PENTINGNYA UPACARA TOLAK BALA

PENTINGNYA UPACARA TOLAK BALA

.

Ivan Taniputera.

3 Maret 2018.

.

Ini visi yang saya dapatkan pada tanggal 3 Maret 2018 sekitar pukul 02.15 dini hari. Disarankan agar melakukan upacara tolak bala sederhana. Sediakan sebuah pisang mas (jika memungkinkan, sesisir juga boleh. Tetapi satu saja boleh), segenggam beras, seikat alang-alang, tiga keping uang logam yang sama (disarankan Rp. 500,-), dan segelas kecil teh dan kopi. Jika memungkinkan boleh ditambahkan bubur warna merah dan putih yang biasa dipakai saat selamatan.

.

Semua perlengkapan itu ditaruh pada sebuah lapak atau piring. Letakkan di belakang atau dekat pintu utama rumah. Tetapi pada sisi DALAM rumah dan bukan luar rumah. Saat meletakkannya, katakan dalam hati, “Selamat, selamat, selamat.” Biarkan selama kurang lebih sehari.

.

Setelah itu, pisang boleh dimakan sendiri atau diberikan orang lain. Teh dan kopi boleh diminum atau lebih baik disiramkan di kebun serta bagian depan rumah. Beras boleh disimpan kembali di tempat beras atau ditaburkan depan rumah. Alang-alang boleh direbus dan diminum. Uang logam sebaiknya diberikan pada yang membutuhkan sebagai amal.

.

Sebagai catatan, jika tidak ada pisang mas, boleh juga gunakan pisang lain. Marilah kita berdoa memohon keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, bangsa, negara, dan seluruh dunia ini.

Advertisements

RITUAL CISWA (TOLAK BALA) DALAM PRAKTIKNYA

RITUAL CISWA (TOLAK BALA) DALAM PRAKTIKNYA

Ivan Taniputera

14 November 2012

.

Kali ini saya akan menguraikan mengenai praktik ritual ciswa atau tolak bala. Pada artikel ini, saya tidak akan menguraikan falsafahnya terlalu banyak, melainkan akan memaparkannya seolah-olah sebagai seorang pengamat yang baik saja. Terlebih dahulu saya akan menguraikan terlebih dahulu perlengkapan-perlengkapan yang digunakan. Pertama-tama adalah orang-orangan kertas, yang ditujukan sebagai pengganti tubuh kita. Pada orang-orangan kertas tersebut akan dikenakan pakaian lama kita.

 

Lalu terdapat pula semacam panggung yang memiliki empat gerbang. Masing-masing gerbang itu dijaga oleh malaikat kepala sapi dan muka kuda (牛頭馬面). Lalu dibagian tengahnya terdapat semacam sumur dan tangga-tanggaan. Pada dasar sumur terdapat orang-orangan dari kertas, yang juga melambangkan diri kita. Malaikat kepala sapi dan muka kuda yang berdiri di setiap gerbang empat penjuru tersebut dimaksudkan agar tidak ada kejahatan yang dapat menimpa kita. Segenap orang jahat akan menyingkir jauh dan tak dapat melaksanakan niatnya. Selanjutnya, uang-uangan yang digantungkan itu merupakan harapan agar kita hidup makmur.

 

Setelah berlangsungnya upacara doa dan persujudan, orang-orangan yang ada di dasar sumur pada panggung empat penjuru tadi diambil, dengan sebelumnya menyebutkan nama kita sendiri. Seolah-olah kita kita memanggil diri kita sendiri ke luar dari sumur. Orang-orangan kertas tadi kita ambil dan bawa menapaki anak tangga pada tangga-tanggaan. Lalu didudukkan pada tepi panggung. Artinya kita telah lepas dari segenap permasalahan.

 

Sesajian yang dipergunakan dalam persembahyangan biasanya adalah kue-kue, buah, dan masakan sayuranis. Sesudah upacara tolak bala selesai, maka segenap perlengkapan ritual tadi dibakar. Ini menandakan bahwa segenap harapan kita telah dikabulkan.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika dan lain-lain sebagainya silakan bergabung dengan:

https://www.facebook.com/groups/339499392807581/