

.

Jika bersisa enam, maka disebut Bintang Soma (Bulan). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai keberhasilan sebagaimana diharapkan.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 130 TAHUN MENGENAI ILMU NUMEROLOGI JAWA YANG LUAR BIASA

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 130 TAHUN MENGENAI ILMU NUMEROLOGI JAWA YANG LUAR BIASA.

.

Ivan Taniputera.

6 Mei 2016.

.

 
 

Judul: Ngelmoe Gaibing Ongko: Isi Pesatohan bab Laki-rabi, lan wadhining ongko, kanggo ngolah kawroeh marang wong ahli ngelmoe gaib, oetowo petangan kanggo ngawroehi opo barang sadhoeroenge kedhadhejan.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Ilmu Kegaiban Angka: Berisikan perjodohan suami-isteri, dan rahasia angka, guna meningkatkan pengetahuan bagi ahli ilmu gaib, atau ramalan guna mengetahui apa yang akan terjadi.”

Penulis: Ng. H. Soediro.

Penerbit: Astrologisch Bureau “Aquarius,” Semarang.

Angka tahun tidak tertera, namun menurut sumber http://onesearch.id/Record/IOS1-INLIS000000000469739, maka buku ini diterbitkan tahun 1883, sehingga usianya kurang lebih sudah 130 tahun lebih.

Jumlah halaman: 116.

Bahasa: Jawa.

.

Buku ini berisikan numerologi berdasarkan aksara Arab. Berikut ini adalah daftar isinya.

.

 
 

.

 
 

.

 
 

.

Berikut ini adalah caranya.

.

 
 

.

Pada halaman di atas dijelaskan mengenai nilai masing-masing aksara Arab. Selanjutnya nama seseorang dialih aksarakan dengan aksara-aksara di atas. Lalu dijumlahkan nilai angkanya. Buku ini juga memberikan berbagai contoh, antara lain salah seorang terkaya di Asia Tenggara pada masa lampau, yakni Oei Tiong Ham.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

 
 

.

 
 

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

PRIMBON ILMU PERBINTANGAN JAWA

PRIMBON ILMU PERBINTANGAN JAWA

.

Ivan Taniputera.

6 Mei 2016

.

 

 
 

.

Judul: Primbon Ramalan Nabi Palintangan: Wawatakanipun Manungsa Sarta Apes dan Djajane

Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, maka judulnya adalah: “Primbon Ramalan Nabi dan Perbintangan: Kepribadian Manusia Beserta Kemalangan dan Keberuntungannya.”

Penulis:– (tidak tercantum).

Penerbit: Mahadewa, 1950

Jumlah halaman: 7

Bahasa: Jawa.

.

Buku ini merupakan ramalan berdasarkan neptu, yakni jumlah nilai numerologi hari berjumlah tujuh (Saptawara: Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu) serta hari berjumlah lima (Pancawara: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing). Keduanya dijumlahkan, lalu dicari makna nilainya pada buku ini.

.

Sebagaai contoh, orang yang mempunyai jumlah neptu 7:

.

“Neptu 7. Lintang Midian, bala lintang kuda, satru lintang Djadi. Watake agung begdjane, akeh godane. Laksanane angin, tan kena gegondjakan. Larane sirah, sranane nganggo ali-ali mata idjo…..”

.

Terjemahan bahasa Indonesia:

.

“Neptu 7. Bintang Midian. Cocok dengan bintang kuda. Tidak cocok dengan bintang Djadi. Banyak keberuntungannya. Sering mendapat godaan. Ibaratnya angin, tidak dapat diajak bergurau. Penyakitnya adalah bagian kepala. Penangkalnya adalah mengenakan cincin bermata batu hijau…..”

.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

 
 

.

 
 

.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

Ivan Taniputera

21 September 2015

 

Beberapa jilid buku ini merupakan kumpulan luar biasa berbagai ramalan dan hal-hal gaib di seluruh penjuru Tanah Jawa. Berikut ini adalah jilid-jilid yang tersedia.

 

JILID 1

 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid 1. De Geschiedenis der Godsdiensten op Java

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia

Jumlah halaman: 425 

Bahasa: Belanda.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

 

 

Jilid pertama ini berisikan berbagai hal yang luar biasa. Sebagai contoh, terdapat uraian mengenai dewa-dewa Hindu:

 

“PARABRAHMA

 

de God der Brahmanen, de Almacht, Die, vereenzelvigd met het Nirwana, de oorsprong is van alles, wat bestaat. In de Weda’s wordt uit eerbied Zijn naam niet genoemd, doch vervangen door:…….” (halaman 20).

 

Terjemahan:

 

“PARABRAHMA

 

Dewa kaum Brahmana, Yang Maha Kuasa, yang disamakan dengan Nirwana, merupakan asal muasal segala sesuatu yang ada. Dalam Weda, karena rasa hormat, maka nama Beliau tidak pernah disebutkan, namun digantikan oleh:…..”

 

Lalu terdapat pula legenda mengenai asal muasal terjadinya perhitungan Wuku (Pawukon), sebagaimana tercantum di halaman 72:

 

“In der beginne der heerschappij van Batara Goeroe op aarde, was zijn rijk verdeelde in vijf hoofd en vier onderdeelen. De vijd hoofddeelen, zijnde het Oosten, Westen, Zuiden, Noorden, en Midden, hadden ieder een zekeren dag van oppergebied, van marktijd en van gezag. De vijf dagen vormden een kleine tijdcirkel…”

 

Terjemahan:

 

“Pada awal masa pemerintahan Batara Guru di muka bumi ini, daerah kekuasaannya dibagi menjadi lima bagian utama dan empat bagian lanjutan. Kelima bagian utama itu adalah Timur, Barat, Selatan, Utara, dan Tengah, masing-masing mempunyai kekuasaan atas hari-hari tertentu, sebagai penanda waktu dan aturan. Kelima hari itu membentuk satu siklus kecil….”

 

Selanjutnya dalam buku ini juga dibahas mengenai jenis-jenis makhluk halus baik berasal dari tradisi India maupun Jawa. Sebagai contoh adalah:

 

“719 PHISATJA dan 720 PHISATJIS

 

de zoogenammde vampires, die in holen en kloven huizen en voornamelijk er op uit gaan, om menschen en dieren en al waat leeft kwaad te doen en hun het bloed uit te zuigen. Eenige van deeze reuzen, die in de mythologie met naam genoemd worden, zullen wij trachten in het kort the beschrijven.” (halaman 119).

 

Terjemahan:

 

“PHISATJA DAN PHISATJIS

 

Merupakan semacam vampir, tinggal dalam gua dan jurang-jurang serta keluar mencari manusia, hewan, dan makhluk hidup guna melakukan sesuatu yang jahat dengan menghisap darah mereka. Beberapa makhluk ini yang namanya disebutkan dalam mitologi akan kita ulas secara ringkas…”

 

Lalu terdapat pula uraian mengenai legenda-legenda Jawa, misalnya mengenai asal muasal iblis, dunia, dan lain sebagainya.

 

Berikut ini adalah nama-nama makhluk halus dalam kepercayaan Jawa:

 

1. DE TJINOENOEK

2. DE KABO KAMILI

3. DE DADOENG AWOES’S

4. DE POTO

5. DE SAWAN

6. DE SARAP

7. DE DHENGEN

8. DE MADJOESI

9. DE GENDROEWA

10. DE WEWE

11. DE KOENTHIANAK

12. DE BONTOT

13. DE BANASPATI

14. DE SETAN OESOES

15. DEN DJERANGKONG

16. DE ANTOE DARAT

17. DE ANTOE LAOET

18. DE KEMAMANG

19. DEN BISOE

20. DE LAMPOR

21. DE LAHA

22. DE BLORONG

23. DE GOENDHOEL

24. DE BELIS

25. DE SATO

26. DE DINKEL

27. DE TETELO

28. DE KITJIWIS

29. DE GEBLOEK

30. DE KEBLEK

 

dan lain-lain, masing-masing dengan penjelasannya. Secara keseluruhan terdapat 93 jenis hantu yang diulas dalam buku ini.

 

Meskipun demikian, pada halam 238 hingga 243, terdapat tambahan 24 jenis hantu (spoken) lagi, namun beberapa di antaranya mendapatkan pengaruh tradisi India.

 

Pada halaman 266 hingga 271 diulas mengenai malaikat-malaikat yang kemungkinan dari namanya mencerminkan pengaruh Arab. Sebagai contoh adalah: Djabarail, Mikail, Israfil, Idjrail, Malakal Maoet, Asrael, Roeman, Moenkar, Nakir, dan lain sebagainya. Masing-masing beserta ulasannya. Selanjutnya terdapat pula tabel yang menghubungkan antara nama bintang beserta malaikat. 

 

Pada halaman 282 hingga 285 terdapat uraian mengenai selamatan beserta tata caranya.

 

Selanjutnya, terdapat uraian mengenai pengaruh-pengaruh iblis, makhluk halus, dan hantu terhadap manusia, antara lain menimbulkan penyakit. Sebagai contoh, ini adalah penyakit-penyakit yang ditimbulkan beserta hari berjangkitnya penyakit.

 

“Zaterdag: Rechter oor, knieen, en beenderenstelsel.

Donderdag: Linker oor, dijen, voeten, en slagaderensysteem.” (halaman 287).

 

Terjemahan:

 

“Sabtu: telinga kanan, lutut, dan tulang

Kamis: telinga, paha, kaki, dan sistem arteri Kiri……”

 

Terdapat uraian mengenai tradisi ruwatan (kias) terhadap urutan kelahiran anak yang dianggap kurang baik beserta sesajiannya.

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

 
 

 

 

 
 

JILID II

 
 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid II. A. De Bedoewi’s en hun Pawoekon’s (Orang Badui dan Pawukon mereka). B. De Tiang Tengger en hun Ngelmoe (Tiang Tengger dan Ngelmu mereka).

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C

Jumlah halaman: 338

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini mengupas mengenai Pawukon (perhitungan Wuku) dan juga beberapa metoda ramalan atau petangan.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Ini adalah contoh halaman yang memuat perhitungan wuku beserta keterangannya, seperti tentang selamatan dan lain sebagainya.

 
 

 
 

Berikut ini adalah contoh-contoh halaman lainnya, yang memuat berbagai petangan  atau ramalan dan lain sebagainya. 

Cara meramal cukup sederhana, dapat menggunakan dadu atau kartu domino. Pertama-tama dengan melihat daftar pertanyaan dan sesudah itu dicocokkan dengan tabel jawabannya.

 

 

 
 

JILID III

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid III. De Tiang pasek an hun Tengerans en de Mohammedanen en hun Primbons.

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C.

Jumlah halaman: 374.

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini memuat berbagai hitungan dalam primbon. Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Di dalamnya diulas pula ramalan garis tangan, fisiognomi, dan lain sebagainya. Terdapat uraian mengenai tempat-tempat keramat, seperti gunung, sungai, makam dan lain sebagainya.

 

Sebagai contoh adalah uraian mengenai Gunung Sumbing:

 

“Goenoeng Soembing, Goenoeng Sindoro, Deze bergen worden door de Javanen Vereerd.  Deze vereering vloeit voort uit een legende, die vermeldt dat deze bergen vroeger menschen zijn geweest en wel broeders.” (halaman 9).

 

Terjemahan:

 

“Gunung Sumbing, Gunung Sindoro. Gunung-gunung ini dihormati oleh orang Jawa. Penghormatan ini berasal dari legenda yang meriwayatkan bahwa gunung-gunung ini dulunya adalah manusia yang saling bersaudara.”

 

Terdapat uraian mengenai tanda-tanda kuda yang baik. 

 

Firasat telinga berbunyi, muka terasa panas, dan lain sebagainya juga dibahas di dalamnya.

 

Yang menarik terdapat primbon khusus bagi merampok, yakni mencari saat yang baik dalam melancarkan aksinya (Primbon Ngetjoe, Ngampak, Membegal, dan Maling, Kerojok).

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

 
 

JILID V

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid V. De Primbons

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: Bandoeng, Fortuna, 1913

Jumlah halaman: 148 (ada beberapa halaman terakhir yang hilang).

Bahasa: Belanda dan Indonesia

Ini merupakan buku yang sangat unik, berupa kumpulan berbagai ramalan dan perhitungan dalam primbon yang pernah digunakan di pulau Jawa (mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur). Berikut ini adalah daftar isinya:

Buku ini memuat berbagai perhitungan, misalnya perhitungan mengenai naga tahun dan naga bulan. Ternyata terdapat perbedaan antara perhitungan arah naga bulan di Jawa Barat dan Tengah dengan di Jawa Timur. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di timur, jatingarang terletak di selatan, ridjal terletak di barat, dan sambang banger terletak di utara.

Di Jawa Timur:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di selatan, jatingarang terletak di barat, ridjal terletak di utara, dan sambang banger terletak di timur.

Perhitungan hari buruk pada masing-masing bulan, juga terdapat perbedaan. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Soera, hari Senin dan Selasa.

Di Jawa Timur:

Bulan Soera, hari Sabtu dan Minggu (Ngahat).

Terdapat pula berbagai hitungan mengenai perjalanan, pindah rumah, mencari pencuri, dan bahkan terdapat pula primbon-primbon untuk keperluan khusus, seperti primbon perang, perang sabil, dan perang bakat, primbon untuk penjahat (ngetjoe, gampak, membegal, dan maling kerojok), dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.