RAHASIA KEHIDUPAN: KITA ADALAH BAGIAN DARI SUATU FRAKTAL

RAHASIA KEHIDUPAN: KITA ADALAH BAGIAN DARI SUATU FRAKTAL.

.

Ivan Taniputera.

23 Februari 2019.
.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai rahasia penting kehidupan. Kita merupakan suatu fraktal yang merupakan bagian dari suatu keutuhan. Pembahasan ini sangat penting bagi mereka yang menekuni dunia metafisika dan spiritual. Untuk jelasnya, silakan perhatikan gambar di bawah ini.
.

.

Kita akan memotong-motong gambar tersebut dan menyusunnya kembali sebagai berikut.
.
.
Gambar itu kita potong menjadi 18 bagian, kemudian bagian paling ujung kiri, yang kita sebut bagian pertama, kita pisahkan dan selanjutnya kita letakkan pada bagian terpisah yang untuk mudahnya kita sebut bagian urutan ganjil. Bagian berikutnya atau bagian kedua kita taruh pada bagian yang berbeda. Untuk kemudahannya, kita sebut bagian urutan genap. Bagian ketiga, kita letakkan di samping bagian pertama, yakni di bagian urutan ganjil. Bagian keempat kita letakkan di samping bagian kedua, yakni di bagian urutan genap. Bagian kelima, kita letakkan di samping bagian ketiga, yakni di bagian urutan ganjil. Demikian seterusnya. Jika proses ini sudah selesai dilakukan, kita mendapatkan gambar dua sosok badut. Pada gambar yang belum dipotong-potong terdapat seorang badut saja; namun kita dapat memotong-motong dan menyusun ulang, sehingga mendapatkan dua gambar badut. Bagaimana jika proses ini kita ulangi lagi bagi gambar dua badut itu? Kita akan memutarnya 90 derajat dan memotong-motong serta menyusun ulang, seperti pada proses sebelumnya. Berikut ini adalah hasilnya.
.

.

Dari gambar 2 sosok badut itu, jika dipotong-potong dan susun ulang, kita dapatkan gambar 4 badut. Kita akan mengulanginya, tetapi dengan arah potong membentuk 90 derajat terhadap arah potong sebelumnya. Berikut ini adalah hasilnya.
.

.

Kita dapatkan gambar 8 sosok badut. Meskipun bentuknya sudah mulai terdistorsi, tetapi kita masih dapat mengenali kedelapan sosok tersebut. Kita ulangi prosesnya, dimana arah potong diputar 90 derajat dengan arah potong proses sebelumnya. Kita dapatkan hasil sebagai berikut.
.
.
Kita dapatkan 16 gambar sosok badut. Meski gambar-gambarnya makin terdistorsi, kita masih dapat mengenali adanya keenam belas sosok tersebut. Kita akan mengulanginya kembali. Berikut adalah hasilnya.
.

.

Nampak bahwa sosok yang dihasilkan semakin banyak, tetapi makin terdistorsi, sehingga sulit dikenali dan ditentukan jumlahnya.
.
Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa masing-masing sosok masih menyimpan informasi yang berasal dari gambar utuh pertama yang belum terbagi. Masing-masing sosok itu sama-sama merupakan bagian dari keutuhan. Tidak ada bagian yang bertambah maupun berkurang. Kita dapat mengatakan bahwa bagian suatu sosok terkait pula dengan bagian lainnya, yang sama-sama berasal dari gambar utuh sebelum terpotong-potong dan berkali-kali mengalami penyusunan ulang. Karena itulah, jika kita kaitkan dengan metafisika baik Barat maupun Timur, tidak mustahil mendapatkan informasi mengenai kehidupan seseorang melalui kedudukan benda langit saat ia dilahirkan (ilmu Astrologi) atau konfigurasi elemen pada tahun, bulan, hari, serta jam waktu kelahirannya (ilmu Bazi). Meskipun informasi itu kelihatannya terpisah tetapi tidak demikian halnya. Semuanya adalah bagian dari suatu keutuhan. Kepribadian seseorang terpetakan pula pada kedudukan benda langit saat ia dilahirkan. Ini adalah informasi-informasi yang terkait satu sama lain dan merupakan bagian suatu keutuhan (holistik).
.
Seringkali kita salah menyangka bahwa informasi-informasi itu merupakan sesuatu yang terpisah dan tidak terhubung satu sama lain. Ini adalah pandangan yang keliru. Semakin kita memecah-mecahnya, semakin pula sesuatu itu nampak terdistorsi. Realita ini diwakili secara jelas oleh gambar-gambar di atas. Semakin banyak gambar sosoknya, makin pula wujudnya terdistorsi, sehingga sulit dikenali lagi. Itulah sebabnya, kita perlu berhenti memecah-mecah realita. Kuncinya adalah memahami bahwa kita semua adalah bagian keutuhan dan perlu mengembalikan berbagai pengetahuan atau informasi yang sudah dipotong-potong serta disusun ulang itu pada keadaan awalnya berupa keutuhan nan tak terbagi-bagi. Barulah semuanya menjadi jelas. Tidak ada lagi yang terdistorsi. Wujudnya nampak jelas dan sempurna. Inilah yang menjadi tugas para penekun spiritual.
.
Pengetahuan mengenai rahasia fraktal kehidupan ini sangatlah penting. Sebagai praktisi metafisika, kita jadi mengetahui rahasia di balik ilmu-ilmu yang kita pelajari. Kita mulai sanggup memahami prinsip bekerjanya ilmu-ilmu seperti Astrologi dan Bazi. Sementara itu, para penekun spiritual akan mengetahui apakah tujuan utama spiritualisme. Kita runut ulang tahapan-tahapannya kembali pada keutuhan. Jangan sampai terbalik dan makin terpecah-pecah, sehingga distorsi makin parah dan begitu pula halnya dengan ketidak-jelasan beserta kebingungan.
.

.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silakan bagikan pada orang-orang yang Anda kasihi.
.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . .
.

.

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

POHON DAN BAYANGANNYA

POHON DAN BAYANGANNYA.

.

Ivan Taniputera.

17 Juli 2018.

.

 

.

Suatu kali saya sedang mengadakan perjalanan ke sebuah negeri antah berantah. Pemandu saya, Pak Marques menuturkan mengenai sebuah desa yang bernama Desa Kebijaksanaan. Di sana terdapat seorang lanjut usia, yang biasa dipanggil Pak Pengetahuan. Ia gemar menuturkan kisah-kisah kebijaksanaan yang unik pada para warga desa. Konon semenjak usia mudanya, Pak Pengetahuan sudah menjadi tukang cerita. Karena warga di desa itu tidak begitu menggemari gadget beserta teknologi modern lainnya, maka kisah-kisah tuturan Pak Pengetahuan merupakan sumber hiburan utama bagi mereka. Saya berniat mengunjungi desa tersebut, karena saya menggemari tujuan wisata yang lain dari yang lain. Pak Marques kemudian mengatur perjalanan ke sana. Pada kesempatan kali ini saya hanya menuturkan ulang saja apa yang saya alami di desa tersebut.

.

Singkat cerita keesokan harinya saya tiba di Desa Kebijaksanaan selewat tengah hari; yakni sekitar pukul 01.00 siang. Pemandangan alam di sana tidaklah mengecewakan. Kami lalu menuju ke tempat kediaman Pak Pengetahuan. Ternyata di sana telah berkumpul para warga desa yang siap mendengarkan kisah Pak Pengetahuan. Mereka sedang beristirahat sejenak dari pekerjaan di ladang. Memang, sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian sebagai peladang. Hasil utama desa mereka adalah jagung.

.

Siang itu, Pak Pengetahuan mengisahkan mengenai seseorang yang belum pernah melihat pohon. Tentu saja karena namanya sebuah kisah, maka kita janganlah terlalu mencoba mencernanya dengan logika, begitu pikir saya. Ia hanya mendengar penuturan teman-temannya bahwa pohon itu sangatlah indah. Ia lalu ingin melihat seperti apakah pohon itu. Orang itu, sebut saja namanya Si Pengelana, bertanya pada seorang profesor yang pandai, mengenai seperti apakah pohon itu. Profesor yang ditanya lalu menjelaskan secara panjang lebar mengenai pohon beserta ciri-cirinya. Setelah mendengar uraian sang profesor, ia lalu melangkah pergi dan mencari sesuatu dengan ciri-ciri seperti yang digambarkan profesor tersebut.

.

Saat berjalan, tiba-tiba mata Si Pengelana terpaku pada sebuah citra di tanah yang tak lain dan tak bukan adalah bayangan sebatang pohon. Ia berhenti sebentar dan mengamatinya. Ia lantas berkata, “Sungguh mirip sekali dengan apa yang digambarkan profesor yang kutanya tadi.” Tiba-tiba ia melompat penuh kegembiraan seraya berseru, “Oh inilah rupanya yang disebut pohon itu!” Si Pengelana terpaku dengan takjub. Ia merasa telah menemukan apa yang dicarinya. Demikianlah, Si Pengelana terus mematung di tempat tersebut dipenuhi luapan kegirangan batin luar biasa yang tak tergambarkan. Matanya terus mengamati citra di tanah tersebut. Entah berapa waktu telah berlalu.

.

Matahari semakin menggelincir ke arah barat dan malam pun tiba. Si Pengelana baru menyadari bahwa citra yang diamatinya penuh rasa takjub itu menghilang. Kegelapan menyelimuti tempat di sekitarnya. Tetapi yang lebih penting lagi adalah timbul perasaan sedih dan kehilangan yang luar biasa. Jika sebelumnya, ia merasakan kegembiraan meluap-luap; kini rasa sedih itu menjalari batinnya. Ke manakah perginya “pohon” yang dikaguminya itu. Karena hari telah menjadi gelap, Si Pengelana mengeluarkan korek dari saku bajunya. Ia menyalakan korek itu dan melihat ke sekeliling. Tiba-tiba dengan diterangi cahaya korek yang dinyalakannya, tidak jauh dari tempat tersebut, ia menyaksikan suatu sosok sedang berdiri dengan gagahnya. Ia mengamati sosok tersebut. Ternyata sosok itu justru jauh lebih mendekati gambaran mengenai pohon sebagaimana diuraikan sang profesor. Seluruh uraian sang profesor benar-benar bersesuaian dengan sosok tersebut. Bersesuaian secara sempurna tanpa ada yang terlewatkan.

.

Kegembiraan baru menjalari batin Si Pengelana. Kini ia tahu bahwa apa yang baru saja dilihatnya itu merupakan pohon sebenarnya. Bayangan sebuah pohon bisa menghilang sedangkan pohon yang sebenarnya tetap ada. Si Pengelana lalu memeluk pohon tersebut. Ia telah berjumpa dengan apa yang dicarinya.

.

Pak Pengetahuan mengakhiri kisahnya karena para warga desa hendak kembali ke ladang masing-masing. Para warga pun nampak puas dan bertepuk tangan.

.

Kisah ini bagi saya cukup menarik, tetapi saya sendiri tidak yakin dengan penafsiran saya terhadap makna filosofis cerita tersebut. Apakah para warga desa yang mendengarnya mengetahui makna filosofis tersebut? Entahlah. Apakah memang cerita itu hanya sekedar cerita saja tanpa mempunyai makna filosofis tertentu? Entahlah. Saya lalu mendekati Pak Pengetahuan dan menanyakan apakah makna kisah tersebut. Pak Pengetahuan hanya tersenyum dan berkata, “Temukanlah sendiri.”

.

“Apakah yang dimaksud dengan bayangan pohon itu?”

“Apakah yang dimaksud dengan pohon itu?”

“Siapakah sesungguhnya yang dimaksud dengan Si Pengelana?”

“Mengapa justru cahaya korek api yang kecil dapat menuntun Si Pengelana menemukan pohon sebenarnya?” “Mengapa malah bukan cahaya matahari?”

“Apakah yang dimaksud dengan cahaya korek api kecil pada kisah ini?”

.

Banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Apakah para pembaca mengetahui jawabannya? Apakah para pembaca ingin mengetahui jawabannya?

.

“Temukanlah sendiri.”

APAKAH TERDAPAT BAYANGAN BERUPA WUJUD TIGA DIMENSI? MARI PERLUAS WAWASAN ANDA MENUJU DIMENSI YANG LEBIH TINGGI

APAKAH TERDAPAT BAYANGAN BERUPA WUJUD TIGA DIMENSI? MARI PERLUAS WAWASAN ANDA MENUJU DIMENSI YANG LEBIH TINGGI

.

Ivan Taniputera.

1 Juli 2018

.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas topik yang agak berat. Umumnya, setiap orang akan menyatakan bahwa bayangan (shadow) itu bersifat dua dimensi. Agar jelas, sebelumnya perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud bayangan di sini adalah citra yang terbentuk karena terdapat penghalang dengan cahaya. Sebagai contoh adalah bayangan pohon di sebuah tembok atau dinding. Cahaya matahari terhalang pohon dan membentuk bayangan pohon tersebut di tembok atau dinding. Bayangan tersebut akan bersifat dua dimensi. Lalu adakah bayangan yang berupa tiga dimensi?

.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut silakan pahami terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut.

.

Sebuah obyek berdimensi 0 (yakni sebuah titik) tidak mengenal konsep atas-bawah; depan-belakang, dan kiri-kanan.

Sebuah obyek berdimensi 1 (yakni sebuah garis) tidak mengenal konsep atas-bawah dan depan-belakang.

Sebuah obyek berdimensi 2 (yakni sebuah bidang datar) tidak mengenal konsep atas dan bawah. Ia hanya mengenal sumbu x dan y saja.

Sebuah obyek berdimensi 3 (yakni sebuah bangun ruang) mengenal konsep atas-bawah; depan-belakang, dan kiri-kanan. Kita hidup dalam alam yang berdimensi tiga.

.

Misalkan terdapat makhluk yang hidup pada suatu dimensi, maka ia tidak akan memahami konsep sebagaimana hanya dikenal di dimensi lebih tinggi. Kita ambil contoh makhluk berdimensi dua (jika ada) tidak akan sanggup memahami konsep atas dan bawah. Bagi mereka ruang hidup mereka hanyalah kiri-kanan dan depan-belakang saja. Kita tidak akan sanggup menjelaskan konsep atas-bawah beserta segenap pemahaman mengenai ruang berdimensi tiga sebagaimana yang kita amati sebagai realita sehari-hari pada makhluk berdimensi dua. Mereka akan menganggap bahwa konsep atas-bawah itu tidak ada dan bahkan mungkin akan mulai mencerca kita sebagai penipu.

.

Begitu pula kita tidak akan sanggup membayangkan konsep-konsep yang berada di tataran dimensi lebih tinggi.

.

Kita akan kembali pada topik kita mengenai bayangan. Marilah kita bayangkan cahaya yang menyinari sebuah ruas garis (dimensi 1). Jika kita menyinarkan cahaya pada salah satu ujung, maka di sini lain akan terbentuk bayangan berupa sebuah titik. Bila kita berganti menyinarkan cahaya pada ujung satunya lagi, maka pada sisi lawannya terbentuk pula bayangan berupa sebuah titik. Makhluk berdimensi 0 akan memandangnya sebagai dua buah titik karena mereka tidak memahami konsep mengenai garis. Mereka tidak akan menyadari bahwa dua buah titik berbeda itu sesungguhnya merupakan bagian sebuah ruas garis yang sama.

.

Kita beralih pada dimensi 2. Kita ambil sebuah persegi sebagai contoh. Jika kita menyinarkan cahaya pada sisi-sisinya, maka pada penjuru lawannya akan terbentuk bayangan berupa garis yang berdimensi 1. Dengan demikian terdapat empat kemungkinan bayangan berupa garis. Jika terdapat makhluk yang hidup pada dimensi 1, mereka juga akan mengalami kesulitan dalam membayangkan bahwa keempat bayangan berupa garis yang nampak berbeda bagi mereka itu, sesungguhnya terbentuk dari sebuah persegi saja. Para makhluk yang hidup di tataran dimensi 1 tidak akan sanggup membayangkan mengenai persegi dan bangun datar dalam bentuk apa pun.

.

Kita akan naik pada dimensi 3. Kita ambil sebuah kubus sebagai contoh. Sebuah kubus mempunyai enam sisi. Jika kita menyinarkan cahaya pada masing-masing sisi, maka pada setiap penjuru lawannya akan terbentuk bayangan berupa persegi. Jadi, terdapat enam kemungkinan bayangan berupa persegi. Bila terdapat makhluk yang hidup di dimensi 2, mereka juga akan sulit membayangkan bahwa keenam persegi tersebut sesungguhnya merupakan bayangan sebuah kubus saja. Tidak ada satu pun bayangan itu yang eksis atau hadir terpisah dari kubus.

.

Logika ini dapat pula kita terapkan pada dimensi yang lebih tinggi. Tentu saja karena keterbatasan kita yang hidup di ranah dimensi 3, mustahil bagi kita membayangkan dimensi 4. Namun karena benda berdimensi 1 akan menghasilkan bayangan berdimensi 0; benda berdimensi 2 akan menghasilkan bayangan berdimensi 1; dan bayangan berdimensi 3 akan menghasilkan bayangan berdimensi 2; tidakkah sesuatu yang berdimensi 4 akan menghasilkan bayangan berdimensi 3? Hal ini dapat kita terapkan lebih lanjut pada dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

.

Kita juga mungkin akan mengalami kesulitan dalam membayangkan bahwa bayangan-bayangan berupa obyek tiga dimensi itu sesungguhnya terbentuk dari sebuah obyek berdimensi 4 saja.

 

Untuk jelasnya silakan perhatikan gambar di bawah ini.

.

 

 

.

Kita barangkali dapat memperluas hal ini pada ranah fenomena hantu. Banyak orang menyatakan pernah menyaksikan sosok-sosok bayangan hitam. Apakah sosok-sosok itu sesungguhnya merupakan bayangan dari sesuatu yang berdimensi lebih tinggi?

.

Terlepas dari semua itu, pelajaran yang dapat kita ambil adalah agar kita senantiasa memperluas wawasan pemahamahan kita. Semakin tinggi wawasan pemahaman kita, semakin banyak hal pula akan kita pahami.