BUKU BERUSIA SERATUS TAHUN MENGENAI BERBAGAI KEPERCAYAAN TRADISIONAL MELAYU TERHADAP HAL DAN MAKHLUK GAIB

BUKU BERUSIA SERATUS TAHUN MENGENAI BERBAGAI KEPERCAYAAN TRADISIONAL MELAYU TERHADAP HAL DAN MAKHLUK GAIB

.

Ivan Taniputera.

5 Maret 2017

.

 
 

Judul: Berbagai-bagai Kepertjajaan Orang Melajoe. Bagian Jang Pertama.

Penulis: M. T. Soetan Lembang ‘Alam

Penerbit: Boekhandel Visser & Co., Weltevreden, 1917.

Jumlah halaman: 78.

.

Buku ini berisikan berbagai kepercayaan tradisional Melayu terkait hal-hal dan makhluk gaib. Pada hal 25 dapat kita baca sebagai berikut:

.

“Dichabarkan, lagi, ada oppas-oppas (opas) minjak itoe, jang diganggoei oleh hantoe, waktoe mereka itoe djaga pada malam hari; djikalau oppas jang djaga itoe mengantoek, datanglah ganggoean dari pada hantoe itoe; terkadang-kadang kedengaran seperti toean-toean jang berdjalan tjepat: tap toep, tap toep boenji sepatoenja akan tetapi bila dilihat, soeatoe apapoen ta’tampak;- ada poela jang menampar atau melempar oppas djaga itoe, apabila ia mengantoek dalam djaganja.”

.

Selanjutnya pada halaman 27 dapat kita baca:

.

“Waktoe soedah djaoeh malam, kedengaranlah boenji, sebagai boenji orang jang mengeteoek-ngetoek minta boekakan pintoe; apabila pintoe soedah diboekakan dan dilihat siapa dia jang mengetoek-ngetoek pintoe itoe, soeatoe apapoen ta’ ada jang tampak,……”

.

Buku ini membahas pula pemecahan misteri bagi peristiwa-peristiwa gaib di atas.

.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

.

 
 

.

 
 

.

 

.

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang ingin mengetahui misteri berbagai hal gaib beserta pemecahannya.

.

Berminat kopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Advertisements

MENENTUKAN ARAH SEMBAHYANG TAHUN BARU IMLEK SETIAP TAHUNNYA

MENENTUKAN ARAH SEMBAHYANG TAHUN BARU IMLEK SETIAP TAHUNNYA.

.

Ivan Taniputera.

29 Januari 2017.

.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek banyak orang bertanya ke arah manakah meja sembahyang harus dihadapkan, karena memang setiap tahun arahnya berubah-ubah. Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan daftar arah hadap meja sembahyang Tahun Baru Imlek bagi setiap tahun hingga tahun 2060. Arah hadap didasari oleh arah kedatangan Dewa Rejeki setiap tahunnya.

.

 
 

Berikut ini adalah daftarnya:

2010 (Gengyin): Tenggara

2011 (Xinmao): Utara

2012 (Renchen): Selatan

2013 (Guisi): Barat

2014 (Jiawu): Selatan

2015 (Yiwei): Barat

2016 (Bingshen): Timur

2017 (Dingyou): Tenggara

2018 (Wuxu): Utara

2019 (Jihai): Selatan

2020 (Gengzi): Barat

2021 (Xinchou): Timur

2022 (Renyin): Tenggara

2023 (Guimao): Timur

2024 (Jiachen): Tenggara

2025 (Yisi): Utara

2026 (Bingwu): Selatan

2027 (Dingwei): Barat

2028 (Wushen): Timur

2029 (Jiyou): Tenggara

2030 (Gengxu): Utara

2031 (Xinhai): Selatan

2032 (Renzi): Barat

2033 (Guichou): Selatan

2034 (Jiayin): Barat

2035 (Yimao): Timur

2036 (Bingchen): Tenggara

2037 (Dingsi): Utara

2038 (Wuwu): Selatan

2039 (Jiwei): Barat

2040 (Gengshen): Timur

2041 (Xinyou): Tenggara

2042 (Renxu): Timur

2043 (Guihai): Tenggara

2044 (Jiazi): Utara

2045 (Yichou): Selatan

2046 (Bingyin): Barat

2047 (Dingmao): Timur

2048 (Wuchen): Tenggara

2049 (Jisi): Utara

2050 (Gengwu): Selatan

2051 (Xinwei): Barat

2052 (Renshen): Selatan

2053 (Guiyou): Barat

2054 (Jiaxu): Timur

2055 (Yihai): Tenggara

2056 (Bingzi): Barat

2057 (Dingchou): Selatan

2058 (Wuyin): Barat

2059 (Jimao): Timur

2060(Gengchen): Tenggara

.

Dengan demikian, kita dapat memperhatikan hal menarik sebagai berikut:

1) Dewa Rejeki tidak pernah datang dari arah Barat Laut, Barat Daya, dan Timur Laut.

2) Arah kedatangan Dewa Rejeki itu tersebar secara acak. Dalam kurun waktu 50 tahun, maka Dewa Rejeki:

  • Datang dari arah Barat sebanyak 12 kali.
  • Datang dari arah Selatan sebanyak 11 kali.
  • Datang dari arah Tenggara sebanyak 11 kali
  • Datang dari arah Timur sebanyak 10 kali.
  • Datang dari arah Utara sebanyak 7 kali.

Dewa Rejeki paling banyak datang dari arah barat.

3) Berikut ini adalah pola jeda tahunnya:

Barat: 4-5-7-5-2-5-7-5-2-3-2

Selatan: 2-5-7-5-2-5-7-5-2-5

Tenggara: 7-5-2-5-7-5-2-5-7-5

Timur: 5-2-5-7-5-2-5-7-5

Utara: 7-7-5-7-7-5

.

Pola ini sangat unik dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . .

.

 
 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

TAKDIR VERSUS CISWA: SEBUAH RENUNGAN DARI KISAH THO HWA LI

Ivan Taniputera

27 Februari 2013

.

Dalam perjalanan ke delapan kelenteng beberapa waktu yang lalu, saya menemukan buku kisah Tho Hwa Li buah karya Gan KH ini. Sebenarnya saya sudah pernah mendengar mengenai kisah Tho Hwa Li semenjak masih kecil dan edisi lama buku ini saya sudah punya, namun kini tidak tahu lagi di mana keberadaannya. Oleh karenanya, penemuan kembali buku ini di salah sebuah kelenteng yang saya kunjungi merupakan peristiwa berharga. Kisah-kisah dalam tradisi Tiongkok memang sarat makna dan filsafat pemikiran.

 
 
 

Secara umum, dalam buku tersebut ada hal-hal menarik, seperti asal muasal tradisi ritual pengantin yang masih dilaksanakan hingga hari ini dan takdir versus ciswa. Kita akan mengulasnya satu persatu.

 

1.TAKDIR VERSUS CISWA

 

Sebelum mengulas mengenai topik bahasan ini. Saya akan memaparkan latar belakang kisahnya secara singkat. Ciu Kong adalah seorang mantan pembesar di masa pemerintahan Kaisar Ciu Yu Ong (781 SM) dari dinasti Ciu (Mandarin: Chou). Karena kaisar ke-12 ini hanya gemar bersenang-senang saja bersama selirnya bernama Po Su, Ciu Kong lantas mengundurkan dirinya. Sebenarnya Ciu Kong ini bukanlah nama pembesar tersebut. Namanya tidak disebutkan dalam buku ini. Ciu Kong adalah gelar yang dianugerahkan oleh Kaisar Yu Ong, sewaktu pembesar tersebut mengundurkan dirinya guna pulang ke desa. Arti telar itu adalah “Sesepuh Marga Ciu.” (lihat halaman 3). Selain pemberian gelar kehormatan, Ciu Kong mendapatkan pula anugerah berupa pedang bernama Sian-cam-ho-cau (Bunuh Dulu Urusan Belakang). Ini menandakan bahwa pemegang pedang tersebut memiliki kekuasaan luar biasa.

Ciu Kong yang telah mengundurkan dirinya lantas membuka profesi sebagai juru ramal. Uniknya Ciu Kong akan memberikan ganti rugi yang besar jika ramalannya meleset (tiga ratus lima puluh tahil perak-halaman 6). Meskipun demikian, biaya meramalnya cukup rendah, yakni “tiga tahil setengah uang perak.” (halaman 5). Dalam sehari, ia hanya menerima tiga orang saja yang hendak diramal. Sebagai juru penerima tamu, Ciu Kong mengangkat mantan juru tulisnya bernama Peng Cian.

Ramalan Ciu Kong memang terbukti keakuratannya. Kendati demikian dua kali ramalan Ciu Kong meleset, yakni:

 

a.Putera seorang nenek bernama Li Kho-cwan (halaman 16) yang diramal akan meninggal. Berkat kias yang diberikan Tho Hwa Li, nyawanya berhasil diselamatkan. Tho Hwa Li adalah gadis sakti yang pandai menciptakan beraneka macam kias. Caranya adalah bersembahyang dengan tiga batang dupa saat sore hari, lalu mengambil bantal anaknya, menepuk tiga kali pada bantal disertai seruan keras memanggil anaknya. Singkat cerita, memang kias atau penangkal ini terbukti kemanjurannya.

 

b.Peng Cian sendiri diramalkan akan meninggal oleh Ciu Kong. Namun Tho Hwa Li berhasil menyelamatkannya, yakni menyuruh Peng Cian menanti kehadiran Delapan Dewa di sebuah kuil. Ternyata usia Peng Cian dapat ditambah 80 tahun.

 

Kegagalan ramalannya ini menggusarkan hati Ciu Kong yang merasa otorita-nya tertantang. Ia lalu mencari cara membunuh Tho Hwa Li yang akan kita uraikan belakangan.

 

Kini kita akan mendiskusikan terlebih dahulu makna kisah ini. Tentu saja sebuah kisah dapat dimakna berbeda-beda bagi masing-masing orang. Kendati demikian saya lebih cenderung memaknainya berdasarkan pertanyaan klasik “Apakah nasib dapat diubah?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang telah hadir semenjak zaman yang amat lampau. Sepanjang sejarahnya agama dan filsafat telah berupaya memberikan jawaban bagi hal ini, sehingga kita dapat menjumpai banyak teori tentangnya. Namun, semuanya itu akan tetap menjadi sebuah “hipotesa” yang tidak dapat kita buktikan kebenarannya. Mengapa? Karena kita tidak memiliki mesin waktu. Sebuah hipotesa baru akan terbukti jika sudah diuji dengan sebuah eksperimen. Jadi secara sederhana adalah sebagai berikut. Seorang melakukan tindakan A hingga akhirnya mendapatkan B. Namun kita tidak tahu, jika tidak melakukan A, apakah ia akan tetap mendapatkan B. Dalam kehidupan nyata, memang terdapat kasus-kasus di mana seseorang telah berupaya, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Sebaliknya, ada juga orang tidak berusaha, tetapi malah mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Karena kita tidak mampu mengujinya, pertanyaan apakah “nasib dapat diubah” akan tetap menjadi misteri umat manusia sampai ditemukannya mesin waktu; yakni satu-satunya alat yang dapat dipergunakan menguji berbagai kemungkinan pararel dalam kehidupan manusia. Untuk lebih jelasnya, pembaca dapat menonton film “Butterfly Effect.” Apakah ciswa itu benar dapat mengubah nasib? Pertanyaan ini juga mustahil dijawab. Namun kisah di atas mencerminkan pertanyaan klasik tersebut, yakni takdir versus ciswa.

 

2.RITUAL-RITUAL UPACARA PERNIKAHAN TIONGHOA

 

Demi membalaskan dendamnya pada Tho Hwa Li, Ciu Kong lantas melakukan suatu tindakan yang agak eksentrik. Dia hanya memiliki seorang puteri bernama Ciu He Lian, namun agar dapat “membunuh” Tho Hwa Li, ia lantas “menikahkan” puterinya itu dengan Tho Hwa Li. Tentu saja sebelumnya sang puteri akan dirias sebagai pengantin pria. Ciu Kong memilihkan hari paling buruk, yang disebut Thian pia jit. Itu merupakan hari paling buruk bagi pengantin wanita. Banyak bahaya yang menanti, sehingga akan mengancam nyawa sang mempelai wanita. Berikut ini adalah bahaya beserta penangkalnya.

 

a.Pada hari itu saat mempelai wanita keluar dari rumahnya sendiri, dua bintang jahat, yakni Thian-sat dan Thian sin, telah siap menghantamnya, sehingga pengantin wanita mendadak jatuh tersungkur dan meninggal seketika.

 

PENANGKAL: Tho Hwa Li bersembahyang pagi-pagi sebelum matahari terbit, guna mengundang kehadiran dewa Liok ting Thai-sin dan Liok tha Thai sin, yang bertugas menjaga keamanan langit, sehingga sanggup mengusir Thian-sat dan Thian-sin.

 

b.Saat mempelai wanita telah duduk dalam tandu, bintang Ceng-liong ce (Naga Hijau) dan Pek-hou ce (Macan Putih) telah siap mencabut nyawanya.

 

PENANGKAL: Ceng-liong ce paling takut dengan kilin, sedangkan Pek-hou ce takut dengan burung hong (funiks). Oleh karenanya, Tho Hwa Li menempelkan kertas merah bertuliskan warna emas, yang masing-masing berbunyi “KI LIN TO CU” dan “HONG HONG TO CU.” Artinya adalah “Kilin berada di sini” dan “Burung hong merah ada di sini.” Dengan demikian Naga Hijau dan Macan Putih kebur ketakutan.

 

c.Begitu tandu tiba di rumah mempelai pria, bintang Ceng-liong ce yang gagal membunuh pengantin wanita akan kembali beraksi, sehingga mempelai wanita bisa menemui ajalnya.

 

PENANGKAL: Melepaskan tiga batang anak panah, sehingga Ceng-liong ce lari ketakutan.

 

d.Begitu mempelai wanita memasuki rumah pengantin pria, bintang Thian Kau-ce (Kera Langit) telah siap mencekiknya.

 

PENANGKAL: Dengan menaburkan beras kuning, sehingga Kera Langit lari ketakutan. Beras kuning itu dipercaya mampu membutakan mata Kera Langit.

 

e.Bintang Ngo-kui-ce (Lima Setan) telah siap menanti di balik pintu rumah Ciu Kong dan siap menerjang serta menghabisi nyawa Tho Hwa Li.

 

PENANGKAL: Menggunakan niru sebagai payung yang telah digambari pat kwa. Dengan demikian, Lima Setan tidak berani mendekat dan menyingkir jauh-jauh.

 

f.Saat kedua mempelai duduk bersama di dalam kamar pengantin guna bersantap bersama, bintang Pek-hou ce akan datang lagi dan menghantam mempelai wanita sampai tewas.

 

PENANGKAL: Tidak ada penangkalnya, tetapi Tho Hwa Li tidak kehilangan akal. Ia pura-pura pusing dan berbaring di ranjang pengantin. Akibatnya hanya Ciu He Lian yang duduk sendirian di depan meja pengantin. Meskipun berdandan sebagai pengantin wanita, bintang Peh-hou ce tidak dapat ditipu. Ia lantas menghantam puteri Ciu Kong tersebut hingga tewas.

 

Dengan demikian, justru Ciu Kong yang kehilangan puterinya. Dendamnya pada Tho Hwa Li semakin bertambah.

 

Kisah di atas mencerminkan sebuah ajaran bahwa manusia hendaknya senantiasa berupaya memperbaiki keadaan. Meski benar bahwa kita tidak mengetahui apakah takdir dapat diubah atau tidak. Namun berusaha menciptakan sesuatu yang lebih baik adalah lebih baik ketimbang tidak berusaha sama sekali.

 

3.EPILOG

 

Ciu Kong mencari cara lain dalam membunuh Tho Hwa Li. Ia lantas mengetahui rahasia kelemahan Tho Hwa Li, yakni ranting pohon Tho tumbuh di halaman rumah Tho Hwa Li yang menjulur ke penjuru barat. Ciu Kong meminta potongan dahan tersebut pada Tho Wan Gwe, yakni ayah Tho Hwa Li, dengan alasan bahwa benda tersebut akan dipakai sebagai wahana penujuman. Benar saja setelah ranting pohon itu dipotong, kesehatan Tho Hwa Li semakin menurun dan akhirnya sakit parah. Sebelum meninggal, Tho Hwa Li berpesan pada Peng Cian, yang pernah ditolongnya, agar membenturkan peti jenazahnya saat hendak diangkut keluar dari rumah Ciu Kong. Permintaan ini dilaksanakan, dan ajaibnya Tho Hwa Li hidup kembali. Terjadi perang tanding dengan Ciu Kong. Ternyata Ciu Kong adalah jelmaan pedang dewa, sedangkan Tho Hwa Li adalah jelmaan sarungnya. Kedua pedang itu sebelumnya adalah milik Dewa Hian Thian Siang Tee (Siang Tee Kong) sewaktu Beliau masih bertapa di Bu-tong-san. Karena memperoleh Jit Gwat jing (sari murni matahari dan rembulan), akhirnya pedang beserta sarungnya berubah menjadi manusia. Saat tengah bertarung, keduanya lantas ditangkap oleh Dewa Hian Thian Siang Tee dan diubah kembali menjadi pedang dan sarungnya.Demikianlan akhir kisah menarik tersebut.

 

Epilog di atas nampaknya menandakan bahwa meskipun bertentangan, keduanya merupakan kedua hal saling melengkapi dalam tradisi Tionghoa, ibarat pedang beserta sarungnya. Pedang tanpa sarung juga tidak berguna dan bisa melukai sang pemilik pedang. Sarung saja tanpa pedang juga tidak berguna, karena tak dapat melindungi seseorang.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . .

.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

.

Ivan Taniputera.

25 November 2015

.

 

Artikel ini adalah hasil kunjungan ke Istana Mangkunegaran. Kita akan mempelajari salah satu kearifan lokal yang berharga. Pemandu menjelaskan pada saya mengenai makna tarian Bedaya yang dipentaskan saat penobatan raja. Jumlah penarinya adalah sembilan orang. Tujuan tarian adalah sebagai nasihat bagi raja baru. Ternyata angka sembilan itu melambangkan sembilan lubang pada tubuh manusia. Apakah sembilan lubang pada tubuh manusia itu?

.

Mata (dua lubang)

Hidung (dua lubang)

Telinga (dua lubang)

Mulut (satu lubang)

Dua lubang lagi di bawah

.

Raja dinasihatkan agar berhati-hati menggunakan sembilan lubang tersebut. Ternyata jika kita renungkan, banyak orang mengalami kejatuhan karena salah menggunakan lubang-lubang itu.

.

Sebagai contoh, seseorang yang salah menggunakan “lubang mata” menyaksikan hal-hal yang buruk dan menganggapnya sebagai kebaikan. Kehidupannya akan hancur sebagai akibatnya. Orang yang salah memandang hal buruk sebagai baik akan menghalalkan segala cara. Ia melihat harta yang bukan haknya dan timbul keinginan atau keserakahan untuk memilikinya. Dengan demikian, ia lantas terjatuh dalam tindak pidana korupsi. Ada juga orang gemar menonton film tidak senonoh, sehingga pikirannya kacau dan sering memikirkan yang bukan-bukan. Hidupnya kemudian terperosok pada kehancuran. Begitulah contoh-contoh bahaya yang timbul karena salah menggunakan dua “lubang” mata.

.

Orang salah menggunakan “lubang” telinga misalnya karena mendengarkan saran-saran atau bisikan tidak baik. Sebagai contoh, seseorang dibujuk untuk melakukan kejahatan bagi sesamanya. Jika ia mendengarkan bujukan tersebut, maka itulah sumber kejatuhannya.

.

Orang salah menggunakan “lubang” hidung, misalnya karena ia hanya gemar mengendus bebauan yang harum saja. Padahal kemungkinan sumber bebauan yang harum itu berpotensi mengakibatkan kanker. Terdapat parfum-parum yang terbuat dari bahan-bahan penyebab kanker. Jadi kita harus selektif pula terhadap bebauan.

.

Orang salah menggunakan “lubang” mulut, misalnya saat ia mengucapkan kebohongan dan penipuan. Itulah sumber kejatuhannya. Orang salah bicara juga dapat mengakibatkan ia terlibat perkara hukum. Mulut juga seyogianya tidak dipakai mengecewakan dan menyedihkan orang lain. Orang juga hendaknya menyantap makanan yang sehat. Karena makan berlebihan dan tidak sehat, seseorang dapat terkena penyakit kolestrol, diabetes, dan lain sebagainya.

.

Sementara itu, dua lubang di bawah juga hendaknya dipergunakan secara benar. Orang yang salah menggunakan dua lubang di bawah dapat terjerumus ke dalam perselingkuhan. Banyak politikus yang jatuh akibat skandal-skandal semacam itu.

.

Demikianlah kearifan lokal yang saya dapatkan saat mengunjungi Istana Mangkunegaran. Saya bagikan ini agar dapat menaburkan manfaat bagi kita semua. Kita hendaknya tidak meninggalkan kearifan lokal.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi:https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 November 2015

.

.

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil pembicaraan dengan seorang kawan. Ia menuturkan kisah menarik bahwa beberapa minggu sebelum terjadi gempa dashyat di Yogyakarta tahun 2006, warga di desanya diperintahkan menempelkan uang logam 100 Rupiah beserta rumput alang-alang di atas pintu rumah mereka. Selain itu, warga juga diperintahkan membuat kolak kolang kaling.

.

Pada mulanya, tiada yang mengetahui maknanya. Tetapi beberapa minggu kemudian terjadilah bencana gempa dashyat tersebut. Untungnya warga desa seluruhnya selamat, kendati mereka merasakan guncangan gempa dashyat.

.

Tradisi Jawa memang sarat dengan simbolisme atau perlambang. Setelah bencana tersebut, orang lantas menafsirkan bahwa uang logam 100 Rupiah itu melambangkan gempa bumi. Gambar gunungan di salah satu sisi uang logam mengingatkan pada pagelaran wayang kulit. Sebelum dalang menancapkan gunungan, maka ia akan mengucapkan, “Bumi gonjang ganjing….” atau artinya “Bumi bergoncang dashyat….”

.

Rumput alang-alang ditafsirkan sebagai “alang-alang” atau penghalang bagi bencana. Begitu pun juga kolak kolang-kaling dimaksudkan untuk “ngolang-ngalingi” atau menghalangi bencana.

.

Demikianlah bahasa perlambang dalam tradisi tolak bala (penolak bencana) dalam tradisi Jawa. Ternyata pada leluhur di zaman dahulu telah mempunyai kebijaksanaan yang tinggi pula.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

 
 

RITUAL CISWA (TOLAK BALA) DALAM PRAKTIKNYA

RITUAL CISWA (TOLAK BALA) DALAM PRAKTIKNYA

Ivan Taniputera

14 November 2012

.

Kali ini saya akan menguraikan mengenai praktik ritual ciswa atau tolak bala. Pada artikel ini, saya tidak akan menguraikan falsafahnya terlalu banyak, melainkan akan memaparkannya seolah-olah sebagai seorang pengamat yang baik saja. Terlebih dahulu saya akan menguraikan terlebih dahulu perlengkapan-perlengkapan yang digunakan. Pertama-tama adalah orang-orangan kertas, yang ditujukan sebagai pengganti tubuh kita. Pada orang-orangan kertas tersebut akan dikenakan pakaian lama kita.

 

Lalu terdapat pula semacam panggung yang memiliki empat gerbang. Masing-masing gerbang itu dijaga oleh malaikat kepala sapi dan muka kuda (牛頭馬面). Lalu dibagian tengahnya terdapat semacam sumur dan tangga-tanggaan. Pada dasar sumur terdapat orang-orangan dari kertas, yang juga melambangkan diri kita. Malaikat kepala sapi dan muka kuda yang berdiri di setiap gerbang empat penjuru tersebut dimaksudkan agar tidak ada kejahatan yang dapat menimpa kita. Segenap orang jahat akan menyingkir jauh dan tak dapat melaksanakan niatnya. Selanjutnya, uang-uangan yang digantungkan itu merupakan harapan agar kita hidup makmur.

 

Setelah berlangsungnya upacara doa dan persujudan, orang-orangan yang ada di dasar sumur pada panggung empat penjuru tadi diambil, dengan sebelumnya menyebutkan nama kita sendiri. Seolah-olah kita kita memanggil diri kita sendiri ke luar dari sumur. Orang-orangan kertas tadi kita ambil dan bawa menapaki anak tangga pada tangga-tanggaan. Lalu didudukkan pada tepi panggung. Artinya kita telah lepas dari segenap permasalahan.

 

Sesajian yang dipergunakan dalam persembahyangan biasanya adalah kue-kue, buah, dan masakan sayuranis. Sesudah upacara tolak bala selesai, maka segenap perlengkapan ritual tadi dibakar. Ini menandakan bahwa segenap harapan kita telah dikabulkan.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika dan lain-lain sebagainya silakan bergabung dengan:

https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG KAISAR LIE SIE BIN MENGUNJUNGI NERAKA: ASAL MUASAL TRADISI MEMBAKAR UANG KERTAS

BUKU SASTRA MELAYU TIONGHOA TENTANG KAISAR LIE SIE BIN MENGUNJUNGI NERAKA: ASAL MUASAL TRADISI MEMBAKAR UANG KERTAS

.

Ivan Taniputera

17 Juni 2015

.

 
 

Judul: Tjerita Keizer Lie Sie Bin Yoe Tee Hoe

Penulis: –

Penerbit: Electro-Drukk. Kho Tjeng Bie. & Co., Pintoe besar, Batavia, 1920

Jumlah halaman: 80

 

Buku ini mengisahkan hal-hal yang aneh dan gaib, yakni perjalanan Kaisar Lie Sie Bin ke neraka. Salah satu kisahnya meriwayatkan mengenai Kaisar Lie Sie Bin yang sewaktu di neraka meminjam uang emas dari gudang perbendaraan seseorang bernama Siang Liang. Padahal Siang Liang yang ketika itu masih hidup merupakan orang yang sangat miskin. Lalu bagaimana ia dapat mempunyai begitu banyak uang di alam baka? 

 

“Maka sekarang di tjeritaken Siang Liang memang ija ada satoe orang jang terlaloe miskin, soenggoe ija miskin tapi hatinja ada lempeng sekali, tiap-tiap hari ija ada pergi djoewal tauwhoe, kapan ada oentoengnja 100 tangtjie, separo ija boeat makan dan separonja ija beliin kertas mas dan kertas perak, saban hari tiada berentinja ija bakar itoe kertas sadja dan ija tiada poenja pikiran jang laen, kaloe ia poelang berdagang dapet kaoentoengan banjak atau sedikit ija makan minoem dengen segala soeka hati, kaloe soeda abis ija makan lantas ija pasang hio bersoedjoet jang betoel, bakar itoe kertas mas dan kertas perak, tandanja jang ija sanget aken hormatin pada Toapekong, sehari-hari pagi dan sore ija tiada bikin loepa, hatinja ingat sadja sama Toapekong….” (halaman 73).

 

Nampaknya kisah ini menjelaskan mengenai asal muasal persembahan uang-uangan kertas pada tradisi China. Selain itu, masih terdapat kisah-kisah lainnya. Adapun Kaisar Lie Shi Bin yang dimaksud di sini adalah Kaisar Tang Taizong dari dinasti Tang. 

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

.

 

 
 

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.