TATA CARA SEMBAHYANG KING THI KONG (JING TIAN GONG 敬天公) ATAU SEMBAHYANG TUHAN ALLAH

TATA CARA SEMBAHYANG KING THI KONG (JING TIAN GONG 敬天公) ATAU SEMBAHYANG TUHAN ALLAH

.

Ivan Taniputera

4 Maret 2015

.

 
 
 

Meskipun sudah berlalu, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi mengenai tata cara sembahyang Jing Tian Gong (敬天公) atau dalam dialek Hokkian disebut King Thi Kong. Ada pula yang menyebutnya sebagai Sembahyang Tuhan Allah. 

 

CATATAN:

 

Sebutan “Sembahyang Tuhan Allah” di atas adalah salah satu sebutan umum di tengah masyarakat Tionghoa dan belum tentu menunjukkan adanya keterkaitan dengan salah satu agama yang diakui di Indonesia.

 

Sembahyang King Thi Kong diadakan pada tanggal 9 bulan pertama Imlek, atau 9 hari sesudah Tahun Baru Imlek. Ada yang mengatakan bahwa Angka 9 ini merupakan angka penutup yang sempurna dan menguntungkan. Jadi bulannya berangka 1 dan harinya berangka 9. 1 merupakan awal dan 9 merupakan akhir. Terlepas dari kebenaran hal ini, kita hendaknya menghormati segenap pendapat dan penafsiran. Bagaimanapun juga yang harus disadari, budaya bukanlah ilmu pasti. Dengan demikian, masih membuka serangkaian tafsir yang luas. Budaya dan seni adalah masalah memperkaya batin. Jadi kita tidak dapat menerapkan pandangan yang kaku dan kita anggap paling benar. Sesungguhnya hal semacam itu hanya memupuk ke”aku”an semata, sehingga menjauhkan kita dari kebahagiaan batin itu sendiri. 

 

Pertama-tama saya akan mengulas sesajian atau perlengkapan yang dipergunakan dalam sembahyang ini.

 

1. Lilin: melambangkan batin yang terang. Selain itu, lilin juga lurus, sehingga hidup kita harus lurus dan jangan berperilaku curang. Jumlah lilin sepasang.

2. Dupa: melambangkan keharuman perilaku. Aroma yang timbul juga dapat menenangkan batin. 

3. Air bersih: kita membersihkan diri dengan air. Jadi air melambangkan kebersihan baik jasmani maupun batin. 

4. Pisang: bahasa Hokkiannya adalah Cio. Melambangkan keselamatan

5. Jeruk: bahasa Hokkiannya adalah Kiet. Melambangkan kesejahteraan.

6. Delima: melambangkan kelimpahan, karena delima isinya banyak.

7. Manisan: manisan selain manis (sesuai namanya) juga lengket. Ini melambangkan agar kehidupan orang yang bersembahyang senantiasa manis dan langgeng. Selain itu, kita bertutur kata juga harus manis. Manis di sini bukan menjilat, namun jangan berkata kasar apalagi mencela. Jangan mengatakan sesuatu yang melukai perkataan orang lain. 

8. Wajik: Wajik sifatnya lengket dan tidak mudah dicerai beraikan. Ini melambangkan bahwa kita semua harus bersatu padu. Jangan saling membeda-bedakan. Dengan semangat kerja sama dan gotong royong maka negara akan maju.

9. Kue Ku: bentuknya menyerupai buah tho yang biasa dimakan para dewa. Oleh karenanya dipandang sebagai lambang panjang usia.

10. Tebu: Tebu tumbuhnya meninggi. Ini melambangkan agar semangat dan kebajikan kita semakin tinggi. Jangan sampai semangat kita semakin merosot. 

11. Ronde: bentuk bulat melambangkan kesempurnaan, karena ke mana pun kita pergi pasti akan kembali ke awal. Dengan demikian boleh juga ditafsirkan ke mana pun kita menapaki kehidupan, jangan lupa dengan Yang Awal atau dalam bahasa Jawa disebutSangkan Paraning Dumadi. Ronde berwarna merah lambang keberuntungan, sedangkan yang putih lambang kesucian hati.

12. Misoa: misoa mempunyai bentuk yang panjang. Artinya adalah panjang umur. Selain itu, dalam mengambil misoa kita perlu berhati-hati, karena sifatnya yang licin. Jadi dalam bertindak kita perlu berhati-hati.

13. Uang kertas: melambangkan kemakmuran dan juga ajaran bahwa kita harus rajin beramal.

14. Pustaka Suci: manusia hidup di dunia juga memerlukan bimbingan spiritual. Tentu saja pustaka suci di sini juga berarti buku-buku yang mengajarkan kebajikan dan cinta kasih pada sesama manusia.

 

Demikian sesaji yang diperlukan dalam sembahyang. 

 

Setelah bersembahyang seseorang berlutut tiga kali dan menyembah sembilan kali.

 

Semoga bermanfaat.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi:

 
 

 
Advertisements

TATA CARA SEMBAHYANG MALAM TAHUN BARU IMLEK 2565 (TAHUN JIAWU 甲午-MASEHI 2014) DAN MENGUNDANG DEWA REJEKI

TATA CARA SEMBAHYANG MALAM TAHUN BARU IMLEK 2565 (TAHUN JIAWU 甲午-MASEHI 2014)  DAN MENGUNDANG DEWA REJEKI
 
Ivan Taniputera
(ivan_taniputera@yahoo.com)
30 Januari 2014
Arah sembahyang pada tahun ini adalah menghadap timur. Sembahyang dapat dilakukan antara jam 23.00 hingga jam 01.00.

Tata cara sembahyang mengundang Caishen (財神 Dewa Rejeki) adalah juga dengan menghadap ke arah timur. Setelah selesai katakan, “Saya mengundang Caishen masuk ke rumah. Kemudian hio dibawa masuk ke dalam rumah dan ditancapkan ke tempat dupa yang telah disediakan sebelumnya atau pada altar dewa yang ada di rumah. Yang penting diingat waktu membawa hio ke dalam rumah jangan menengok ke belakang.

Semoga bermanfaat. Saya mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakannya. Semoga membawa damai, sejahtera, kebijaksanaan, kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kita semua.

TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK

TRADISI MENGUNJUNGI DELAPAN KELENTENG SETELAH TAHUN BARU IMLEK
Tradition of Visiting Eight Temples After Chinese New Year
 
Ivan Taniputera
(ivan_taniputera@yahoo.com)
17 Februari 2013
 
 
Di tengah-tengah keluarga saya terdapat tradisi mengunjungi delapan kelenteng setelah Tahun Baru Imlek. Adapun kunjungan itu sedapat mungkin dilakukan dalam sehari dan ritual ini boleh dilakukan hingga tanggal 15 bulan pertama Imlek (Capgomeh). Pada hari ini saya dalam sehari melakukan kunjungan ke delapan kelenteng/ vihara sebagai berikut:
 
 
1.VIHARA MAHA WELAS ASIH Vihara ini berada di kompleks Perumahan Tanah Mas atau tepatnya berada di Jalan Taman Hasanudin. Berikut ini adalah ruang kebaktian Vihara Maha Welas Asih:

Di vihara juga terdapat pratima yang mewakili keenam puluh dewa penguasa tahun berlaku (太歲 Taisui).

2.KELENTENG HAO SHENG GONG (昊聖宮)

Tidak jauh dari Vihara Maha Welas Asih terletak Kelenteng Hao Sheng Gong, yang bercorak Daoisme.

Tampak luarnya adalah sebagai berikut:

Dewata utama di kelenteng ini adalah 無極洪鈞聖祖 (Wújí hóngjūn shèngzǔ).

Penulis juga baru pertama kali mendengar nama dewa ini. Menurut keterangan penjaga kelenteng, Beliau adalah guru Laozi atau Taishang Laojun.

Berikut ini adalah pratima dewata-dewata Daois yang dipuja dalam kelenteng.

Selain itu, terdapat pula makhluk-makhluk suci yang berasal dari Buddhisme.

Kini penulis akan menampilkan interior bagian dalam kelenteng:

3.KELENTENG TAI SHANG GONG (太上宮)

Kunjungan dilanjutkan ke Kelenteng Tai Shang Guan yang juga bercorak Daoisme. Makhluk suci utamanya adalah Taishang Laojun yang merupakan gelar bagi Laozi.

Berikut ini adalah pratima Taishang Laojun:

Penulis juga mendapati pratima Tju Soe Nyo Nyo, yang juga baru pertama kali ini melihatnya.

Berikut ini adalah gambar pratima yang terdapat di bagian bawah altar Taishang Laojun.

Terdapat pula gambar Lima Jenderal pada salah satu altar di kelenteng ini.

Inilah adalah gambar-gambar dewa pintu di Kelenteng Tai Shang Gong.

4.KELENTENG JING DE MIAO (敬德廟)

Kelenteng ini terletak di Jalan Lingkar Tanjung Mas, yang juga masih masuk kompleks Perumahan Tanah Mas.

Dewata utama yang dipuja di kelenteng ini adalah Oet Ti Kiong, yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam Hikayat Sie Djin Koei.

Di bagian belakang kelenteng terdapat pula pratima keenam puluh dewa Taisui.

Kita dapat menyaksikan pula pratima Ayah dan Bunda Bumi.

Berikut ini adalah sekelumit kegiatan mempersiapkan persembahyangan yang sedianya akan diselenggarakan pada hari ini juga di Kelenteng Jing De Miao

5.KELENTENG GUAN SHENG MIAO (關聖廟)

Terletak di Jalan Kali Mas, yang masih juga masuk kompleks Perumahan Tanah Mas. Dewata utamanya adalah Kwan Kong (Guan Sheng Dijun)

Kita tidak dapat menyaksikan relief sumpah pengangkatan saudara antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei yang terkenal dari Kisah Sam Kok.

Berikut ini adalah ruang utama Kelenteng Guang Sheng Miao.

6.KELENTENG GRAJEN

Terletak di kawasan Grajen, Jl. MT. Haryono, Semarang. Dewata utamanya adalah Xuan Tian Shangdi.

Pada hari ini kelenteng sangat ramai dikunjungi umat.

Berikut ini adalah pratima-pratima dewa pintu di Kelenteng Grajen.


7.KELENTENG BUGANGAN

Terletak di Jl. Bugagan, Dr. Cipto, Semarang. Berikut ini adalah tampak depan kelenteng.

Meja sembahyangan yang telah dipersiapkan di Kelenteng Bugangan.

Perhatikan adanya tebu yang merupakan khas tradisi Hokkian.

8.VIHARA BUDDHAGAYA-WATUGONG-SEMARANG

Kunjungan ke Vihara Buddhagaya, Watugong, menutup rangkaian kunjungan hari ini. Tampak pagoda yang terkenal selaku ciri khas Vihara Buddhagaya.

Kita dapat menyaksikan pula persiapan sembahyangan di vihara ini.

Salah satu pratima Bodhisattva Avalokitesvara (Guanyin) di Vihara Buddhagaya, Watugong, Semarang.

Demikian semoga bermanfaat dan terima kasih telah mengikuti artikel ini sampai selesai.